Jurnalis Anak Negeri, Sang Pembentuk ‘Kesadaran Nasional’

Jurnalis Anak Negeri, Sang Pembentuk ‘Kesadaran Nasional’

Dari delapan penerbitan pada tahun 1890 menjadi 18 penerbitan di tahun 1905 dan melonjak dua kali lipat pada tahun 1910 menjadi 36 penerbitan.

Koran Sulindo – Sebagai pembentuk kesadaran ‘nasional’ kaum muda Hindia bergerak dari kota-kota seperti di Batavia, Bandung, Solo, Yogyakarta, Semarang dan seluruh Hindia.

Meski tak mengenal satu sama lain mereka berbagi pengalaman, gagasan dan asumsi tentang dunia, Hindia dan zaman mereka.

Historiografi menyebut istilah pergerakan nasional sebagai perjalanan ‘embrio bangsa’ menemukan ‘Indonesia’ yang sebelumnya telah hadir dalam pikiran dan gaya kaum muda dan segera memperoleh alat untuk mengungkapkan kesadaran nasionalnya.

Sementara ‘embrio bangsa’ belum berbentuk dan bernama itu, mereka tetaplah hanya menjadi sekadar bumiputra dan kaum muda. Alat utama kaum muda menunjukkan kesadaran nasional itu tak lain dan tak bukan adalah surat kabar bumiputra.

Pada dekade terakhir abad ke-19 dan awal dekade abad ke-20, khususnya setelah undang-undang pers yang baru mengganti sensor preventif menjadi represif, jumlah dan peredaran terbitan berkala berbahasa Melayu dan daerah segera meningkat pesat. Dari delapan penerbitan pada tahun 1890 menjadi 18 penerbitan di tahun 1905 dan melonjak dua kali lipat pada tahun 1910 menjadi 36 penerbitan.

Meski tak ada data statistik tentang peredarannya, peningkatan jumlah penerbitan itu bisa dilihat dari bukti bahwa barang cetakan yang dikirim melalui layanan pos meningkat menjadi 370 persen pada 1910 dibandingkan dengan jumlah pada tahun 1890.

Sementara kelompok yang pertama kali aktif dalam penerbitan adalah golongan Indo beberapa jurnalis terkemuka golongan ini di antaranya adalah H.C.O Clokener Brfousson dari Bintang Hindia, E. F Wiggers dari Bintang Bara, dan G. Francis dari Pemberita Betawi.

Menyusul kemudian di pertengahan dekade pertama abad ke-20, golongan Tionghoa mulai mendirikan rumah-rumah cetak dan menerbitkan koran dalam jumlah yang makin besar.

Pada tahun 1905 orang-orang Tionghoa menerbitkan satu koran di Jawa dan dalam dua tahun kemudian bertambah menjadi tujuh dan sembilan di tahun 1909 lalu melejit menjadi 15 penerbitan pada 1911.

Kegiatan penerbitan milik Tionghoa inilah yang menyebabkan pesatnya petumbuhan surat kabar atau koran pada paro kedua dekade 1900-an.

Bersama booming penerbitan ini, bumiputra terlibat aktif ambil bagian, pertama sebagai pegawai magang pada jurnalis Indo atau Tionghoa, lalu sebagai redaktur dan akhirnya sebagai penerbit surat kabar mereka sendiri.

Jurnalis pertama yang muncul dalam dekade pertama abad ke-20 adalah R.M Tirtoadiwinoto dan F.D.J Pangemanan dan R.M Toemenggoeng Koesoemo Oetojo yang di Batavia tampil sebagai hoofdredacteur dari Ilmoe Tani, Kabar Perniagaan, dan Pewarta Prijaji.

Di Solo R. Dirdjoatmodjo bertindang sebagai penyunting Djawi Kanda yang diterbitkan oleh Albert Rusche & Co sementara di Yogyakarta Dr Wahidin Soedirohoesodo menjadi redaktur jurnal berbahasa Jawa, Retnodhoemilah yang diterbitkan oleh firma H. Buning.

Mereka inilah yang di belakang hari diikuti oleh jurnalis-jurnalis yang lebih muda seperti R Tirtodanoedjo dan R. Mohammad Joesoef yang menjadi redaktur Sinar Djawa yang diterbitkan oleh Hong Thaij & Co.

Selain mereka berdua, Djodjosoediro juga tampil sebagai redaktur di Tjahaja Timoer yang diterbitkan oleh Kwee Khaij Khee di Malang sedangkan Abdoel Moeis di Bandung menjadi redaktur Pewarta Hindia yang diterbitkan oleh G. Kolff & co.

Tak hanya menulis di surat-surat kabar masing-masing jurnalis-jurnalis muda ini juga memberi komentar terhadap surat pembaca sekaligus bertindak sebagai penyunting. Mereka inilah yang disadari atau tidak sebenarnya memimpin ‘embrio’ bangsa dalam mengungkapkan solidaritas mereka dengan pembaca sebagai bumiputra sekaligus kaum muda.

Soal solidaritas inilah yang sejak awal sudah terlihat dengan benderang.

Ambil contoh misalnya dalam Pewarta Prijaji yang disunting Koesoemo Oetojo yang juga merupakan Bupati Ngawi ini yang terang-terang menyerukan persatuan di kalangan priyayi  dan memenuhi sebagian besar ruangannya dengan terjemahan dan penjelasan yang terperinci tentang anggaran, suplemen, dan keputusan hukum pemerintah dan segala hal yang berguna bagi priyayi pemerintah.

Koesoemo Oetojo inilah yang melalui Pewarta Prijaji menghasilkan sebuah perkumpulan yang terdiri atas pendukung, simpatisan, dan pelangan dengan lima belas cabang yang mencakup Jawa, Madura hingga Sumatra.

Di tahun-tahun awal, semua jurnalis pribumi ini bekerja pada penerbit Indo atau Tionghoa yang membuat mereka tak sepenuhnya bebas untuk tampil sebagai pemimpin ‘embrio bangsa’.

Kecenderungan itu diubah oleh R.M. Tirtoadhisoerjo yang telah menjadi wartawan sejak usia 21 tahun dan memimpin korannya sendiri Soenda Berita dengan bantuan keuangan yang dikucurkan Bupati Cianjur, R.A.A. Prawiradiredja.

Surat kabar Soenda Berita adalah koran pertama yang dibiayai, dikelola, disunting dan diterbitkan oleh pribumi.

Pada tahun 1907, Tirtoadhisoerjo kembali menerbitkan mingguan baru dengan nama Medan Prijaji dan setahun berikutnya bersama Haji Mohammad Arsad dan Pangeran Oesma mendirikan perusahaan terbatas pertama milik bumiputra N.V. Javaansche Boekhandelen Drukkerij ‘Medan Prijaji’.

Lahir sebagai anak dari Bupati Bodjonegoro pada tahun 1880, Tirtoadhisoerjo menolak masuk Pangreh Pradja dan memilih sekolah di Stovia selama beberapa tahun dan bergabung dengan Pembrita Betawi sebagai redaktur pada tahun 1906.

Ia mendirikan Sarekat Prijaji yang bertujuan memajukan pendidikan bagi anak-anak priyayi dan bangsawan pribumi lainnya melalui penyaluran beasiswa.

Sementara surat kabar Medan Prijaji semula terbit sebagai mingguan, dan berubah menjadi harian di tahun-tahun berikutnya, Tirtoadhisoerjo menciptakan gaya jurnalistik tersendiri dalam terbitannya itu. Tak jarang tulisan itu berupa gaya tantang menantang yang militan seperti dalam artikel Tirto versus Simon.

Koran itu segera menjadi salah satu yang terkemuka dengan 2.000 pelanggan di awal 1911 sekaligus melepaskan diri dari forum priyayi.

Di tangan Tirtoadhisoerjo itulah ‘embrio bangsa’ yang semula masih samar-samar dan tak jelas bentuknya dapat segera dibayangkan batas-batasnya. Tirtoadhisoerjo dengan kalimatnya sendiri menyebut sebagai ‘Anaknegeri’ Hindia Belanda. [TGU]