Pahlawan Kolam Renang

Arena kolam renang adalah arena yang sulit bagi atlet Indonesia untuk bisa meraih medali emas, karena harus berhadapan dengan atlet-atlet Jepang.  Tiga cabang yang dipertandingkan di kolam renang adalah renang, loncat indah, dan polo air.

Di luar dugaan, seorang remaja putri yang waktu itu masih berusia 18 tahun bernama Lanny Gumulya (Lanny Goei) meraih medali emas untuk  nomor papan tiga meter (springboard). Kemenangannya dramatis, karena yang diunggulkan dan difavoritkan akan menjadi juara adalah dua atlet Jepang, Sakuko Kadokura dan Sakoko Tomoe.

Pada loncatan pertama, Lanny hanya meraih angka 8,40, jauh di bawah Sakoko yang mendapat 9,12. Namun, nilai Lanny di atas Kayoko yang 8,32. Pada loncatan kedua Sakoko meraih 10.03 dan Lanny 9.44.

Para penonton pun menahan napas saat loncatan ketiga dilakukan oleh para atlet. Mereka bersorak ketika tubuh Lanny jatuh disambut air dan meraih nilai 12,54. Pesaingnya Sakoko 10,26.  Seterusnya Lanny unggul hinga loncatan kedelapan dan meraih nilai total 111,12,  unggul di atas Sakoko yang 107,45 dan Kayoko yang 96,50.

Lanny juga meraih medlai perunggu pada nomor papan 10 meter, di bawah Kayoko Tamoe dan Sakuko Kodokura. Indonesia meraih 1 emas dan 2 perunggu pada cabang ini. Perunggu kedua diraih oleh Billy Gumulya, yang masih saudara kandung Lanny.

Dalam Suluh Indonesia edisi 25 Juli 1962, pelatih loncat indah Indonesia, Gong Yang Sing, mengatakan loncat indah merupakan cabang olahraga yang  baru dikenal Indonesia.

Indonesia hanya menyiapkan dua peloncat indah putri, yakni Lanny Gumulya (Lanny Goei) dan Miem Braja.Putranya tiga: E. Sulaiman, Billy Gumulya (Goei Bee Ling), dan Santoso. Mereka disiapkan selama 18 bulan.

Dalam cabang olahraga renang, Indonesia berhadapan dengan supremasi atlet Jepang dan hanya mampu meraih 3 medali perak dan 6 perunggu.  Yang cukup menonjol adalah nama Irish Tobing.

Pada nomor 100 meter gaya dada putri, Irish meraih perak, dengan catatan waktu 1 menit  24,5 detik. Peraih emasnya perenang Jepang, Noriko Yamamoto, yang mencatat 1 menit 23,9 detik.

Irish juga meraih perunggu pada nomor gaya dada putri 200 meter, dengan catatan waktu 3 menit 5,7 detik, di bawah dua atlet Jepang.

Dalam nomor tim, yaitu pada nomor 4 x100 meter estafet gaya berganti putri, Indonesia meraih perak. Perenang Indonesia terdiri dari Oey Lian Nio, Irish Tobing, Lie Lan Hoa, dan Eni Nuraeni. Dengan demikian, total Irish meraih 2 perak dan 1 perunggu.

Perak  juga disabet regu estafet putra pada nomor gaya berganti  4 x 100 meter. Perenang putra terdiri dari Kemal Lubis, Abdul Rasjid, Sudarman, dan A. Dimjati.

Untuk cabang renang Indonesia hanya meraih 3 medali perak dan 6 perunggu dan berada pada posisi ketiga. Jepang mendapatkan 19 medali emas, 16 perak, dan 3 perunggu, disusul Burma 2 emas dan 1 perunggu.

Asian Games 1962 juga merupakan debutan seorang perempuan bernama Lely  Kuntratih, yang setelah menikah dikenal sebagai Lely Sampurno. Ia meraih medali perak pada nomor free pistol 50 meter cabang menembak. Dia bersaing dengan atlet putra. Kehadirannya waktu itu sempat mendapat protes dari negara lain, karena waktu itu belum ada pemisahan antara atlet putra dan putri pada cabang ini. Indonesia meraih 2 perak dan 1 perunggu di canag ini. [Irvan Sjafari]