Tanggal 2 Januari 1492 menjadi penanda salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Eropa dan dunia Islam. Pada hari itulah Granada, kota terakhir kekuasaan Muslim di Semenanjung Iberia, resmi menyerah kepada pasukan gabungan Kerajaan Aragon dan Castile yang baru saja bersatu sebagai Spanyol.
Penyerahan ini mengakhiri pengepungan panjang yang berlangsung selama berbulan-bulan dan sekaligus menutup babak hampir delapan abad kekuasaan Islam di Spanyol.
Pertempuran Granada bukanlah kampanye militer berskala besar jika dibandingkan dengan perang-perang lain pada masanya. Namun dampaknya jauh melampaui ukuran medan tempurnya.
Melansir laman New World Encyclopedia, Granada merupakan pos terdepan terakhir kekuasaan Moor, dan jatuhnya kota ini menandai berakhirnya Reconquista, serangkaian upaya panjang kerajaan-kerajaan Kristen abad pertengahan untuk merebut kembali wilayah Iberia dari kekuasaan Muslim.
Di jantung kota Granada berdiri Alhambra, istana megah yang menjadi permata arsitektur Islam. Kehilangannya diratapi luas di dunia Muslim sebagai simbol runtuhnya sebuah peradaban yang pernah berjaya.
Untuk memahami arti penting kejatuhan Granada, perlu menoleh jauh ke belakang, ke awal kedatangan bangsa Moor di Spanyol. Pada tahun 711 M, pasukan Muslim dari Afrika Utara di bawah pimpinan Tariq ibn Ziyad menyeberangi Selat Gibraltar dan menginvasi Semenanjung Iberia.
Dalam waktu sekitar delapan tahun, sebagian besar wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Islam. Upaya ekspansi lebih jauh ke Eropa Barat akhirnya terhenti setelah pasukan Moor dikalahkan oleh Charles Martel dalam Pertempuran Tours pada tahun 732 M.
Sejak itu, bangsa Moor memerintah hampir seluruh Iberia, kecuali wilayah barat laut seperti Asturias tempat mereka terhenti dalam Pertempuran Covadonga serta kawasan Pegunungan Pyrenees yang sebagian besar dihuni orang Basque.
Dari sudut pandang Eropa Kristen, invasi Moor kerap dipandang sebagai agresi semata, bagian dari ekspansi dunia Islam yang diyakini bertujuan menundukkan dunia di bawah hukum ilahi Islam.
Namun realitas sejarah jauh lebih kompleks. Raja Visigoth terakhir, Roderic, disebut telah memperkosa putri Count Julian. Peristiwa ini mendorong Julian untuk diam-diam mendekati bangsa Moor dan menjanjikan dukungan jika mereka menyerbu Spanyol. Selain itu, penasihat Yahudi juga ikut berperan dalam pasukan penyerang.
Sejumlah wilayah bahkan diperoleh secara damai melalui perjanjian yang melibatkan kerja sama antara penguasa Muslim dengan administrator serta penduduk setempat. Salah satu contoh penting adalah Perjanjian Muslim–Kristen tahun 713, yang menjamin perlindungan dan kebebasan beragama bagi penguasa Tudmir dan rakyatnya sebagai imbalan upeti dan kesetiaan kepada Sultan.
Di bawah Kesultanan Umayyah Andalusia (756–929 M) dan kemudian Kekhalifahan Córdoba (929–1031 M), wilayah Spanyol Moor berkembang menjadi salah satu pusat peradaban paling maju di Eropa. Andalusia menjadi saingan Kekhalifahan Abbasiyah dan bahkan ditantang oleh Fatimiyah, tetapi justru menunjukkan contoh masyarakat Islam yang subur dalam ilmu pengetahuan dan pertukaran budaya.
Akademi-akademi di Iberia Moor dikenal sebagai pusat keunggulan ilmiah terkemuka dan menarik para sarjana dari Universitas Paris, Oxford, dan berbagai tempat lain.
Kecanggihan kota-kota Moor sungguh mencengangkan untuk ukuran Eropa abad pertengahan. Córdoba, ibu kota kekhalifahan, memiliki ratusan masjid, pemandian umum, sekitar 80.000 toko, rumah-rumah dengan sistem pendinginan, penerangan jalan, taman-taman yang tertata indah, serta perpustakaan terbesar di dunia saat itu dengan sekitar 400.000 volume, sebuah jumlah yang melampaui seluruh perpustakaan Eropa.
Pada puncak kejayaannya, Córdoba bukan hanya salah satu ibu kota utama Eropa, tetapi juga mungkin kota paling kosmopolitan pada masanya. Warisan arsitektur Spanyol Moor hingga kini masih memikat dunia, mulai dari Masjid Agung Córdoba yang dibangun sejak 784, Giralda di Sevilla pada 1183, hingga Alhambra di Granada yang pembangunan strukturnya dimulai pada 1238.
Kehidupan sosial di Andalusia Muslim sering dirujuk dengan istilah convivencia, yakni hidup berdampingan antara Muslim, Kristen, dan Yahudi. Meski perlakuan penguasa Muslim tidak selalu seragam dan ada masa-masa penganiayaan, terutama di bawah Dinasti Almohad sejak 1145 M dalam rentang waktu yang panjang, umat Kristen dan Yahudi tidak hanya ditoleransi, tetapi turut berperan aktif dalam kehidupan masyarakat.
Perkawinan campur bukan hal asing. Semua komunitas belajar bersama di akademi. Karya-karya Arab, yang sebagian besar merupakan terjemahan dari teks Yunani, diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Latin. Andalusia menjadi tempat berkumpulnya sejumlah sarjana Kristen dan Yahudi terbesar pada zamannya.
Sejarawan María Rosa Menocal menggambarkan masyarakat ini sebagai ruang di mana “Yahudi, Kristen, dan Muslim hidup berdampingan dan, terlepas dari perbedaan mereka yang tak terpecahkan dan permusuhan yang terus-menerus, memelihara budaya toleransi yang kompleks.”
Dalam iklim ini, orang Yahudi yang sangat terarabkan menemukan kembali dan membangun ulang bahasa Ibrani, sementara banyak orang Kristen mengadopsi gaya intelektual, filsafat, hingga arsitektur Arab.
Namun, keseimbangan rapuh itu perlahan runtuh seiring menguatnya gerakan penaklukan kembali oleh kerajaan-kerajaan Kristen. Upaya bersama ini mulai memecah wilayah Muslim ketika kota-kota satu per satu jatuh. Barbastro direbut pada 1064, Toledo pada 1085.
Kejatuhan Toledo melahirkan gagasan “perang salib” untuk merebut Yerusalem, yang menginspirasi Perang Salib Pertama satu dekade kemudian. Meski secara teknis para penakluk Spanyol bukan tentara salib, legenda dan narasi seputar Reconquista seperti Nyanyian Roland dan kisah El Cid yang menggambarkan mereka dalam bingkai serupa.
Pada tahun 1212, koalisi raja-raja Kristen di bawah pimpinan Alfonso VIII dari Kastilia berhasil mengusir umat Muslim dari Iberia Tengah. Córdoba jatuh pada 1236, disusul Sevilla pada 1248. Setelah itu, kehadiran Muslim menyusut menjadi kantong-kantong kecil yang dikenal sebagai taifa, dengan Granada sebagai yang paling penting dan terakhir bertahan.
Sejak musim semi 1491, Granada menjadi satu-satunya sisa negara Moor di Spanyol. Pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella mengepung kota bertembok tersebut tanpa henti. Sultan Boabdil, penguasa terakhir Granada, berupaya mencari bantuan dari Dinasti Marinid di Maroko.
Ia bahkan menegosiasikan gencatan senjata selama empat bulan dengan pihak Spanyol, dengan janji akan menyerah jika bantuan tidak datang hingga masa gencatan berakhir. Bantuan itu tak pernah tiba. Pada tanggal yang telah disepakati, Granada pun menyerah.
Pada 2 Januari 1492, Boabdil menyerahkan kunci kota kepada Ferdinand. Konon, ketika ia meninggalkan Granada, ibunya menegurnya dengan kata-kata pedih: “Kau pantas, anakku, menangis seperti perempuan untuk sesuatu yang tidak bisa kau pertahankan seperti laki-laki.”
Bagi banyak orang Kristen Eropa, jatuhnya Granada dipandang sebagai penebusan atas kekalahan besar dunia Kristen ketika Konstantinopel direbut Turki Utsmani pada 1453. Namun konsekuensi kejatuhan Granada jauh lebih luas. Peristiwa ini diikuti oleh pengusiran besar-besaran orang Yahudi dan Muslim dari Spanyol.
Sebagian memang bertahan dengan memeluk agama Kristen, tetapi banyak di antara mereka tetap menjalankan keyakinan lama secara diam-diam dikenal sebagai moriscos bagi Muslim dan marranos bagi Yahudi. Meski ada yang tulus dalam pertobatan, kecurigaan tak pernah sirna.
Inkuisisi Spanyol mengawasi, menginterogasi, dan menghukum mereka. Pada tahun 1609, bahkan keturunan para mualaf Kristen ini pun diusir, menandai berakhirnya masyarakat multikultural yang selama berabad-abad menyaksikan interaksi positif antara tiga agama besar.
Kejatuhan Granada juga menjadi faktor pendorong ekspansi Spanyol dan Portugis ke luar negeri. Rasa kemenangan dan superioritas budaya serta agama memengaruhi cara mereka memandang dunia baru yang segera mereka jelajahi.
Pada tahun yang sama dengan kekalahan Granada, Christopher Columbus berlayar menuju Dunia Baru. Sikap ini kemudian membentuk hubungan kolonial yang sarat dominasi terhadap budaya dan keyakinan yang mereka temui.
Kini, penemuan kembali warisan Spanyol Moor sebelum 1492—yang dalam bahasa Spanyol disebut convivencia—sering dipandang sebagai sumber inspirasi. Pengalaman hidup berdampingan antara Muslim, Kristen, dan Yahudi di Andalusia menawarkan petunjuk berharga tentang bagaimana masyarakat multikultural modern dapat menghadapi tantangan pluralisme.
Jatuhnya Granada bukan sekadar kisah penaklukan dan kekalahan, melainkan juga pengingat tentang rapuhnya toleransi, sekaligus potensi besar yang lahir ketika perbedaan dirawat dalam ruang kebersamaan. [UN]