Pada dini hari tanggal 2 Agustus 1990, ketenangan gurun Kuwait pecah oleh deru tank dan kendaraan lapis baja. Dari utara, sekitar 100.000 tentara Irak melintasi perbatasan, memasuki wilayah yang hanya berjarak beberapa jam dari ibu kota Kuwait City.
Dalam tempo dua hari, negara kecil kaya minyak itu luluh lantak. Dunia menyaksikan awal dari salah satu konflik paling menentukan di Timur Tengah yaitu invasi Irak ke Kuwait, yang kemudian memicu Perang Teluk I.
Ekonomi Retak, Ambisi Membuncah
Invasi ini tidak datang dari ruang hampa. Irak, di bawah kepemimpinan Saddam Hussein, baru saja menyelesaikan perang delapan tahun melawan Iran yang telah menguras cadangan devisa dan melumpuhkan ekonominya.
Negara itu tercatat memiliki utang luar negeri besar, sebagian besarnya kepada tetangga Arab seperti Kuwait dan Arab Saudi.
Dalam pandangan Saddam, Kuwait bukan hanya tetangga yang kaya raya, tetapi juga dianggap sebagai bagian sejarah yang seharusnya menjadi wilayah Irak.
Ia menuding Kuwait melampaui batas produksi minyak yang ditetapkan OPEC, sehingga memicu anjloknya harga minyak dunia dan memperparah krisis ekonomi Irak. Tuduhan pencurian minyak dari ladang Rumaila di perbatasan semakin memperkeruh situasi.
Tidak cukup dengan retorika, Irak mengajukan tuntutan kompensasi sebesar US$2,4 miliar, yang ditolak mentah-mentah oleh Kuwait. Ketegangan berubah menjadi serbuan militer.
Pada 2 Agustus 1990, sekitar pukul 02.00 dini hari, pasukan Irak menyerbu dari utara. Tak butuh waktu lama, pertahanan Kuwait yang hanya terdiri dari sekitar 16.000 personel runtuh di hadapan kekuatan tempur yang masif.
Sheikh Jaber al-Ahmad Al-Sabah, Emir Kuwait, melarikan diri ke Arab Saudi. Dalam waktu 48 jam, Irak menguasai seluruh wilayah negara itu.
Pada 8 Agustus, Irak secara sepihak menganeksasi Kuwait sebagai provinsi ke-19-nya. Dunia pun geger.
Tak lama setelah invasi, Dewan Keamanan PBB bertindak cepat. Embargo ekonomi, militer, dan keuangan dijatuhkan terhadap Irak. Desakan agar pasukan ditarik dari Kuwait tidak digubris Saddam.
Namun, yang paling mengejutkan adalah terbentuknya koalisi internasional terbesar sejak Perang Dunia II. Dipimpin Amerika Serikat dan didukung oleh Inggris, Prancis, negara-negara Arab, hingga Uni Soviet, koalisi mengirimkan lebih dari 900.000 personel ke Arab Saudi dalam operasi yang disebut Desert Shield. Tujuannya mengusir Irak dari Kuwait.
Operasi Badai Gurun
Pada 17 Januari 1991, dunia menyaksikan gelombang baru dalam peperangan modern. Langit Irak dan Kuwait dihujani rudal-rudal presisi tinggi. Operasi Badai Gurun (Desert Storm) resmi dimulai.
Tak cukup dengan serangan udara, pada 24 Februari, pasukan darat digerakkan. Dalam tempo empat hari, pertahanan Irak dilumpuhkan. Kuwait berhasil dibebaskan pada 27 Februari, dan keesokan harinya Irak menyatakan menerima gencatan senjata. Perang yang dimulai dengan serbuan dua hari berakhir dalam 43 hari operasi militer gabungan.
Meski hanya berlangsung beberapa bulan, invasi Irak ke Kuwait meninggalkan luka dalam yang tak mudah pulih. Sekitar 750 sumur minyak dibakar, menciptakan bencana ekologis besar. Infrastruktur hancur, aset negara dijarah, dan ribuan warga sipil menjadi korban. Jutaan orang mengungsi, tidak hanya dari Kuwait, tetapi juga dari Irak yang kini dicekik sanksi internasional.
Secara politik, posisi Irak di panggung internasional merosot tajam. Saddam Hussein bertahan, namun dunia telah berubah. Perpecahan mulai tampak di dunia Arab, antara yang mendukung koalisi dan yang mengecam aksi militer.
Dan pada akhirnya, krisis ini menjadi jalan pembuka bagi konflik yang lebih besar yaitu invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003, yang menggulingkan Saddam dari kekuasaan dan membuka babak baru dalam sejarah Timur Tengah.
Invasi Irak ke Kuwait bukan hanya soal konflik dua negara, tetapi cermin dari dinamika politik, ekonomi, dan kekuasaan global. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kerakusan, jika dibarengi ambisi dan ketidakstabilan, bisa menyalakan api yang membakar lebih dari satu bangsa. [UN]

