Setiap hari, kita bergantung pada informasi cuaca untuk berbagai keperluan, mulai dari memilih waktu untuk sebuah acara, hingga merencanakan perjalanan. Namun, di balik laporan cuaca yang kita terima setiap hari, ada peran besar ilmu meteorologi yang membantu kita memahami dan menghadapi fenomena alam. Tak heran, dunia pun menetapkan satu hari khusus untuk merayakan peran penting meteorologi dalam kehidupan manusia. Setiap tanggal 23 Maret, kita memperingati Hari Meteorologi Dunia sebagai bentuk apresiasi terhadap ilmu ini serta kesadaran akan dampaknya dalam mitigasi bencana dan perubahan iklim. Lalu, bagaimana sejarah peringatan ini dan mengapa penting untuk kita perhatikan? Berikut penjelasannya!
Sejarah Berdirinya WMO
Setiap tanggal 23 Maret, dunia memperingati Hari Meteorologi Dunia. Peringatan ini bertepatan dengan hari berdirinya Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO), yang memiliki peran penting dalam pengelolaan data cuaca, iklim, dan hidrologi secara global.
Mengutip laman resmi WMI, Organisasi Meteorologi Dunia berawal dari The International Meteorological Association (IMO), yang didirikan pada tahun 1873 sebagai organisasi non-pemerintah untuk pertukaran informasi cuaca antarnegara. Pada 23 Maret 1950, IMO resmi berubah menjadi WMO agar dapat merespons tantangan meteorologi internasional dengan lebih efektif. Setahun kemudian, pada 1951, WMO diakui sebagai badan khusus di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menandai era baru dalam kerja sama internasional di bidang meteorologi, hidrologi, dan geofisika.
Peringatan Hari Meteorologi Dunia pertama kali dilaksanakan pada tahun 1961 dan terus dirayakan setiap tahunnya dengan mengangkat tema yang berfokus pada isu cuaca, iklim, dan permasalahan terkait air. Pada tahun 2025, tema yang diusung adalah “Closing the early warning gap together” atau “Menutup kesenjangan peringatan dini bersama”. Tema ini menggarisbawahi pentingnya sistem peringatan dini dalam menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata dan tidak dapat diabaikan.
Sejarah Meteorologi di Indonesia
Pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia memiliki sejarah panjang yang dimulai pada tahun 1841, ketika Dr. Onnen, Kepala Rumah Sakit di Bogor, melakukan pengamatan cuaca secara perorangan. Pada tahun 1866, Pemerintah Hindia Belanda meresmikan kegiatan ini menjadi instansi resmi bernama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium yang dipimpin oleh Dr. Bergsma.
Perkembangan berikutnya meliputi pembangunan jaringan penakar hujan pada tahun 1879 dengan 74 stasiun pengamatan di Pulau Jawa. Pada tahun 1902, pengamatan medan magnet bumi dipindahkan dari Jakarta ke Bogor. Pengamatan gempa bumi dimulai pada tahun 1908 dengan pemasangan komponen horizontal seismograf Wiechert di Jakarta. Kemudian pada tahun 1912, dilakukan reorganisasi pengamatan meteorologi dengan memperluas jaringan sekunder. Jasa meteorologi mulai digunakan dalam penerbangan pada tahun 1930. Pada masa pendudukan Jepang antara tahun 1942 hingga 1945, instansi meteorologi dan geofisika diubah namanya menjadi Kisho Kauso Kusho.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, instansi ini mengalami beberapa perubahan. Pada tahun 1945, dibentuk Biro Meteorologi di Yogyakarta untuk kepentingan Angkatan Udara, serta Jawatan Meteorologi dan Geofisika di Jakarta di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga.
Pada tahun 1947, Jawatan Meteorologi dan Geofisika diambil alih oleh Pemerintah Belanda dan diberi nama Meteorologisch en Geofisiche Dienst. Setelah itu, pada tahun 1950, Indonesia resmi menjadi anggota WMO. Lima tahun kemudian, nama instansi diubah menjadi Lembaga Meteorologi dan Geofisika di bawah Departemen Perhubungan. Pada tahun 1965, namanya kembali berubah menjadi Direktorat Meteorologi dan Geofisika, yang kemudian pada tahun 1972 diubah menjadi Pusat Meteorologi dan Geofisika. Pada tahun 1980, statusnya dinaikkan menjadi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).
Pada tahun 2002, BMG menjadi Lembaga Pemerintah Non-Departemen. Kemudian, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008, namanya berubah menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Akhirnya, pada tahun 2009, disahkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Peringatan Hari Meteorologi Dunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global mengenai pentingnya meteorologi dan hidrologi dalam kehidupan sehari-hari. Informasi cuaca dan iklim sangat berpengaruh dalam berbagai sektor, seperti pertanian, transportasi, perencanaan kota, hingga mitigasi bencana alam.
Dengan tema tahun 2025, “Closing the early warning gap together”, WMO dan negara-negara anggotanya berupaya memperkuat sistem peringatan dini, mengingat perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana alam, seperti badai tropis, banjir, dan kekeringan. Upaya ini melibatkan kerja sama antarnegara dalam meningkatkan teknologi prediksi cuaca, memperluas jangkauan informasi kepada masyarakat, serta memperkuat infrastruktur ketahanan terhadap bencana.
Hari Meteorologi Dunia merupakan peringatan penting yang menyoroti peran besar ilmu meteorologi dalam kehidupan manusia. Sejarah panjang WMO dan BMKG di Indonesia menunjukkan betapa pentingnya pengelolaan informasi cuaca dan iklim untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan semakin meningkatnya ancaman perubahan iklim, peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sistem peringatan dini dan kerja sama global dalam mengatasi dampak bencana alam. [UN]