Hari Makanan Sekolah Internasional: Dari Program Dunia hingga MBG

Program Makan Bergizi Gratis. (Foto: Sulindo)

Setiap tahun, dunia memperingati Hari Makanan Sekolah Internasional atau International School Meals Day. Peringatan ini jatuh pada Kamis kedua di bulan Maret, dan pada tahun 2026 diperingati pada 12 Maret. Momentum ini menjadi gerakan global untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya makanan sehat bagi anak-anak di seluruh dunia.

Hari Makanan Sekolah Internasional merupakan inisiatif yang menyoroti peran penting makanan sekolah dalam mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan mental, serta kemampuan belajar anak. Melalui peringatan ini, berbagai pihak diharapkan semakin memahami bahwa kebiasaan makan sehat harus dibangun sejak dini, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Gerakan ini pertama kali diselenggarakan pada Maret 2013 di Amerika Serikat dan Inggris. Pelaksanaannya dikoordinasikan oleh organisasi nirlaba Children in Scotland. Sejak saat itu, perayaan ini berkembang pesat dan menjangkau banyak negara di Afrika, Asia, Eropa, hingga Amerika, sehingga menjadi gerakan global yang melibatkan berbagai komunitas pendidikan dan kesehatan.

Peringatan ini juga menegaskan bahwa gizi yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pendidikan. Anak yang mendapatkan asupan makanan bergizi cenderung lebih fokus saat belajar, memiliki kesehatan yang lebih baik, serta mampu berkembang secara optimal.

Menurut World Food Programme (WFP), setiap hari sekitar 370 juta anak di seluruh dunia menerima makanan di sekolah yang disediakan oleh pemerintah masing-masing. Pemerintah di berbagai negara menginvestasikan program makanan sekolah karena dianggap sebagai alat yang efektif untuk membantu mencapai tujuan Nol Kelaparan sekaligus memastikan anak-anak memperoleh akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan gizi yang layak.

Tujuan utama Hari Makanan Sekolah Internasional adalah meningkatkan kesadaran tentang pentingnya gizi yang baik bagi semua anak tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun sosial mereka. Gerakan ini juga mendorong kerja sama antara sekolah, pemerintah, komunitas, dan organisasi internasional untuk memperkuat sistem makanan sekolah di berbagai negara.

Mengutip National Today, gagasan peringatan ini berawal dari upaya Inggris dan Amerika Serikat yang sejak Desember 2010 mulai mendorong kebijakan serta praktik yang mendukung penyediaan makanan bergizi di sekolah. Upaya tersebut juga disertai kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat bagi anak-anak.

Setelah resmi diluncurkan pada 2013, berbagai pihak dari seluruh dunia mulai terlibat dalam gerakan ini. Guru, ahli gizi, pembuat kebijakan, sekolah, komunitas, organisasi amal, hingga perusahaan berkumpul untuk mendiskusikan peran penting makanan sekolah dan dampaknya terhadap pendidikan anak. Acara internasional gerakan ini dikoordinasikan oleh staf Children in Scotland dengan dukungan dari berbagai mitra global.

Program makanan sekolah juga terus berkembang melalui berbagai inisiatif. Pada 2015, WFP menyediakan makanan sekolah atau ransum yang dapat dibawa pulang bagi sekitar 17,4 juta anak di sekitar 63.000 sekolah di berbagai negara. Program tersebut memiliki berbagai bentuk, mulai dari makanan ringan, makanan siap saji, jatah makanan yang dapat dibawa pulang oleh siswa, bantuan tunai bersyarat, hingga kombinasi dari berbagai bentuk dukungan tersebut.

Selain program bantuan, Hari Makanan Sekolah Internasional juga mendorong kreativitas dalam penyajian makanan sehat. Pada 2018 misalnya, kompetisi yang digelar dalam rangka peringatan ini menerima lebih dari 100 entri resep dari berbagai negara. Sebanyak 20 resep terbaik kemudian diterbitkan dalam sebuah buku masak sebagai bagian dari perayaan tersebut.

Pada 2022, peringatan ini menandai ulang tahun ke-10 sejak pertama kali diluncurkan. Perayaan tersebut melibatkan anak-anak sekolah, staf katering, guru, hingga berbagai organisasi yang ikut berbagi resep serta pengalaman mengenai makanan dari berbagai budaya. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan makanan sehat, tetapi juga memperkaya pengetahuan tentang keberagaman budaya dunia. Kampanye tersebut bahkan berhasil menjangkau sekitar 3,3 juta orang melalui media sosial.

Baca Juga

Di Indonesia sendiri, program tentang makanan sekolah juga semakin mendapat perhatian melalui program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Program yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto ini bertujuan memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi yang cukup selama menjalani aktivitas belajar di sekolah. Program ini sudah berjalan secara resmi dan bertahap sejak tahun 2025.

Namun sebenarnya, sejumlah negara telah lebih dahulu menjalankan program makan gratis atau bersubsidi bagi siswa. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperbaiki status gizi anak.

Di Finlandia, misalnya, program makan siang gratis bagi siswa telah berjalan sejak 1948. Semua siswa dari tingkat dasar hingga menengah mendapatkan makan siang dengan menu bergizi seimbang yang terdiri dari sayuran, daging atau ikan, serta karbohidrat. Program ini dirancang agar siswa tidak belajar dalam kondisi lapar, sehingga konsentrasi belajar meningkat dan kesenjangan sosial dapat ditekan.

Swedia juga memiliki kebijakan serupa. Sejak 1973, negara ini menyediakan makan siang gratis bagi seluruh siswa sekolah dasar. Setiap menu biasanya terdiri dari hidangan hangat, sayuran, roti, serta minuman seperti susu atau air. Program ini diatur dalam undang-undang pendidikan, dan setiap wilayah bekerja sama dengan perusahaan katering untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga.

Di Asia, Korea Selatan mulai menerapkan kebijakan makan siang gratis bagi seluruh siswa dari tingkat dasar hingga menengah sejak 2011. Menu makan siang biasanya terdiri dari nasi, sup, kimchi, sayuran, serta daging dalam porsi seimbang. Pola makan ini dirancang agar kebutuhan gizi siswa tetap terpenuhi.

China memiliki pendekatan yang sedikit berbeda. Program makan siang di sekolah tersedia dengan harga yang lebih terjangkau, sekitar Rp11.000 per hari. Menu yang disediakan biasanya terdiri dari nasi, lauk daging, serta sayuran dalam kotak makan, dengan pilihan dua hingga tiga variasi menu bagi setiap siswa.

Sementara itu, di Jerman, makanan sekolah umumnya tersedia di sekolah yang menjalankan sistem belajar sepanjang hari. Pemerintah memberikan subsidi agar biaya makan tetap terjangkau. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, tersedia bantuan tambahan berupa tunjangan pendidikan, sosial, hingga bantuan perumahan untuk membantu menutupi biaya makan anak.

India juga memiliki program makan siang gratis yang sangat besar melalui Skema POSHAN. Program ini melayani lebih dari 120 juta siswa di seluruh negeri. Setiap hari kerja, anak-anak di sekolah negeri hingga pusat pendidikan rakyat mendapatkan makan siang bergizi yang disesuaikan dengan bahan makanan lokal, seperti susu, sup, serta sayur kari.

Jepang memiliki tradisi makan siang sekolah yang dikenal sebagai kyūshoku. Menu yang disajikan biasanya terdiri dari nasi, ikan, dan sayuran. Menariknya, siswa tidak hanya makan bersama, tetapi juga ikut melayani makanan dan membersihkan sisa makanan setelah makan. Hampir semua bahan makanan berasal dari produk lokal, dan siswa umumnya tidak diperbolehkan membawa bekal dari rumah hingga tingkat SMA.

Sementara itu, Brasil telah menjalankan program makanan sekolah sejak 1940-an, terutama untuk anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Pada 2009, pemerintah memperluas program tersebut sehingga seluruh siswa di sekolah negeri dapat menikmati makanan gratis. Menu disusun dengan bantuan ahli gizi dan mengutamakan penggunaan bahan pangan lokal.

Melalui berbagai program tersebut, Hari Makanan Sekolah Internasional menjadi pengingat bahwa makanan di sekolah bukan sekadar pengisi perut, melainkan bagian penting dari upaya global untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak. Dengan gizi yang cukup, anak-anak tidak hanya tumbuh lebih sehat, tetapi juga memiliki kesempatan belajar yang lebih baik dan masa depan yang lebih cerah. [UN]