Tapi, baiklah. Di balik semua hiruk-pikuk ini, ada semacam pelajaran pahit yang terasa manis di ujung lidah: kebenaran tidak selalu menang cepat, tapi ia tidak akan kelelahan dikejar waktu.
Kadang yang adil tampak kalah, tapi kekalahan itulah yang justru membuka jalan kemenangan berikutnya.
Kadang vonis menjadi tragedi, tapi tragedi itu sendiri yang mengajarkan bangsa ini: bahwa hukum tanpa logika hanyalah teks kosong yang menunggu ditertawakan sejarah.
Dan bila akhirnya sejarah itu tiba, barangkali kita akan mengenang hari ini sebagai momen ketika nalar publik lebih jernih daripada nalar hukum, dan ketika ketegaran beberapa orang —termasuk seorang hakim bernama Sunoto— menjadi saksi bahwa integritas masih punya ruang, meski sempit, di Republik yang semakin absurd ini.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis



