Catatan Cak AT:
Inilah bibit korupsi di sekolah. Begitulah persepsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bayangkan dua orang tua menghadapi pembagian rapor. Orang tua pertama datang dengan tangan kosong, tetapi rutin mendampingi anak belajar. Orang tua kedua membawa bingkisan mahal, lalu berharap guru lebih memperhatikan anaknya.
Kita tentu tidak bisa langsung menuduh guru akan membeda-bedakan keduanya. Namun, situasi itu membuka pintu bagi kecurigaan, tekanan sosial, bahkan konflik kepentingan.
Hadiah dapat bekerja seperti kabut tipis di ruang kelas. Orang mungkin tetap melihat papan tulis dan buku pelajaran, tetapi batas antara pertimbangan profesional dan kepentingan pribadi mulai samar.
Guru yang menerima pemberian belum tentu mengubah penilaiannya. Meski demikian, masyarakat tetap berhak bertanya apakah keputusan guru benar-benar bebas dari pengaruh pemberian tersebut.
KPK baru saja merilis temuan, sebanyak 34 persen orang tua siswa masih memberikan hadiah kepada guru atau tenaga kependidikan pada momen tertentu. Kebiasaan itu lazim berlangsung ketika pembagian rapor, kenaikan kelas, atau perayaan sekolah.
Angka 34 persen membuat kita perlu berhenti sejenak: mengapa orang tua masih gemar memberikan hadiah kepada guru? Angka tersebut mengundang pertanyaan tentang batas antara ungkapan terima kasih dan gratifikasi.
Orang tua mungkin membawa bingkisan dengan niat tulus. Mereka ingin menghormati guru yang telah mendidik anaknya. Namun, niat baik saja tidak cukup untuk memastikan sebuah pemberian bebas dari persoalan etika.
Dalam hubungan yang melibatkan kewenangan, hadiah kecil pun dapat menumbuhkan harapan besar.
Budaya memberi hadiah kepada guru tumbuh dari tradisi menghormati pendidik. Dalam masyarakat Indonesia, orang sering menyampaikan rasa terima kasih melalui makanan, buah tangan, atau bingkisan.
Guru yang sabar mengajari anak membaca, membantu siswa menghadapi kesulitan, atau membimbing anak melewati masa sulit memang layak memperoleh penghargaan.
Masalah muncul ketika penghargaan itu memasuki wilayah kewenangan profesional. Guru memegang peran penting dalam menilai hasil belajar, memberikan rekomendasi, membina perilaku, dan menentukan tindak lanjut pendidikan siswa.
Orang tua berada pada posisi yang membutuhkan penilaian tersebut. Hubungan ini mengandung ketimpangan kewenangan yang perlu dijaga dengan aturan etis.
Tapi kita perlu membedakan hadiah sebagai ungkapan terima kasih dengan gratifikasi yang berpotensi melanggar aturan.
Istilah gratifikasi dalam hukum pemberantasan korupsi memiliki cakupan luas, termasuk pemberian uang, barang, diskon, fasilitas, dan bentuk keuntungan lainnya. Namun, setiap hadiah kepada guru tidak otomatis menjadi tindak pidana korupsi.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengatur gratifikasi, terutama melalui Pasal 12B dan Pasal 12C, dalam konteks pegawai negeri atau penyelenggara negara. Penilaian hukumnya bergantung pada status penerima, hubungan pemberian dengan jabatan, tujuan pemberian, serta ketentuan yang berlaku.
Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati ketika membaca angka 34 persen. Kehati-hatian ini penting agar kritik terhadap budaya hadiah tidak berubah menjadi tuduhan massal kepada guru.
Guru yang menerima bingkisan sederhana sebagai tanda terima kasih tidak serta-merta melakukan korupsi. Sebaliknya, masyarakat juga tidak boleh memakai alasan tradisi untuk membenarkan pemberian yang bertujuan memengaruhi keputusan profesional.
Sekolah dapat mencegah persoalan ini melalui kebijakan yang sederhana, tegas, dan berlaku bagi semua orang. Kepala sekolah perlu menetapkan aturan tertulis mengenai penerimaan hadiah, menjelaskan batas yang diperbolehkan, serta menyediakan prosedur pelaporan untuk pemberian yang menimbulkan keraguan.
Sekolah juga perlu menyosialisasikan aturan itu kepada guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, dan wali murid.
Guru membutuhkan perlindungan dari tekanan sosial. Menolak bingkisan terkadang terasa tidak sopan, terutama ketika orang tua menyampaikannya dengan tulus. Karena itu, sekolah harus memberi dasar kelembagaan agar guru dapat menolak tanpa mempermalukan pemberi.
Kalimat sederhana seperti, “Terima kasih atas perhatian Bapak dan Ibu. Sekolah kami menerapkan kebijakan tanpa hadiah pribadi,” dapat menjadi pegangan bersama.
Orang tua pun memiliki banyak cara untuk menyampaikan penghargaan. Mereka dapat menulis surat terima kasih, memberikan masukan yang membangun, membantu kegiatan belajar secara sukarela, atau mendukung fasilitas bersama melalui mekanisme resmi yang transparan.
Dukungan semacam itu memberi manfaat lebih luas daripada bingkisan yang hanya diterima seorang guru.
Sekolah juga perlu memastikan bahwa sumbangan untuk fasilitas tidak berubah menjadi pungutan terselubung. Setiap dukungan harus mengikuti aturan yang berlaku, melalui mekanisme yang jelas, tanpa tekanan kepada orang tua, serta tanpa mengaitkannya dengan nilai, layanan, atau perlakuan terhadap siswa.
Memindahkan hadiah pribadi menjadi sumbangan sekolah hanya menyelesaikan masalah jika tata kelolanya benar-benar bersih.
Pendidikan antikorupsi akan kehilangan daya jika sekolah hanya mengajarkan kejujuran dalam buku pelajaran, tetapi membiarkan praktik sehari-hari berjalan tanpa batas yang jelas.
Anak belajar integritas melalui tindakan orang dewasa di sekitarnya. Ketika mereka menyaksikan guru menolak hadiah yang berpotensi memengaruhi keputusan, mereka memperoleh pelajaran nyata tentang keadilan.
Kita juga perlu menghargai guru dengan cara yang tepat. Penghormatan terhadap profesi pendidik harus tumbuh melalui kepercayaan, dukungan terhadap kesejahteraan, dan pengakuan atas kerja mereka. Bingkisan sesaat tidak dapat menggantikan penghargaan yang lebih mendasar itu.
Angka 34 persen, jika terkonfirmasi melalui sumber primer KPK, layak menjadi peringatan bagi sekolah dan orang tua. Namun, peringatan tersebut harus mendorong pembenahan yang terukur, bukan menciptakan kecurigaan tanpa bukti.
Publik perlu memperoleh data yang lengkap, sekolah perlu menetapkan kebijakan yang konsisten, dan guru perlu mendapatkan dukungan untuk menjaga independensi profesionalnya.
Pada akhirnya, hubungan guru dan orang tua memerlukan rasa terima kasih sekaligus batas etis. Kita boleh menghormati guru setinggi-tingginya, tetapi jangan sampai penghormatan berubah menjadi transaksi yang mengusik keadilan.
Hadiah terbaik bagi guru ialah kepercayaan orang tua bahwa setiap anak memperoleh perhatian dan penilaian sesuai haknya, tanpa dipengaruhi isi bingkisan yang dibawa keluarganya.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis





