Menlu RI, Sugiono. (Foto: Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan kesiapan pemerintah menghadapi dinamika global yang kian memanas, termasuk eskalasi terbaru di kawasan Timur Tengah. Sikap tersebut disampaikan dalam forum silaturahmi dan diskusi bersama sejumlah tokoh nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan, dalam pertemuan itu Presiden memaparkan perkembangan situasi baik di dalam negeri maupun di tingkat global. Salah satu yang menjadi perhatian serius adalah ketegangan yang terus berkembang di Timur Tengah.

“Presiden menyampaikan sejumlah hal terkait perkembangan situasi global dan domestik dalam beberapa waktu terakhir, termasuk kondisi terakhir di Timur Tengah yang sama-sama kita cermati,” ujar Sugiono kepada wartawan usai pertemuan.

Menyikapi meningkatnya eskalasi di kawasan tersebut, pemerintah disebut telah menyiapkan langkah antisipatif guna memastikan keselamatan warga negara Indonesia (WNI). Kementerian Luar Negeri, kata Sugiono, telah menginstruksikan Duta Besar RI di Teheran untuk mempersiapkan skema evakuasi apabila dibutuhkan.

Menurutnya, tidak seluruh WNI di wilayah terdampak menghendaki evakuasi. Namun, bagi mereka yang menyatakan kesediaan untuk dipulangkan, proses evakuasi akan dilakukan secara bertahap, khususnya dari wilayah Iran.

“Tidak semua WNI ingin dievakuasi. Tetapi ada sebagian yang bersedia, dan untuk itu kami perintahkan agar evakuasi bertahap segera dilaksanakan,” kata Sugiono.

Ia menambahkan, situasi ke depan masih sangat dinamis. Pemerintah, lanjutnya, terus memantau perkembangan secara cermat dan menyiapkan berbagai skenario. Presiden, menurut Sugiono, mengingatkan agar seluruh jajaran siap menghadapi segala kemungkinan yang dapat timbul dari konflik tersebut.

Dalam kesempatan itu, Sugiono juga mengungkapkan bahwa dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran. Dalam komunikasi tersebut, masing-masing pihak menyampaikan pandangan dan posisi negaranya.

Indonesia, tegas Sugiono, menyampaikan keprihatinan atas gagalnya perundingan yang memicu peningkatan ketegangan. Pemerintah juga kembali menegaskan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara sebagai fondasi utama dalam hubungan internasional.

“Kita menekankan pentingnya kembali ke meja perundingan serta menjaga penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah,” ujarnya.

Lebih jauh, Indonesia juga menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam meredakan ketegangan. Presiden Prabowo, kata Sugiono, menyampaikan keinginan agar Indonesia dapat mengambil peran sebagai mediator guna membantu menurunkan eskalasi dan mendorong penyelesaian damai.

“Keinginan Presiden untuk berperan sebagai mediator dalam upaya mendinginkan situasi juga kami sampaikan, dan pandangan tersebut diterima dengan baik,” tutur Sugiono.

Di tengah pusaran konflik global yang kian kompleks, pemerintah menegaskan komitmennya menjaga keselamatan WNI sekaligus mempertahankan posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten mendorong dialog dan perdamaian. [KS]