Sejarah dunia kerap berubah hanya dalam hitungan detik. Salah satu momen yang paling menentukan terjadi pada pagi 28 Juni 1914 di Sarajevo, ketika pewaris takhta Austria-Hongaria, Archduke Franz Ferdinand, bersama istrinya, Sophie, Duchess of Hohenberg, ditembak mati oleh seorang nasionalis Serbia Bosnia bernama Gavrilo Princip.
Dua letusan pistol yang dilepaskan pagi itu tidak hanya mengakhiri hidup pasangan kerajaan tersebut, tetapi juga menjadi pemicu langsung meletusnya Perang Dunia I, konflik berskala global yang mengubah peta politik dunia.
Namun, jauh sebelum namanya dikenang sebagai korban pembunuhan politik paling terkenal pada awal abad ke-20, Franz Ferdinand telah menjalani kehidupan yang penuh lika-liku sebagai anggota Dinasti Habsburg.
Latar Belakang Keluarga
Melansir laman Biography.com, Franz Ferdinand Karl Ludwig Joseph Maria lahir di Graz, Austria, pada 18 Desember 1863. Ia merupakan putra Archduke Karl Ludwig dan Putri Maria Annunciata dari Bourbon-Two Sicilies. Dari garis keturunannya, Ferdinand memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pucuk kekuasaan Kekaisaran Austria-Hongaria. Ayahnya adalah adik Kaisar Franz Joseph I sekaligus saudara Kaisar Meksiko Kedua, Maximilian.
Meski lahir dari keluarga kerajaan, jalan Ferdinand menuju takhta tidak terbuka sejak awal. Titik balik pertama dalam hidupnya terjadi pada 1875 ketika ia baru berusia 11 tahun. Saat itu, sepupunya, Francis V, Duke of Modena, meninggal dunia dan meninggalkan warisan yang menjadikan Ferdinand sebagai penerus, dengan syarat ia menambahkan nama “Este” ke dalam namanya.
Sejak usia muda, Ferdinand juga diarahkan ke dunia militer. Ia memulai karier kemiliterannya ketika berusia 12 tahun. Kenaikan pangkatnya berlangsung sangat cepat hingga pada usia 31 tahun ia telah menyandang pangkat Mayor Jenderal, sebuah pencapaian yang menunjukkan besarnya kepercayaan keluarga kekaisaran kepadanya.
Namun, jalan menuju posisi pewaris takhta kembali berubah secara dramatis pada 1889. Putra Mahkota Rudolf, sepupu Ferdinand, ditemukan tewas bunuh diri di pondok berburu Mayerling dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Mayerling. Kematian Rudolf membuat ayah Ferdinand, Archduke Karl Ludwig, menjadi putra mahkota.
Takdir kembali berbelok pada 1896. Karl Ludwig meninggal dunia akibat tifus. Sejak saat itulah Franz Ferdinand resmi menjadi orang pertama dalam garis suksesi takhta Austria-Hongaria.
Meski demikian, posisinya tidak sepenuhnya aman. Kondisi kesehatannya yang sering memburuk membuat sebagian kalangan kerajaan memandang adiknya, Otto, sebagai sosok yang lebih layak menjadi calon penerus kekaisaran.
Di tengah dinamika politik kerajaan, kehidupan pribadi Ferdinand justru menghadirkan tantangan yang tidak kalah besar.
Pada 1894 ia bertemu Countess Sophie Chotek, yang kemudian dikenal sebagai Sophie, Duchess of Hohenberg, seorang dayang Archduchess Isabella, istri Archduke Friedrich, Duke of Teschen. Sophie merupakan putri Bohuslav, Count Chotek, bangsawan Bohemia yang juga dikenal sebagai diplomat di Austria-Hongaria.
Meski berasal dari keluarga ningrat, Sophie tidak berasal dari dinasti penguasa Eropa. Status itulah yang membuat hubungan mereka harus dirahasiakan. Ketika kisah cinta tersebut akhirnya diketahui, Archduchess Isabella menentangnya. Penolakan yang lebih keras datang dari Kaisar Franz Joseph I, yang menyatakan bahwa pernikahan itu tidak memenuhi syarat sebagai pernikahan dinasti Habsburg.
Ferdinand tidak bergeming. Ia tetap ingin menikahi Sophie. Kesungguhan itu bahkan mengundang campur tangan sejumlah penguasa Eropa, termasuk Paus Leo XIII, yang berusaha membujuk Kaisar Franz Joseph agar memberikan restu.
Akhirnya sang kaisar menyetujui pernikahan tersebut, tetapi dengan satu syarat yang berat. Anak-anak hasil pernikahan Ferdinand dan Sophie tidak akan pernah memperoleh hak untuk mewarisi takhta Austria-Hongaria.
Pernikahan mereka akhirnya berlangsung pada 1 Juli 1900 di Reichstadt, wilayah Bohemia yang kini bernama Zakupy di Republik Ceko. Dari pernikahan itu lahirlah tiga orang anak, terdiri atas seorang putri dan dua putra.
Dalam catatan para sejarawan, Franz Ferdinand bukanlah sosok yang mudah disukai. Ia digambarkan sebagai pribadi yang minim energi, berlidah tajam, serta memiliki temperamen tinggi.
Namun di balik karakter kerasnya, Ferdinand memahami persoalan mendasar yang dihadapi Austria-Hongaria. Kekaisaran itu dihuni oleh beragam kelompok etnis, bahasa, agama, dan kepentingan politik yang sering kali saling bertentangan.
Sebagai pewaris takhta, ia mengusulkan agar kekaisaran diubah menjadi tiga monarki besar yang mewakili kelompok Slavia, Jerman, dan Magyar. Ketiganya diharapkan memiliki kedudukan yang setara dalam pemerintahan.
Gagasan tersebut tidak mendapat dukungan dari kalangan elite kerajaan. Bahkan beredar anggapan bahwa Ferdinand telah kehilangan kewarasannya.
Ia kemudian mempertimbangkan rancangan lain berupa pembentukan negara federal yang terdiri atas 16 negara bagian. Rencana itu dikenal sebagai gagasan membentuk Persatuan Besar Austria.
Usulan tersebut justru bertolak belakang dengan cita-cita kaum nasionalis Serbia yang ingin melepaskan Bosnia dan Herzegovina dari Austria-Hongaria untuk membentuk negara sendiri.
Meski tampak tidak terlalu memedulikan ambisi kaum nasionalis, Ferdinand sebenarnya berusaha menjalin komunikasi secara hati-hati dengan para pemimpin Serbia. Ia bahkan memperingatkan para petinggi militer nasionalis bahwa tindakan gegabah hanya akan menyeret mereka ke dalam konflik yang melibatkan Rusia.
Penembakan Yang Mengubah Sejarah
Takdir akhirnya mempertemukan dua kepentingan yang saling bertolak belakang itu di Sarajevo.
Pada pagi 28 Juni 1914 sekitar pukul 10.45, Franz Ferdinand dan Sophie melakukan kunjungan resmi ke Sarajevo, ibu kota Provinsi Bosnia-Herzegovina.
Sebelum penembakan terjadi, rombongan mereka lebih dahulu menjadi sasaran serangan. Nedeljko Čabrinović, anggota organisasi nasionalis Black Hand, melemparkan granat ke arah mobil yang ditumpangi pasangan kerajaan tersebut.
Beruntung bagi Ferdinand dan Sophie, granat itu memantul dan meledak di dekat mobil pengiring di belakang mereka sehingga melukai sejumlah anggota rombongan.
Sesampainya di kediaman gubernur, Ferdinand yang marah melontarkan kalimat yang kemudian dikenang dalam sejarah.
“Jadi begini cara kalian menyambut tamu. Dengan bom!”
Setelah beristirahat sejenak, Ferdinand dan Sophie memutuskan tetap melanjutkan agenda untuk menjenguk para korban ledakan yang dirawat di rumah sakit setempat.
Keputusan itu justru membawa mereka menuju akhir hidup.
Sopir rombongan ternyata tidak mengetahui bahwa rute perjalanan telah diubah. Ketika menyadari kesalahan, mobil harus berhenti dan berusaha memutar balik.
Di saat yang sama, Gavrilo Princip kebetulan sedang berada di sebuah kafe di seberang jalan. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Ia segera menghampiri mobil kerajaan dan mengeluarkan pistol semiotomatis FN Model 1910.
Dua tembakan dilepaskannya dari jarak dekat.
Peluru pertama menghantam perut Sophie. Peluru kedua menembus leher Franz Ferdinand.
Dalam kondisi terluka parah, Ferdinand masih sempat memandang istrinya yang kesakitan. Dengan sisa tenaganya, ia mengucapkan kalimat terakhir yang menyayat hati.
“Jangan mati, sayang. Teruslah hidup untuk anak kita.”
Harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Franz Ferdinand dan Sophie meninggal dunia sebelum sempat tiba di rumah sakit. Jenazah keduanya kemudian dimakamkan di Kastil Artstetten, Austria.
Kematian pasangan kerajaan itu segera memicu krisis diplomatik yang berkembang menjadi perang besar. Austria-Hongaria menyatakan perang terhadap Serbia, sementara sistem aliansi yang telah terbentuk di Eropa membuat negara-negara besar lain ikut terseret ke dalam konflik. Dalam hitungan minggu, Perang Dunia I pun pecah dan berlangsung hingga 1918, menelan jutaan korban jiwa serta mengubah wajah politik dunia untuk selamanya.
Ironisnya, Franz Ferdinand yang sepanjang hidupnya berusaha menjaga keutuhan kekaisaran justru dikenang bukan karena gagasan-gagasan politiknya, melainkan karena kematiannya yang menjadi titik awal salah satu perang paling dahsyat dalam sejarah umat manusia. [UN]