Sutradara: Yuda Kurniawan
Pemeran: A. Rani Someng sebagai Made, Fadli sebagai Dhiptha, Ni Nyoman Trikanti sebagai Nengah, Bunaeri sebagai Tuwarno, Siti Aisiyah sebagai Minah, Fatra Harla sebagai Panggoba, Idil Kurniawan sebagai parman.
Rilis: 31 Juli 2025
Film Harmoni membawa penonton menelusuri dua kota yang berbeda namun sejatinya saling berkaitan: Gorontalo dan Bali.
Di Gorontalo, petani transmigran Jawa berjuang melawan kekeringan, keterbatasan modal, dan pergeseran nilai tradisi seperti praktik Panggoba (peramal musim tanam).
Sementara di Bali, konflik keluarga terjadi antara Made, seorang petani rumput laut yang bersikeras mempertahankan tanahnya, dan anaknya Dhipta, yang tergoda menjual lahan ke investor pariwisata.
Film ini memotret bagaimana benturan antara tradisi, modernitas, dan kebutuhan ekonomi membentuk dilema hidup masyarakat kecil yang kerap terabaikan. Akankah mereka berdua mampu menghadapi krisis lingkungan dan perubahan iklim?
Visual & Penyutradaraan
Yuda Kurniawan berhasil menghadirkan film yang edukatif. Penggunaan aktor lokal, bahasa daerah, dan lanskap alam yang difilmkan tanpa polesan berlebihan membuat film ini terasa hidup.
Gorontalo dengan sawah yang retak karena kemarau, serta Bali dengan birunya laut dan garis pantai yang terancam oleh proyek pariwisata, menjadi metafora yang kuat tentang harmoni yang perlahan memudar.
Para aktor tampil memukau dan mereka mampu memberi kedalaman emosional yang membuat konflik terasa nyata. Terutama bagiku akting sang Panggoba yang dimainkan oleh Fatra Harla begitu menjiwai dan bekarakter, sehingga menampilkan sebuah drama dengan konflik yang menarik dan tidak membosankan.
Pesan Film
“Harmoni” tidak hanya bercerita tentang petani. Film ini bicara tentang hubungan manusia dengan alam, benturan generasi, dan bagaimana tradisi sering kali bertahan di tengah modernisasi yang mengikis akar budaya.
Hal ini menegaskan, bahwa manusia seharusnya mampu selaras dan harmoni dengan alam semesta.
Isu lingkungan yang diangkat terasa relevan. Praktik Panggoba menjadi simbol bagaimana masyarakat mencari pegangan di tengah ketidakpastian iklim, sementara konflik di Bali merefleksikan realita banyak daerah di Indonesia yang harus memilih antara menjual atau mempertahankan tanah leluhur.
Kekuatan Film
– Autentisitas Tinggi mampu menghadirkan nuansa lokal yang jarang terlihat di layar lebar.Pesan Sosial yang Kuat mampu menggugah kesadaran akan isu pertanian dan lingkungan.
– Akting solid para pemeran lokal membawa emosi yang jujur.
– Sinematografi natural visual alam Indonesia yang indah tapi getir memperkuat narasi.
Kelemahan Film
– Ritme terasa agak lambat tersebab terdapat pada beberapa bagian dialog terasa terlalu panjang, terutama di segmen Gorontalo.
– Minim Musik Penguat Emosi: Mungkin Yuda lebih memilih keheningan dan suara alam, yang bagi sebagian penonton mungkin terasa “hampa”.
“Harmoni” film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak merenung. Ia memaksa kita melihat wajah asli Indonesia yang jarang mendapat sorotan di layar lebar: petani, tanah, dan tradisi yang kerap diabaikan.
Meski bukan film dengan plot cepat atau penuh aksi, “Harmoni” layak ditonton bagi mereka yang menyukai film dengan kedalaman pesan sosial dan keindahan sinematografi yang jujur.
Rating: 8/10 – Sebuah karya yang lirih, mengajak kita kembali pada akar.


