Catatan Cak AT:
Puasa baru beberapa hari mengetuk pintu, perut mulai berlatih sabar, dan sebagian orang tiba-tiba menjadi kritikus film dadakan. Pertanyaannya klasik: bolehkah Ramadan ditemani layar lebar?
Jawabannya tergantung isi tontonan. Jika film itu mengajak hati mengingat Allah, meneguhkan iman, meningkatkan taqwa, dan menanamkan keberanian moral, maka ia lebih mirip pengajian visual daripada hiburan kosong.
Dalam kategori inilah film animasi David produksi Angel Studios mencoba mengambil tempat. Ini kisah seorang anak gembala yang menumbangkan raksasa, lalu harus berhadapan dengan raksasa yang jauh lebih rumit — kekuasaan, iri hati, dan nasib.
Film berdurasi hampir dua jam ini memang lebih mengikuti alur utama Alkitab (kitab 1 Samuel): masa kecil Daud sebagai gembala di Betlehem Palestina, pengurapan oleh Nabi Samuel, keberanian menghadapi Goliat, perannya menenangkan Raja Saul dengan musik. Dalam al-Qur’an, Saul sebagai raja pertama Bani Israel dikenal dengan nama Thalut.
Film berkisah mulai dari persahabatan Daud dengan Yonatan, sang putra raja, hingga cerita kecemburuan Saul yang berubah menjadi perburuan atasnya. Narasi film tidak berhenti pada duel legendaris itu. Justru konflik batin dan politik setelah kemenangan menjadi bagian penting perjalanan Daud menuju takdirnya sebagai raja.
Dalam Alkitab, kisah Daud dimulai dari pemilihan Tuhan atasnya yang mengejutkan: “Man looks at the outward appearance, but the Lord looks at the heart” (1 Samuel 16:7). Maksudnya: manusia cenderung menilai berdasarkan penampilan luar — fisik, status, atau kesan pertama — sedangkan Tuhan menilai hati: iman, kejujuran, ketulusan, dan sifat batin.
Ayat itu merujuk pada momen penting ketika Nabi Samuel diutus Tuhan untuk memilih raja baru menggantikan Saul (1 Samuel 16:13). Secara manusiawi, orang akan menduga calon raja harus tinggi, kuat, tampan, dan berwibawa. Ketika Samuel melihat kakak-kakak Daud yang berpostur gagah, ia sempat mengira merekalah pilihan Tuhan.
Daud dikenal sebagai pemain kecapi yang mampu menghibur dan menenangkan Saul (1 Samuel 16:23) dengan musik, kemudian menghadapi Goliat (Jalut) dengan keyakinan bahwa kemenangan datang dari Tuhan (1 Samuel 17:45–47). Setelah itu, popularitasnya memicu kecemburuan Saul, yang menandai awal konflik panjang.
Al-Qur’an menampilkan kisah Nabi Daud (Dāwūd) dengan fokus yang berbeda. Ia menampilkan Daud bukan sekadar pahlawan militer, tetapi nabi dan raja yang dianugerahi hikmah dan keadilan. Sejumlah ayat al-Qur’an menampilkan kisah Nabi Daud dengan sempurna.
Dalam Surah Al-Baqarah 2:251 disebutkan bahwa Daud membunuh Jalut dan Allah memberinya kerajaan serta hikmah. Surah Sad 38:17–26 menekankan sifat spiritualnya: ia bertasbih bersama gunung dan burung, serta diuji dalam keadilan sebelum bertobat dan kembali kepada Allah.
Surah Saba’ 34:10 menggambarkan mukjizat Nabi Daud: pelunakan besi. Tafsir Ibnu Katsir dan At-Thabari menjelaskan, besi menjadi lunak di tangan Daud sehingga ia dapat membentuknya tanpa perlu proses peleburan rumit. Ia membuat baju zirah yang kuat namun ringan untuk perlindungan pasukan (lihat juga Qs. Al-Anbiya’ 21:80).
Perbedaan fokus kedua kitab suci menarik. Alkitab memberi narasi historis-politik yang rinci, lengkap dengan intrik istana dan drama psikologis Saul. Sementara Al-Qur’an menyoroti dimensi kenabian: keadilan, ibadah, hikmah, dan pertobatan. Kedua kitab sama-sama menampilkan Daud sebagai hamba pilihan yang diuji oleh kekuasaan.
Film David relatif setia pada kerangka Alkitab. Adegan pengurapan oleh Samuel, pertarungan Daud dengan singa untuk melindungi domba, duelnya dengan Jalut, perannya memainkan musik di istana Saul, dan persahabatannya dengan Yonatan, semuanya bersumber dari teks Alkitab.
Penggambaran Saul sebagai tokoh tragis yang dilanda ketakutan dan kebanggaan juga sejalan dengan narasi kitab suci. Namun ada penyesuaian dramatik untuk audiens keluarga. Kematian Jalut tidak digambarkan dengan pemenggalan kepala sebagaimana teks 1 Samuel 17:51, melainkan disederhanakan agar tidak grafis.
Kekerasan perang dilunakkan, dan elemen musikal ditambahkan untuk memperkuat nuansa emosional — sesuatu yang tentu tidak ditemukan dalam teks suci. Ini bukan penyimpangan teologis, melainkan strategi pedagogis: mengubah tragedi berdarah menjadi pelajaran keberanian yang ramah bagi anak.
Dari perspektif Al-Qur’an, film ini hanya mencakup sebagian kecil kehidupan Nabi Daud. Ia belum menampilkan Daud sebagai nabi, hakim yang diuji dalam keadilan, atau sosok spiritual yang bertasbih bersama alam. Dengan demikian, kesetiaan kisah film terhadap narasi Al-Qur’ani bersifat parsial: benar pada peristiwa Jalut, tapi belum menyentuh dimensi kenabian dan hikmah yang menjadi inti penggambaran Al-Qur’an.
Perbandingan ini mengingatkan bahwa tradisi Yahudi-Kristen dan Islam sering menuturkan tokoh yang sama dengan sudut pandang berbeda. Jika Alkitab menghadirkan drama sejarah kerajaan, Al-Qur’an menghadirkan pelajaran etika dan spiritual. Film ini berdiri di antara keduanya: dramatik seperti narasi Alkitab, tetapi berpotensi dibaca secara spiritual oleh penonton Muslim.
Tambahan yang tak kalah menarik justru terletak pada dapur teknisnya. David memanfaatkan kekuatan animasi digital modern dengan pendekatan sinematik yang matang: pencahayaan dramatis khas padang gurun Timur Tengah, tekstur kain dan logam yang dirender detail, serta komposisi kamera lebar yang memberi skala epik pada pertempuran dan lanskap.
Musik orkestra dan lagu-lagu worship bergaya Broadway-Disney memperkuat emosi tanpa terasa menggurui, sementara ritme penyuntingan menjaga agar kisah kuno terasa segar bagi generasi yang terbiasa dengan tempo cepat film animasi modern.
Kombinasi kualitas visual tinggi, pendekatan musikal yang mudah diingat, dan narasi iman yang ramah keluarga membuat film ini menjangkau pasar luas: komunitas religius, keluarga, hingga penonton umum pencinta animasi.
Strategi distribusi Angel Studios yang mengandalkan basis penonton komunitas dan promosi berbasis jaringan gereja serta keluarga juga terbukti efektif.
Hasilnya, film ini melampaui ekspektasi box office. Dalam pekan-pekan awal peredarannya ia berhasil meraup pendapatan puluhan juta dolar global, bahkan menempati posisi runner-up tangga box office saat rilis, sebuah prestasi langka bagi film animasi berbasis kitab suci.
Maka pertanyaan awal kembali: pantaskah film ini menemani Ramadan? Jika ditonton sebagai hiburan kosong anak tanpa dampingan ayah-bunda yang menjelaskan, ia sekadar kisah anak kecil melawan raksasa Goliat.
Tetapi jika ditonton sebagai refleksi iman, ia berubah menjadi cermin: bahwa raksasa terbesar bukanlah Goliat, melainkan rasa takut, kesombongan, dan kecemburuan yang bersarang dalam diri manusia.
Dan mungkin di situlah pelajaran puasanya: menaklukkan raksasa di dalam dada jauh lebih berat daripada mengalahkan raksasa di medan perang.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis




