Fiksi atau Nonfiksi?

Fiksi atau Nonfiksi?

Tatiana Lukman (penulis) bersama Sobron Aidit, istri dan tiga kawan lainnya di depan hotel dalam salah satu kunjungan di Tiongkok. Tercerminkah wajah orang-orang yang “dihukum”, “disiksa” dan “sasaran” RBKP? [Foto: Dokumentasi Pribadi]

Koran Sulindo – Tulisan ini merupakan tanggapan lanjutan Tatiana Lukman kepada jawaban Martin Aleida atas tulisan sebelumnya berjudul Martin Aleida, Penulis “Ulung”. Martin menanggapi tulisan Tatiana secara singkat dan dimuat di dinding Facebook-nya. Berikut jawabannya:

Saya dalam perjalanan pulang belanja di Pasar Minggu, buka FB, dan harus menanggapi tulisan Tatiana Lukman mengenai saya. Saya merasa berarti dibuatnya. Sayang eksil yang pernah menetap lama di Kubanya Castro ini tak bisa membedakan cara membaca fiksi dan nonfiksi. Dia jadikan kenyataan literer dalam cerita pendek saya sebagai fakta historis. Saya senang dia cap saya sebagai Trotskyis, budayawan yang saya kagumi. Ketika berkunjung ke Turki beberapa tahun lalu, saya mampir ke pulau Buyucuda di mana Trotsky sempat bersembunyi dari persekusi rezim Stalin sebelum dia terdampar di Meksiko tempat kepalanya dipenggal dengan kampak oleh pemuja setan. Saya anjurkan Tatiana membaca Trotsky dalam Literature and Marxism Terry Eagleton dan meneliti Trotsky bukan dari tulisan mereka yang berbulu dan berhati musang. Di jinjinganku ada dongkal yuk santap rayakan pencapaian Trotsky sebagai manusia. Salam

Dalam jawaban Martin Aleida itu kepada tulisan saya berjudul Martin Aleida, Penulis “Ulung” yang dimuat Koran Sulindo pada 17 Juli lalu, tak satupun kejadian dan fakta yang saya ungkapkan ia komentari. Jawaban terhadap argumentasi yang saya ajukan? Juga tidak ada. Martin si penulis “ulung” dan pemenang sayembara menjadi “miskin” kata-kata dihadapan kebenaran yang tak mungkin ia sanggah.

Akhirnya apa yang bisa ia lakukan? Berusaha bersembunyi  dan  membenarkan  kebohongan, memutarbalikan fakta dan propaganda anti-sosialis, anti-Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP) dan anti-Mao yang terkandung dalam cerpen Melarung Bro di Nantalu, di belakang pengertian “fiksi” dan “non-fiksi”. Menurut Martin, masalahnya terletak pada  diri saya  yang dianggapnya “tak bisa membedakan cara membaca fiksi dan nonfiksi”. Saya jadi bertanya, Melarung Bro di Nantalu itu sebuah fiksi atau nonfiksi?

Sepanjang pengetahuan saya yang pendek, cerita fiksi adalah cerita khayalan, rekaan (invented), bukan cerita kejadian atau keadaan sebenarnya. Kalau tidak salah interpretasi saya atas jawaban sembilan kalimat Martin itu, ia memasukkan cerpennya dalam kategori fiksi. Ia menuduh saya menjadikan “kenyataan literer sebagai fakta historis”.

Saya baca kembali cerpen Melarung Bro di Nantalu. Terdapat beberapa hal  dan pertanyaan yang  harus dipertimbangkan untuk mengklasifikasi cerpen itu sebagai cerita rekaan atau khayalan.

Pertama, kalau pembaca dapat mengenali secara langsung dan gamblang siapa yang menjadi tokoh dalam cerita itu, dapatkah kita mengatakan itu sebuah fiksi? Saya dan juga Agung Ayu Ratih dengan mudah mengenali siapa tokoh dalam cerita itu yaitu Sobron Aidit. Sobron Aidit sebuah khayalan atau rekaan? Atau sebuah kenyataan literer?

Kedua, tidak saja pembaca mengenali tokohnya tapi juga kejadian dan fakta yang diceritakan Martin. Misalnya, “Bro dan istrinya bertolak memenuhi undangan ke Tiongkok. Dia mendapat tawaran pekerjaan yang baik, sebagai guru Bahasa Indonesia di sana”…. “Revolusi Kebudayaan melanda Tiongkok.. …Juga orang-orang Indonesia yang menjadi tamu perayaan hari jadi Republik Rakyat Tiongkok. Mereka tidak bisa kembali ke kampung, kecuali siap untuk ditangkap dengan tuduhan terlibat persekongkolan membantai para jenderal.”… Kemudian tentang restoran Indonesia di Paris dan pengkhianat yang datang  menemui Sobron di situ. Kalau itu hanya rekaan atau kenyataan literer, kok saya sepenuhnya bisa mengenalinya?

Rekaan atau khayalan alias isapan jempol dan pemutarbalikkan kenyataan dilakukan Martin ketika menulis seolah-olah orang-orang Indonesia di Tiongkok ketika itu dijadikan “sasaran RBKP”, dicap “jadi borjuis”, dituduh “terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya”, “dipaksa melakukan kerja badan, bertani, sebagai hukuman untuk gaya hidup yang dicap berleha-leha ala tuan tanah”, “dipaksa mengangkut kotoran manusia”. Khayalan dan penipuan juga ketika Martin menulis: “Bro berniat melarikan diri, dan dia menemukan jalan untuk menyingkir dari siksaan berkepanjangan”. Rekaan juga ketika Martin menggambarkan “Bro menyeret-nyeret kaki, luntang lantung mencari jalan untuk bertahan hidup……”.

Hilmar Farid menilai tinggi sekali karya Martin. Dan justru dalam mengomentari Melarung Bro di Nantalu, ia menulis: “Melarung Bro di Nantalu buatku menghidupkan pertanyaan lama tentang batas prosa dan puisi, fiksi dan fakta, dalam hal ini obituari dan cerita.” Artinya, kita temukan dalam cerpen ini fiksi dan fakta. Bahkan, menurut Hilmar, obituari! Obituarinya Sobron Aidit!

Soalnya adalah “fiksi” yang diciptakan Martin, yang berhubungan erat dengan pengalaman hidup Sobron, dengan jelas merupakan pemutarbalikkan fakta. Dan ini sama sekali tidak bebas dari motivasi politik yaitu memojokkan dan menyebar pikiran salah serta kebencian terhadap RBKP, pemerintah Tiongkok dan PKT di bawah pimpinan Mao!

Dengan kebohongan dan memutarbalikkan fakta, Martin memberi gambaran pengalaman hidup Sobron yang menyesatkan  dan tidak sesuai dengan kenyataan. Gambaran yang direka ini berhasil membuat Agung Ayu Ratih menangisi kehidupan Sobron yang “memilukan”! Siapa yang membuat hidupnya sampai begitu “memilukan”? RBKP, Tiongkok dan Mao! Bukankah dengan begitu tercapai tujuan politik dari cerpen itu?

Martin sebagai mantan Lekra pasti tahu dan mengerti bahwa semua tulisan merupakan pencerminan dari ideologi dan politik yang dianut penulisnya.

Soal Trotsky bukanlah tema pokok yang membuat saya menulis artikel ini. Martin menganjurkan saya untuk “membaca Trotsky dalam Literature and Marxism (oleh?) Terry Eagleton….”. Berarti melalui sumber sekunder? Padahal ia sendiri pernah bilang  tidak pernah percaya tulisan yang berdasarkan pada sumber sekunder. Dengan begitu ia memperlihatkan dirinya yang tak konsekuen alias mencla-mencle atau oportunis.

Kalau ia memang sungguh-sungguh mau dengan jujur mendiskusikan Trotsky, mengapa setelah minta sebagai penanya pertama dalam diskusi buku saya Trotskysme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen pada bulan Mei lalu, ia lantas ngacir pulang dengan alasan istri.  Orang lain disuruh mendengarkan semua komentarnya  dan cap “Stalinis” dilemparkan kepada saya, tapi tidak bersedia mendengarkan jawaban atau reaksi orang lain. Sikap apa itu?

Martin menuduh saya seolah-olah meneliti Trotsky  dari tulisan “mereka yang berbulu dan berhati musang”. Martin mengaku sudah baca buku saya. Kalau betul-betul sudah baca, tolong dihitung dan dipilih dari seluruh perpustakaan yang saya gunakan, tulisan orang-orang yang ia anggap “berbulu dan berhati musang”!

Sekarang silakan simak kata-kata Lenin tentang Trotksy dalam suratnya bulan Februari 1917  kepada Alexandra Kollontai: “….it was just as sad to read about the bloc between Trotsky and the Right for the struggle against N. Iv. What a swine this Trotsky is—Left phrases, and a bloc with the Right against the Zimmerwald Left!! He ought to be exposed (by you) if only in a brief letter to Sotsial-Demokrat!”

Dalam suratnya kepada Inessa Armand, bulan dan tahun yang sama, Lenin menulis: “but … Trotsky arrived, and this scoundrel at once ganged up with the Right wing of Novy Mir against the Left Zimmerwaldists!! That’s it!! That’s Trotsky for you!! Always true to himself = twists, swindles, poses as a Left, helps the Right, so long as he can….”

Lenin marah besar kepada Trotky sampai ia gunakan kata “swine” dan “scoundrel”. Mengapa? Karena Trotsky bergabung dengan blok kanan melawan blok kiri yang dipimpin Lenin.  Lenin mengungkap ciri-ciri Trotsky, yaitu menipu, menikung, penampilan seperti orang kiri, kiri dalam kata-kata tapi kanan dalam perbuatan!

Jangan dikira sikap permusuhan ini hanya dari pihak Lenin. Trotsky juga sangat benci pada Lenin. Pada kongres kedua Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia, 1903, Trotsky melukiskan Lenin sebagai orang yang ambisius, haus kekuasaan dan ingin mencapainya dengan segala cara, bahkan dengan menyebarkan “teror” dan bertindak seperti “diktator”. Bukankah ciri-ciri ini juga yang dilemparkan orang-orang Trotskyis, orang-orang reaksioner anti-komunis dan media borjuis kepada orang yang disebut “setan” oleh Martin? Rupanya Martin lupa bahwa di bawah pimpinan “setan” ini, rakyat Soviet berhasil mengusir agresi fasis Hitler dan menyelamatkan rakyat Eropa dari cengkeraman fasisme Jerman. Dengan berjalannya waktu, kaum borjuasi dan kaum imperialis melalui semua media yang dikuasainya berusaha mengurangi peran dan jasa rakyat Soviet dalam mengakhiri Perang Dunia II. Sebagai gantinya, mereka menonjolkan peran Sekutu.

Pada 1913, Trotsky menulis kepada Chheidze, pemimpin Menshevik,: “Leninisme pada saat ini dibangun di atas kebohongan dan pemalsuan dan mengandung unsur-unsur beracun dari kehancurannya sendiri”. Trotsky melanjutkan: “The wretched squabbling systematically provoked by Lenin, that old hand at the game, that professional exploiter of all that is backward in the Russian labour movement, seems like a senseless obsession.”

Jadi kita tahu pendapat Trotsky tentang Leninisme. Dan ia menganggap Lenin sebagai profesional yang ahli dalam mengeksploitasi semua yang terbelakang dalam gerakan buruh Rusia.

Lenin mengungkap ciri lain dari Trotsky adalah kegiatan faksinya yang memecah belah organisasi. Berikut kata-kata Lenin: “The reason is that the label “non-factionalism” is used by the worst representatives of the worst remnants of factionalism to mislead the younger generation of workers. ……“Although he claims to be non-factional, Trotsky is known to everybody who is in the least familiar with the working-class movement in Russia as the representative of “Trotsky’s  faction”.  …….“We, therefore, declare on behalf of the whole Party, that Trotsky is carrying on an anti-Party policy, that he is undermining the legality of the Party, and entering on a path of adventure and schism”…

Jadi tokoh yang dikagumi Martin adalah wakil terburuk dari sisa-sisa faksionalisme yang menyesatkan generasi muda kaum buruh dan memecah belah Partai dengan kegiatan anti-Partainya.
Ada lagi kata-kata Lenin: “Everybody knows that Trotsky is fond of  high-sounding and empty phrases”…..”All that glitters is not gold. There is much glitter and sound in Trotsky’s phrases, but they are meaningless.”

Yang saya ungkapkan itu adalah penilaian Lenin terhadap Trotsky, bukan penilaian Stalin atau pengikut Stalin. Apakah Martin menganggap Lenin juga sebagai “mereka yang berbulu dan berhati musang”? Kalau begitu, Lenin juga masuk kategori “setan”?

Masih ada lagi fakta sejarah yang mungkin tak diketahui Martin. Trotsky dan grup faksinya sudah mulai  berkolaborasi dengan Jerman sejak Lenin masih memimpin. Caranya adalah dengan menjual segala macam informasi penting. Dan kegiatan ini terus dilakukan oleh para pengikutnya, walaupun Trotsky sudah berada di luar Uni Soviet. Dalam perkembangan selanjutnya kolaborasi juga dilakukan dengan kaum fasis Jepang.

Semua orang tahu, Martin termasuk orang yang dipenjara rezim Orde Baru Soeharto. Dan semakin banyak orang yang tahu akan kebohongan, penipuan dan pemutarbaikkan fakta oleh rezim orba untuk membenarkan pembantaian, penyiksaan, penghilangan paksa, pemenjaraan jutaan orang tak bersalah. Semakin banyak juga orang yang tahu bahwa Soeharto melakukan kudeta militernya guna mengubah seratus delapan puluh derajat politik anti-imperialis dan anti neo-kolonialis dari pemerintahan Soekarno.

Yang mengherankan adalah sikap Martin yang justru mempercayai begitu saja tanpa melakukan studi mendalam dan “mengunyah-unyah” informasi serta propaganda kaum reaksioner anti-komunis dan kaum imperialis berkenaan dengan RBKP, Sosialisme, Mao dan Stalin. Sikap yang sudah banyak saya temukan di kalangan mereka yang sudah merosot menjadi revisionis,  reformis dan renegade atau pengkhianat. Sikap yang identik dengan sikap “sastrawan” senior, Taufik Ismail. [Tatiana Lukman]