Burj Khalifa. (sumber: Unsplash)
Burj Khalifa. (sumber: Unsplash)

Dubai dikenal dengan arsitektur modern dan gedung pencakar langitnya yang menakjubkan. Salah satu ikon kota ini adalah Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia dengan ketinggian mencapai 828 meter. Namun, sedikit yang menyadari bahwa ketinggian ini menyebabkan perbedaan waktu salat antara lantai bawah dan lantai atas gedung. Fenomena ini menjadi perhatian para ulama dan otoritas keagamaan di Uni Emirat Arab dalam menetapkan jadwal ibadah bagi para penghuni dan pekerja di gedung tersebut.

Mengapa Waktu Salat Berbeda di Burj Khalifa?

Perbedaan waktu salat di Burj Khalifa disebabkan oleh fenomena astronomi sederhana: semakin tinggi seseorang berada dari permukaan bumi, semakin lama ia dapat melihat matahari sebelum terbenam, dan semakin lambat pula waktu fajar tiba. Efek ini mirip dengan seseorang yang berada di puncak gunung dan melihat matahari lebih lama dibanding mereka yang berada di lembah.

Dalam konteks Burj Khalifa, perbedaan ini cukup signifikan sehingga otoritas keagamaan Dubai mengeluarkan pedoman khusus terkait waktu salat bagi mereka yang berada di gedung ini:

Lantai 1–79: Mengikuti waktu salat seperti yang ditetapkan untuk kota Dubai secara umum.

Lantai 80–149: Waktu Maghrib, Isya, dan Subuh ditunda sekitar 2 menit dibandingkan lantai bawah.

Lantai 150 ke atas: Waktu Maghrib, Isya, dan Subuh ditunda sekitar 3 menit dibandingkan lantai dasar.

Dengan aturan ini, umat Islam yang berada di gedung Burj Khalifa harus memperhatikan perbedaan waktu salat tergantung lantai tempat mereka berada.

Pandangan Ulama Mengenai Perbedaan Waktu Salat

Para ulama dari berbagai mazhab telah membahas bagaimana menentukan waktu salat dalam kondisi geografis atau astronomi yang tidak biasa. Secara umum, waktu salat ditentukan berdasarkan pergerakan matahari. Namun, dalam kasus tempat-tempat tinggi seperti Burj Khalifa, pandangan ulama berbeda dalam penerapannya:

Mazhab Hanafi dan Syafi’i: Menegaskan bahwa seseorang harus mengikuti waktu salat sesuai dengan apa yang mereka lihat secara langsung. Artinya, jika seseorang masih melihat matahari meskipun di tempat tinggi, maka ia belum boleh menunaikan salat Maghrib.

Mazhab Maliki dan Hanbali: Mengakui adanya perbedaan waktu berdasarkan posisi ketinggian seseorang. Oleh karena itu, penyesuaian beberapa menit sebagaimana diterapkan di Burj Khalifa sesuai dengan kaidah fikih.

Fatwa dari Otoritas Keagamaan Dubai: Memutuskan untuk membagi waktu salat berdasarkan ketinggian lantai guna memudahkan penerapan bagi penghuni dan pekerja.

Kasus Serupa di Dunia

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Burj Khalifa. Beberapa lokasi lain juga mengalami perbedaan waktu salat akibat faktor astronomi:

Gunung Everest: Para pendaki yang mencapai puncak gunung tertinggi di dunia harus menyesuaikan waktu salat mereka berdasarkan posisi matahari yang berbeda dari mereka yang berada di dataran rendah.

Pesawat Terbang: Ulama sepakat bahwa seseorang yang sedang dalam penerbangan harus mengikuti waktu salat berdasarkan posisi mereka saat itu, bukan berdasarkan jadwal di bandara keberangkatan atau kedatangan.

Burj Khalifa menjadi contoh unik bagaimana faktor ketinggian dapat mempengaruhi waktu ibadah. Para ulama dan otoritas keagamaan telah memberikan pedoman yang jelas untuk mengatasi perbedaan ini, sehingga umat Islam yang berada di gedung tersebut tetap dapat menjalankan ibadah dengan benar. Kejadian ini juga menjadi bukti bagaimana ilmu astronomi dan fikih Islam dapat saling melengkapi dalam menjawab tantangan zaman modern. [IQT]