Menolak Daur Ulang Ide Wisata Halal ala Sandi di Bali

Menolak Daur Ulang Ide Wisata Halal ala Sandi di Bali

Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno saat berkunjung ke Tanjung Benoa, Bali, Minggu (24/2/2019). (Media Centre Prabowo-Sandi).

Koran Sulindo – Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno mendaur ulang janjinya untuk mengembangkan wisata halal ketika menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Di Jakarta, ide tersebut tak sempat dilaksanakan karena kadung maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

Dengan statusnya sebagai cawapres, Sandi kembali bilang ingin mengembangkan hal serupa. Cuma kali ini untuk wilayah yang berbeda: Bali. Ia merencanakan daerah wisata itu sebagai tujuan wisata halal.

Menurut Sandi, Bali potensial karena memiliki potensi ceruk pasar yang bisa menarik uang hingga triliunan rupiah jika pariwisata halal diterapkan.

“Prabowo-Sandi fokus memberdayakan UMKM. Di Bali sendiri kami harapkan pariwisata akan lebih baik dan multiplayer-nya banyak sekali kepada UMKM. Salah satunya juga pariwisata halal. Banyak potensinya, dan sekarang diambil oleh Bangkok,” kata Sandi di Denpasar, Bali, Minggu (24/2).

“Secara umum potensi pariwisata halal konon kabarnya di atas Rp3.000 triliun. Ini sangat luar biasa kalau bisa kita ambil untuk gerakan ekonomi di Bali,” kata dia.

Berbanding terbalik dengan Sandi yang optimistis, beberapa pemangku kepentingan pariwisata di Bali justru menolak ide itu. Di antaranya seperti yang disampaikan oleh Gubernur Bali Wayan Koster.

“Saya kira untuk Bali sudah ada branding-nya sesuai kearifan lokal Bali. Karakter Bali yaitu pariwisata berbasis budaya,” kata dia di Bali, Selasa (26).

“Saya kira nggak perlu lagi kita mengembangkan branding yang lain justru itu akan mempersempit dan mengecilkan branding sejenis yang sudah ada di Bali, wisata budaya.”

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra menyebut wisata halal tak mungkin dikembangkan sama sekali.

“Ya nggak mungkinlah, kita sudah mengiklankan sebagai pariwisata budaya sesuai Perda Nomor 2 Tahun 2012,” kata Yuniartha.

Meski tak setuju dengan konsep yang ditawarkan Sandi, bukan berarti tak ada unsur halal di Bali.  “Kalau ada wisatawan Timur Tengah mencari sesuatu yang halal di sini, itu ada,” kata dia.

Ia menyebut selama puluhan tahun yang ditonjolkan Bali adalah pariwisata budaya yang tak mengacu pada ajaran agama tertentu.

Model pariwisata ini sudah terbukti sanggup menarik minat jutaan wisatawan untuk berkunjung ke Bali. “Tetangga kami Lombok, sudah menerapkan itu. Janganlah kami juga,” kata dia.

Ia menambahkan, jika misalnya mengusung konsep halal wisatawan justru bakalan bingung dan merugikan Bali secara keseluruhan. Bali disebutnya tak akan lagi memiliki punya diferensiasi dengan tempat-tempat wisata lain.

“Biarlah orang punya pilihan. Kalau mau wisata halal ya ke Lombok atau Aceh. Kalau mau wisata budaya ya ke Bali. Saling berbagi peran.”

Ide Konyol

Sementara itu menurut Guru Besar geografi regional yang juga mantan Ketua Pusat Studi Pariwisata UGM M. Baiquni menyebut konsep pariwisata, apa pun jenisnya, harus berangkat dari kenyataan sosial masyarakat setempat.

Jika masyarakat berasal dari berbagai golongan sebaiknya wisata yang mengedepankan unsur tertentu dihindari. Baiquni menilai gagasan Sandi mengada-ada.

“Masyarakat Bali itu beragam, multikultural, sehingga tidak mudah apabila pariwisata halal dikedepankan,” kata Baiquni seperti dikutip dari Tirto.id.

Ia menyebut usul wisata halal jadi terdengar konyol. Toh menurutnya, pemerintah dan pelaku wisata di Bali juga mengakomodir kebutuhan Muslim yang liburan sana.  “Di Bali masih ada kok rumah makan yang tidak menjual babi. Mereka menyajikan halal food,” kata dia.

Ide wisata halal yang diusulkan Sandi bagaimanapun bukan kali ini saja diucapkan. Ia pernah melontarkan usulan serupa saat menjadi Wagub DKI Jakarta. Bahkan Sandi memperkirakan jika target satu juta wisatawan di DKI Jakarta tercapai peluang transaksi ekonomi yang bisa tercipta sebesar Rp 40 triliun.

“Target sudah jelas menghadirkan satu juta wisatawan halal lima tahun ke depan. Satu juta wisatawan halal menjemput peluang ekonomi pariwisata halal senilai Rp 30-40 triliun di tahun 2020. Siap? Siap nggak?” kata Sandiaga bulan Mei 2018 silam ketika memberi sambutan pertemuan pengusaha wisata halal di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat.

Kala itu Sandi yakin target satu juta wisatawan halal tercapai karena Jakarta dianggapnya memiliki fasilitas-fasilitas yang membantu merealisasikan target tersebut.

“Kami mampu dan Insya Allah pasti bisa. Setuju? Kami punya 40 Ribu lebih kamar hotel. 40 Ribu di Jakarta. Ada 5 ribu lebih masjid dan musala. 17.000 Makanan dan minuman bersertifikat halal. 200 Destinasi wisata, 170 mal,” kata Sandi.

“Sudah banyak mal yang ikut juga sebagai mall syariah dan mall yang sadar zakat. Ratusan destinasi ziarah, belum tersertifikasi dan lebih penting, semuanya ini punya kita. Punya Jakarta, punya masyarakat semua. Punya anda semua, para pelaku usaha bisnis halal.”

Belum lagi idenya terwujud, Sandi justru buru-buru meninggalkan kursi Wagub DKI dan mengejar kursi cawapres mendampingi  Prabowo Subianto. Pada kampanye di Bali itulah Sandi lagi-lagi mengusulkan idenya. [TGU]