Charlie Chaplin saat di Garut. (Istimewa)

Tanggal 25 Desember selama ini lekat dengan perayaan Natal, sebuah hari yang dipenuhi simbol sukacita, kehangatan, dan kebersamaan. Namun, di balik makna religius dan perayaannya, tanggal ini juga menyimpan catatan duka bagi dunia seni dan hiburan. Pada 25 Desember 1977, dunia kehilangan salah satu sosok paling berpengaruh dalam sejarah perfilman yaitu Charlie Chaplin.

Charles “Charlie” Spencer Chaplin wafat pada usia 88 tahun akibat komplikasi stroke. Ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 04.00 waktu setempat di rumahnya di Corsier-sur-Vevey, Vaud, Swiss, tepat di Hari Natal.

Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang jenius film bisu yang sepanjang hayatnya menghadirkan tawa, kritik sosial, sekaligus refleksi kemanusiaan lewat layar perak.

Chaplin lahir di London, Inggris, pada 16 April 1889, dari keluarga seniman. Ayahnya dikenal sebagai vokalis dan aktor, sementara ibunya, yang menggunakan nama panggung Lily Harley, adalah seorang aktris dan penyanyi.

Dari kedua orang tuanya itulah Chaplin mewarisi bakat seni yang kelak membentuk jalan hidupnya. Sejak kecil, panggung dan dunia pertunjukan bukanlah hal asing baginya.

Mengutip charliechaplin.com, debut profesional Chaplin dimulai pada usia 10 tahun ketika ia bergabung dengan kelompok remaja “The Eight Lancashire Lads”. Bakatnya terus terasah hingga pada sekitar tahun 1910, saat berusia 17 tahun, ia berangkat ke Amerika Serikat bersama Fred Karno Repertoire Company.

Dua tahun kemudian, kariernya mulai menunjukkan arah yang jelas. Chaplin aktif memproduksi sekaligus membintangi film-film pendek dengan karakter gelandangan lucu yang kelak menjadi ciri khasnya. Sejumlah judul film awal yang mengangkat namanya antara lain The Floorwalker, The Fireman, The Vagabond, One A.M., The Count, The Pawnshop, The Rink, dan The Immigrant.

Salah satu momen paling penting dalam perjalanan kariernya terjadi ketika ia memperkenalkan karakter ikonik Little Tramp dalam film Kid’s Auto Races. Sosok ini tampil dengan gaya berjalan terseok-seok, celana panjang kebesaran, sepatu besar, topi khas, dan kumis hitam tebal.

Little Tramp bukan sekadar tokoh komedi, melainkan representasi manusia kecil yang berjuang menghadapi kerasnya kehidupan dengan humor dan keteguhan hati. Karakter inilah yang mengantarkan Chaplin pada ketenaran dan kekayaan, sekaligus menempatkannya sebagai figur yang dihormati di dunia film.

Kesuksesan tersebut mendorong Chaplin mendirikan studio film sendiri di La Brea Avenue, Hollywood. Keputusan itu diambil demi kebebasan artistik. Ia ingin meracik film-film secara independen, tanpa tekanan industri, serta memiliki kendali penuh atas proses kreatifnya. Langkah ini terbukti menjadi fondasi kuat bagi puncak kesuksesannya pada dekade 1920-an.

Melansir history.com, Chaplin bahkan berhasil merumuskan genre sinematik yang ia sebut sebagai “musik visual”, yakni komedi pantomim tanpa dialog yang mengandalkan gerak tubuh, ekspresi wajah, dan ritme visual. Melalui pendekatan ini, film-film Chaplin mampu menembus batas bahasa dan budaya.

Sejumlah karya besar lahir dari tangan dan pikirannya, termasuk Modern Times (1936) yang menggambarkan kerasnya dunia industri modern dan dehumanisasi akibat mesin ciptaan manusia. Lalu The Great Dictator (1940), sebuah satire tajam yang secara terbuka mengkritik Adolf Hitler dan fasisme. Selain itu, ada pula The Circus, City Lights, dan Monsieur Verdoux, yang masing-masing menegaskan kedalaman visi artistik Chaplin.

Di balik gemerlap ketenaran, kehidupan Chaplin tak lepas dari kontroversi. Menurut catatan newyorker.com, ia pernah dituduh oleh pemerintah Amerika Serikat, melalui FBI, sebagai seorang komunis dan predator seksual.

Chaplin memang dikenal mengagumi pemikiran kiri, namun ia secara tegas menolak label komunis yang disematkan kepadanya. Tuduhan-tuduhan tersebut sempat membayangi reputasinya, meski tidak menghapus pengaruh besarnya dalam sejarah film.

Terlepas dari segala polemik, Charlie Chaplin diakui sebagai seniman multitalenta: aktor, penulis, sutradara, produser, komposer, sekaligus koreografer jenius. Warisan yang ia tinggalkan melampaui zamannya, membentuk dasar-dasar perfilman modern dan memperkaya bahasa sinema dunia.

Sepanjang hidupnya, berbagai penghargaan diraihnya, termasuk gelar kebangsawanan yang diterimanya pada 1975 sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya sebagai “Raja Film Bisu”.

Menariknya, Chaplin juga memiliki jejak hubungan dengan Indonesia. Ia tercatat pernah mengunjungi Hindia Belanda pada tahun 1932 dan 1936. Dalam kunjungan tersebut, Chaplin berlibur sekaligus menikmati keindahan alam dan budaya lokal. Ia singgah di sejumlah kota seperti Batavia (Jakarta), Bandung, Garut, Yogyakarta, Surabaya, hingga Bali, menginap di hotel-hotel ternama, dan meninggalkan kesan mendalam terhadap kekayaan budaya Nusantara.

Wafatnya Charlie Chaplin pada 25 Desember menjadi pengingat bahwa di tengah perayaan dan kegembiraan, sejarah juga mencatat kehilangan besar. Namun, meski raganya telah lama tiada, karya dan gagasannya terus hidup, menghibur, mengkritik, dan mengajak manusia merenungi dunia melalui tawa yang penuh makna. [UN]