Gambar jarak dekat wilayah Oceanus Procellarum di Bulan yang diambil oleh wahana pendarat Luna 9 milik Uni Soviet pada Februari 1966. (NASA)

Tiga tahun sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di Bulan, sebuah wahana kecil milik Uni Soviet telah lebih dulu tiba di sana. Pada 3 Februari 1966, Luna 9 sukses melakukan pendaratan lunak pertama di permukaan Bulan, menjadi fondasi penting bagi eksplorasi Bulan modern di tengah sengitnya perlombaan antariksa era Perang Dingin.

Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan simbol dominasi teknologi Uni Soviet pada masa awal perlombaan antariksa yang berlangsung sengit di era Perang Dingin. Bagaimana proses lengkap pendaratan wahana Luna 9 ini? Di himpun dari berbagai sumber termasuk NASA dan space.com, berikut kisah lengkapnya.

Pada dekade 1960-an, Amerika Serikat dan Uni Soviet terlibat dalam apa yang dikenal sebagai space race, sebuah persaingan terbuka untuk menunjukkan keunggulan sains dan teknologi melalui eksplorasi luar angkasa. Uni Soviet saat itu memang sangat agresif dalam pengembangan program antariksa.

Mereka lebih dahulu mengirim satelit buatan pertama ke orbit Bumi dan secara konsisten menorehkan berbagai “yang pertama” dalam sejarah kosmonautika. Sementara Amerika Serikat pada akhirnya berhasil mendaratkan manusia di Bulan pada 1969, jalan menuju capaian tersebut diwarnai keberhasilan dan kegagalan dari kedua belah pihak.

Uni Soviet sendiri gagal mewujudkan ambisi membawa manusia ke Bulan. Program roket Zond yang dirancang untuk misi berawak tidak pernah mencapai kesiapan operasional, bahkan salah satu uji peluncuran pada 1968 berakhir dengan ledakan di landasan yang menewaskan beberapa orang.

Ketika target pendaratan manusia semakin sulit diraih, Uni Soviet mengalihkan fokus pada misi robotik. Pilihan ini justru melahirkan rangkaian keberhasilan penting yang memberi dampak besar bagi pemahaman manusia tentang Bulan.

Sebelum Luna 9, Uni Soviet telah menarik perhatian dunia melalui misi Luna 3 pada 1959. Wahana ini terbang melintasi Bulan dan untuk pertama kalinya memotret sisi jauh Bulan, wilayah yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya. Capaian tersebut menegaskan posisi Uni Soviet sebagai pelopor eksplorasi Bulan berbasis teknologi tak berawak.

Namun, mendarat di Bulan adalah tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar terbang melintas. Baik Uni Soviet maupun Amerika Serikat sebelumnya memang pernah menjatuhkan wahana ke permukaan Bulan, baik secara sengaja maupun sebagai pendaratan darurat.

Akan tetapi, pendaratan lunak membutuhkan presisi tinggi, sistem peredam benturan yang andal, serta kemampuan mengirimkan data kembali ke Bumi. Bahkan, pada masa itu masih ada perdebatan di kalangan ilmuwan tentang apakah permukaan Bulan cukup padat untuk menopang wahana antariksa. Sebagian ahli khawatir wahana yang mendarat akan tenggelam ke dalam lapisan debu regolit dan tak dapat berfungsi.

Luna 9 diluncurkan pada 31 Januari 1966 dan mencapai Bulan tiga hari kemudian. Menjelang benturan, sebuah kapsul pendaratan dilepaskan sekitar lima meter di atas permukaan untuk memastikan pendaratan yang lembut. Menurut NASA, wahana yang disebut sebagai “stasiun bulan otomatis” ini berbentuk bulat dengan diameter sekitar 152 sentimeter dan berat sekitar 99 kilogram.

Di dalamnya terdapat sistem radio, perangkat pemrograman, baterai, sistem kontrol termal, serta peralatan ilmiah, semuanya berada dalam wadah bertekanan 1,2 atmosfer. Empat antena terpasang di bagian luar dan dirancang untuk terbuka secara otomatis setelah pendaratan. Untuk meredam benturan, wahana ini juga dilengkapi kantung udara.

Selain sistem pendukung utama, Luna 9 membawa kamera televisi dan detektor radiasi. Wahana ini sempat beberapa kali terpantul di permukaan Bulan sebelum akhirnya berhenti di wilayah yang dikenal sebagai Lautan Badai. Sekitar 250 detik setelah pendaratan, empat kelopak penstabil terbuka dan sistem televisi mulai mengirimkan gambar ke Bumi. Proses fotografi luar angkasa kala itu masih sangat terbatas.

Gambar uji pertama memiliki kontras rendah karena posisi Matahari hanya sekitar tiga derajat di atas cakrawala. Meski demikian, melalui tujuh sesi radio dengan total durasi lebih dari delapan jam, Luna 9 berhasil mengirimkan tiga rangkaian gambar televisi. Jika digabungkan, gambar-gambar tersebut menghasilkan empat panorama permukaan Bulan di sekitar lokasi pendaratan.

Luna 9 bertahan selama tiga hari waktu Bumi hingga baterainya habis. Dari data visual yang dikirim, para ilmuwan mengetahui bahwa wahana tersebut mendarat di dekat kawah berdiameter sekitar 25 meter. Awalnya wahana berada pada kemiringan 15 derajat, tetapi pergeseran regolit di bawahnya membuat posisi akhir wahana miring hingga 22,5 derajat. Temuan ini sekaligus mematahkan kekhawatiran bahwa permukaan Bulan tidak mampu menopang wahana antariksa.

Keberhasilan Luna 9 menjadi titik balik penting dalam program Luna Uni Soviet. Pada tahun yang sama, Luna 13 (1966) menyusul sebagai wahana kedua yang berhasil melakukan pendaratan lunak dan menganalisis sifat mekanik tanah Bulan. Empat tahun kemudian, Luna 16 (1970) mencatat sejarah sebagai wahana pertama yang berhasil mengambil sampel tanah Bulan dan membawanya kembali ke Bumi.

Eksplorasi Uni Soviet berlanjut melalui Luna 17 (1970) dan Luna 21 (1973) yang membawa penjelajah Bulan pertama dalam sejarah, Lunokhod 1 dan Lunokhod 2. Kedua rover ini menjelajahi permukaan Bulan sejauh puluhan kilometer dan mengirimkan data ilmiah dalam jumlah besar. Misi pengembalian sampel kembali dilakukan melalui Luna 20 (1972) dan Luna 24 (1976), yang memperkaya pemahaman manusia tentang komposisi tanah Bulan.

Sementara itu, Amerika Serikat mencatat pendaratan lunak pertamanya melalui Surveyor 1 pada Mei 1966 dan kemudian melaksanakan enam misi berawak Apollo yang mendarat di Bulan antara 1969 hingga 1972. Setelah era tersebut, pendaratan lunak di Bulan sempat terhenti selama beberapa dekade hingga Tiongkok mengirimkan wahana Chang’e-3 dan rover Yutu pada 2013.

Dari pendaratan lunak pertama hingga pengoperasian rover dan pengembalian sampel, Uni Soviet meletakkan fondasi penting bagi eksplorasi Bulan modern, bahkan sebelum manusia pertama menjejakkan kaki di permukaannya pada 1969.

[UN]