Di Indonesia, setiap tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN). Peringatan tahunan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum penting untuk menggalang kepedulian sekaligus memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam membangun kualitas gizi masyarakat demi terwujudnya bangsa yang sehat dan berdaya saing.
Berdasarkan keterangan dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, Hari Gizi Nasional pertama kali diselenggarakan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada pertengahan tahun 1960-an. Seiring berjalannya waktu, peringatan ini kemudian dilanjutkan dan dikelola oleh Direktorat Gizi Masyarakat sejak era 1970-an hingga kini. Keberlanjutan tersebut mencerminkan kesadaran panjang bangsa Indonesia bahwa persoalan gizi merupakan fondasi utama pembangunan sumber daya manusia.
Memasuki tahun 2026, Hari Gizi Nasional genap diperingati untuk ke-66 kalinya. Pada peringatan tahun ini, pemerintah mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”. Tema dan slogan tersebut menegaskan pentingnya pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi seimbang sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat agar memulai pola hidup sehat dari pilihan makanan sehari-hari. Pesan ini sejalan dengan semangat kemandirian pangan dan penguatan potensi lokal yang kaya akan nilai gizi.
Upaya peningkatan gizi masyarakat sejatinya telah menjadi perhatian pemerintah Indonesia sejak awal kemerdekaan. Pada era 1950-an, konsep “4 Sehat 5 Sempurna” diperkenalkan oleh Prof. Poerwo Soedarmo, yang dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia. Pedoman ini menekankan pentingnya konsumsi makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah, serta susu sebagai pelengkap untuk mengatasi berbagai bentuk defisiensi gizi yang kala itu masih banyak dijumpai di masyarakat.
Memasuki periode 1970-an hingga 1990-an, fokus kebijakan bergeser pada perbaikan gizi keluarga secara lebih sistematis. Pada masa ini, Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu mulai dikembangkan sebagai upaya kesehatan berbasis masyarakat untuk memantau tumbuh kembang balita sekaligus memberikan penyuluhan gizi.
Selain itu, pemerintah meluncurkan program Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran gizi di tingkat rumah tangga. Di lingkungan sekolah, Program Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) hadir sebagai upaya menyediakan sarapan bergizi bagi siswa sekolah dasar. Sementara itu, Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) dibangun untuk memantau kondisi pangan dan gizi masyarakat sebagai langkah pencegahan terhadap kerawanan pangan dan kelaparan.
Memasuki era 2000-an, pemahaman tentang gizi mengalami perubahan signifikan. Konsep “4 Sehat 5 Sempurna” dinilai tidak lagi memadai karena belum menekankan aspek porsi, keberagaman, serta keseimbangan asupan. Sebagai gantinya, pemerintah menetapkan Pedoman Gizi Seimbang sebagai acuan resmi melalui Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009. Pedoman ini tidak hanya menyoroti keberagaman makanan, tetapi juga mengaitkannya dengan aktivitas fisik, perilaku hidup bersih, dan pemeliharaan berat badan ideal.
Memasuki dekade 2010-an hingga saat ini, perhatian pemerintah semakin terfokus pada penanganan stunting dan peningkatan kualitas gizi sejak usia dini. Pada tahun 2017, Kementerian Kesehatan meluncurkan kampanye “Isi Piringku” sebagai pengganti slogan lama, dengan penekanan pada komposisi dan porsi sekali makan yang seimbang antara makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah. Upaya ini diperkuat dengan fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode emas dalam mencegah gizi buruk kronis dan stunting.
Dalam beberapa tahun terakhir, komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pada 2024 dan mulai berjalan bertahap sejak 2025. Program yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto ini menyasar anak sekolah, balita, serta ibu hamil dengan tujuan memastikan akses terhadap makanan bergizi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak dini.
Melalui peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 tahun 2026, pemerintah dan masyarakat diingatkan bahwa perjuangan mewujudkan gizi seimbang adalah proses panjang yang memerlukan kolaborasi berkelanjutan. Dengan memanfaatkan kekayaan pangan lokal dan memulai perubahan dari piring makan sehari-hari, cita-cita membangun generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berkualitas diharapkan dapat semakin mendekati kenyataan. [UN]



