Cello Andrea Amati 'King' milik Museum Musik Nasional (pertengahan tahun 1500-an) salah satu Cello tertua di Dunia. (Foto: Bill Willroth, Sr./National Music Museum)

Setiap 29 Desember, dunia musik memberi ruang khusus bagi pecinta cello. Hari Cello Internasional dirayakan oleh musisi, pelajar musik, hingga penikmat seni di berbagai negara sebagai bentuk penghormatan terhadap peran penting cello dalam lanskap musik klasik maupun modern.

Peringatan ini bukan sekadar selebrasi instrumen, melainkan juga perayaan atas kekuatan ekspresi yang lahir dari senar dan busur, dari nada-nada rendah yang mampu menyentuh lapisan emosi terdalam manusia.

Di banyak panggung, cello dikenal sebagai instrumen dengan karakter suara yang hangat, dalam, dan penuh nuansa. Ia hadir mengiringi konser orkestra, dalam pertunjukan solo, hingga menyusup ke dalam komposisi kontemporer yang eksperimental. Suara cello sering kali menjadi jembatan antara keheningan dan ledakan perasaan, menjadikannya salah satu instrumen paling ekspresif dalam dunia musik.

Sejarah cello tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang instrumen gesek lainnya. Mengutip stagemusiccenter.com, akar cello berkaitan dengan alat musik seperti harpa dan lira yang telah digunakan oleh peradaban kuno.

Cello mulai dikenal luas di Italia utara sekitar tahun 1550. Instrumen ini merupakan anggota keluarga biola dan pada awal kemunculannya disebut sebagai biola bas. Di Italia, ia dikenal dengan nama viola da braccio, sebuah penanda bahwa cello lahir dari tradisi panjang musik gesek Eropa.

Nama Andrea Amati menempati posisi penting dalam sejarah cello. Meski bukan penemu cello, Amati dikenal sebagai pembuat cello pertama yang terdokumentasi dengan baik, terutama karena karyanya yang dibuat untuk Raja Charles IX dari Prancis.

Lukisan-lukisan abad ke-12 dan ke-13 sebenarnya telah menggambarkan instrumen mirip biola, menandakan bahwa keluarga alat musik ini sudah hadir lebih awal. Namun, pengembangan cello sebagai instrumen yang kita kenal sekarang baru benar-benar terjadi pada abad ke-15.

Masuknya cello ke dunia musik secara lebih luas terjadi relatif belakangan, salah satunya dipengaruhi oleh selera ideal suara dalam musik Eropa Barat pada masa itu. Musik vokal mendominasi hampir seluruh bidang musikal, sehingga para penyanyi secara tidak langsung menentukan standar bunyi.

Praktik pertunjukan yang intens sepanjang abad ke-15 membuat para vokalis membutuhkan nada dengan intonasi tinggi dan karakter sengau. Permintaan terhadap kualitas suara semacam ini, yang kini justru identik dengan musik Timur, mendorong lahirnya instrumen dengan kemampuan ekspresif baru dan cello menjadi salah satunya.

Perjalanan cello memasuki bentuk modernnya tidak lepas dari peran Antonio Stradivari. Setelah tahun 1710, Stradivari mulai memproduksi cello dengan ukuran yang berada di antara dua dimensi ekstrem sebelumnya tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Ukuran inilah yang kemudian diadopsi oleh para pembuat cello di seluruh Eropa dan akhirnya menjadi standar hingga hari ini. Penetapan ukuran tersebut bukan hanya soal estetika, melainkan juga berkaitan langsung dengan kualitas suara dan kenyamanan permainan.

Transformasi budaya dan tuntutan ruang pertunjukan turut mengubah karakter suara cello. Jika sebelumnya cello menghasilkan bunyi lembut untuk audiens terbatas, perkembangan zaman menuntut suara yang mampu menjangkau khalayak lebih luas.

Para pembuat instrumen kemudian melakukan berbagai inovasi, mulai dari meninggikan jembatan untuk memperkuat tekanan senar dan meningkatkan volume, hingga memanjangkan leher serta papan jari demi kejelasan dan respons yang lebih baik. Dari bengkel-bengkel pembuat alat musik, cello terus berevolusi mengikuti kebutuhan musikal manusia.

Kini, cello tidak lagi terkurung dalam tembok musik klasik Eropa. Instrumen ini telah merambah berbagai genre, termasuk jazz, pop, hingga rock. Bahkan, muncul gaya musik tersendiri yang dikenal sebagai cello rock, subgenre rock dengan nuansa gothic yang khas dan atmosferik. Fleksibilitas inilah yang membuat cello tetap relevan dan terus memikat lintas generasi, dari ruang konser formal hingga panggung musik alternatif.

Di balik pesonanya, cello menyimpan banyak fakta menarik yang kerap luput dari perhatian. Istilah cello sendiri merupakan bentuk singkat dari kata Italia violoncello, yang berarti “biola besar kecil”. Instrumen ini disebut-sebut sebagai alat musik gesek terbesar kedua di dunia setelah kontrabas. Cello tertua yang masih ada hingga kini dikenal dengan nama The King, dibuat oleh Andrea Amati antara tahun 1538 hingga 1560, dan saat ini disimpan di Museum Musik Nasional di South Dakota.

Pemain cello dikenal sebagai pemain cello atau violoncelli. Pada masa awal, senar cello dibuat dari usus domba dan kambing, sebelum akhirnya digantikan oleh bahan logam pada senar modern. Dalam sejarahnya, cello tidak selalu memiliki empat senar.

Di Jerman dan wilayah Belanda pada abad ke-17 dan ke-18, cello dengan lima senar justru lebih umum digunakan. Bahkan, perbedaan fungsi permainan juga memengaruhi detail teknisnya; cello yang dimainkan dalam kelompok biasanya menggunakan rambut busur hitam yang lebih tebal, sementara permainan solo cenderung memakai rambut putih yang lebih ringan.

Secara historis, cello sangat erat dengan musik klasik Eropa, namun perkembangannya membuktikan bahwa instrumen ini mampu beradaptasi dengan zaman. Nama-nama seperti Liz Davis Maxfield dan Mike Block menjadi contoh bagaimana cello terus menemukan suara baru di tangan para musisi modern.

Hari Cello Internasional bukan hanya momentum untuk mengenang sejarah panjang sebuah instrumen, tetapi juga ajakan untuk mendengarkan kembali suara yang sering berbicara lirih namun menggetarkan. Dari aula konser hingga panggung musik kontemporer, cello terus membuktikan dirinya sebagai instrumen yang hidup, berubah, dan akan tetap mengiringi perjalanan manusia selama ratusan tahun mendatang. [UN]