Dwarapala di Candi Sewu

Koran Sulindo – Selain secara politis bertindak sebagai wakil tertinggi Inggris di Hindia, Thomas Stamford Raffles  juga dikenal rajin mendokumentasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat di mana dia bertugas.

Di Jawa selain mendokumentasikan Candi Borobudur di masa awal penemuannya kembali, Raffles juag membuat catatan rinci tentang Candi Sewu.

Catatan itu juga dituliskannya dalam bukunya History of Java. Sebelum kedatangan Raffles ke tempat itu, gambar tentang candi itu telah dibuat oleh H.C. Cornelius yang berupa denah tampak muka dari candi induk dan candi perwara meski pada gambar denah terdapat beberapa kesalahan.

Berdasarkan dari gambar itu Raffles membuat gambar-gambar rekontruksi candi induk dan candi perwara namun gambar itu tidak bermutu.

Akhirnya Raffles memerintahkan untuk membuat dua gambar grafis yang memperlihatkan keadaan bangunan pada tahun 1815. Seperti dinyatakan Raffles, sejak tahun 1807 bangunan itu kelihatan makin rusak.

Dalam hidupku, sekali tidak pernah bertemu dengan hasil karya manusia yang menakjubkan dan sempurna. Bahwa di daerah yang sedemikian sempit bisa menumpuk begitu banyak hasil ilmu dan selera zaman dari era panjang yang terlupakan, membuat saya menduga, dalam istilah militer, sebuah pusat Hinduisme di Jawa.

Reruntuhan ini berada dalam 855 yard timur barat laut sebelah utara Loro Jongrang, dan 1355 yard dari jalan raya di seberang rumah bandar, mempunyai bentuk pyramidal yang tinggi atau reruntuhannya berbentuk kerucut, tertutup dedaunan dan dikelilingi benda-benda kecil.

Di tiap tingkat dengan keagungan yang sederhana telah rusak, terletak dua figur raksasa dalam posisi berlutut, dan dalam posisi yang menakjubkan, mengancam dengan pentungannya yang terangkat. Dengan bagian terbesarnya yang begitu besar, orang asing tidak mampu memahami keberadaan mereka.

Para penjaga ini digambarkan berlutut dengan kaki kiri, dengan bantal kecil di bawah kaki kanan, sedangkan kaki kiri bersandar pada akar. Tinggi alasnya 15 inci, figurnya 7 kaki 9 inci, sampai bagian atas berupa ikalan sehingga totalnya 9 kaki. Kepala 26 kaki panjangnya, lebar bahu 3 kaki 10 inci. Alasnya hanya menopang figure berlutut ini, tidak lebih.

Karakter dan ekspresi wajahnya tidak pernah aku jumpai dimanapun, meskipun di India ataupun kepulauan Timur. Air mukanya penuh, bulat dan mengekpresikan humor. Matanya besar, tajam dan bundar. Hidungnya mancung dan lebar dengan profil terlihat terpaku; bibir dihiasi dengan kumis; mulutnya besar dan terbuka dengan karakter tertawa, memperlihatkan dua taring yang besar, bibir bawah tipis dan dagunya sangat sempit dan pendek; demikian pula dahinya, tidak terlihat lehernya; dadanya lebar dan penuh dengan perut bulat menonjol; seperti juga lengannya, sangat pendek dan kuat.

Tetapi yang lebih luar biasa dari anggota badan penjaga ini adalah rambutnya yang sangat lebat dan ikal, yang mana Brahmin pernah mengatakan padaku (dan aku sangat percaya) mengenai penggambaran mode yang umum dimana para Moonis diduga menggunakan rambut asli mereka. Genii, raksasa yang bertugas menjaga tempat suci dewa ini, membutuhkannya untuk memperhebat penampilan.

Yang harus diperhatikan lainnya adalah gambaran dari kostum Hindu. Lungota dipakai di antara dua kaki, di bagian ujung diberi hiasan, di bagian depan dan belakang menggantung, memakai ikat pinggang. Seekor ular melilit tubuh melewati bahu kiri, ekor dan kepalanya bertemu di dada sebelah kiri.

Sebuah pisau belati kecil yang penuh ornament diletakkan di korset yang berada di pinggang kanan. Gagang gada berbentuk segi delapan digenggam tangan kanan, dan bagian lain diletakkan di atas lutut, tangan kirinya terjuntai di samping tubuh dengan menggenggam seekor ular yang melingkar, yang kelihatannya menggigit lengan kirinya.

Kalungnya dari emas (seperti bintang), antingnya besar dan panjang, dihiasi ornament berbentuk silinder kasar yang kemudian digunakan wanita Jawa pada saat ini. Kedua tangannya dililit ular dan pinggangnya dililit gelang manik-manik. Ikat pinggangnya lebar hingga ke lutut. Sementara dari pinggang ke atas dalam keadaan telanjang.

Deskripsi yang sama ditemukan juga pada delapan penggambaran lain yang menjaga jalan Candi Sewu, pada jarak dua puluh kaki dari garis terluar kompleks candi. Jarak satu dengan yang lain sekitar dua belas kaki. Tiap-tiap figure dan alasanya merupakan satu bagian dari batu, yang dalam pengerjaannya membutuhkan kemampuan tinggi.

Keseluruhan atau tata letak situs ini berbentu segi empta seluar 540 kaki x 510 kaki, menghadap ke titik utama. Candi terbesar di sebelah timur dan barat dimana di sana juga dimungkinkan untuk dibuat jalan menuju candi tengah yang besar, sedang sisi utara dan selatan terdapat candi-candi kecil yang serupa.

Reruntuhan Candi Sewu (foto /fotoindonesiatempodoeloe.blogspot.co.id)

Bangunan segi empat terluar yang merupakan batas wilayah, dan bangunan segi empat lainnya, berisi 84 candi, 22 di tiap sisinya: segi empat kedua berisi 76 candi, ketiga 64, keempat 44, kelima atau jajaran genjang terakhir 28, semuanya 296 candi kecil, yang terbagi dalam lima jajaran genjang. Semua bangunan ini mempunyai bentuk yang sama, berbentuk segi empat 11,5 kaki di bagian luar dengan ruang depan atau serambi. Panjangnya 6 kaki 2 inci, dan lebar 4,5 kaki.

Sebuah ruangan segi empat 6 kaki, dengan pintu yang tingginya 5 kaki 9 inci, tebalnya 3 kaki 4 inci, letaknya berlawanan dengan kursi atau tahta dimana situs ditempatkan dalam candi. Dinding bagian dalam berbentuk segi empat tingginya 7 kaki 10 inci dan sangat rata. Kemudian bagian atap tingginya 5 kaki lebih dimana atap tersebut ditutup dengan sebuah batu. Interior ruang dari serambi atau ruang depan luasnya 3,5 kaki x 2,5 kaki. Ketebalan dinding tiap candi sekitar 2 kaki 9 inci, di bagian depan 1 kaki 4 inci.

Pengangkatan bagian dalam sekitar 18 kaki, berbentuk segi empat dengan hiasan sekitar 8 atau 9 kaki, termasuk dasar yang tidak rata, dan sisanya sebuah superstruktur yang mempesona dengan berbagai bentuk, dengan bagian atas semakin kecil, yang dimahkotai sebuah batu besar, diletakkan di atas bentuk silinder yang mengelilingi atap.

Keseluruhan tiap superstruktur berbentuk pyramid tak beraturan, terdiri dari lima atau enam tangga atau bagian, yang tiga terendah menunjukkan padaku figur salib, di bagian tengah diperkirakan merupakan sudut hingga ke bagian yang lebih rendah, dan sisanya menuju bagian yang lebih tinggi dimana posisinya bervariasi dibanding tingkat di bawahnya.

Di atas bagian itu terdapat sebuah bentuk segi delapan yang secara bertahap batu yang dapat dideskripsikan mulai berkurang. Bentuk yang sama juga ditempatkan di empat sisi dari bagian yang lebih rendah dari badan bagian atas bangunan. Di sana aku tidak menemukan sesuatu dalam keadaan lengkap. Tetapi dari sudut yang dapat aku lihat, aku pikir ada yang lain selain 9 atau 13 bentuk yang sama yang diduga ada di bagian atap.

Di samping itu, atap mempunyai sebuah dekorasi kecil sebagai peringatan titik utama sebagai kepala tiap tingkat dari superstruktur ini, dan pada salah satu pilaster kecil berbentuk segi empat terpotong pada bas telievo pada bagian tengah.

Saya menyatakan bahwa candi kecil mempunyai bentuk seragam walaupun berbeda keadaannya. Dekorasi bagian dalam dan luarnya mempunyai kemiripan satu sama lain, kecuali relung pada bagian eskterior mempunyai bentuk yang bervariasi sesuai dengan akhir mitologi Hindu.

Dalam penyusuran dari sebelah utara recha, dan diperhitungkan dari bagian tengah, jaraknya dari eksterior ke segi empat terluar 20 kaki; kedalaman candi ini, termasuk serambi adalah 16 kaki; segi empat ketiga 30 kaki. Lebar bagian dalam bangunan 16 kaki; segi empat keempat 30 kaki. Kedalaman gari ini 16 kaki; kemudian bangunan segi empat keempat 30 kaki; kemudian untuk menuju dasar dari sayap tangga mendaki menuju candi besar 14 kaki; semua 20 kaki, 50 kaki dari bagian tengah pintu masuk menuju dasar tangga.

Ruang antara semua candi-candi dalam garis yang sama yakni 12,5 kaki, tetapi pada bagian timur dan barat bagian tengahnya lebih besar. Antara bangunan segi empat dalam dan candi bagian tengah berjarak 5 kaki dari tengga, melewati sebaris yang tingginya 14 inci dan lebarnya 2 kaki 4 inci.

Kita sekarang menuju candi besar. Anda dapat mencapai tiap-tiap bagian dengan mendaki empat belas tangga batu yang dipotong kasar, dan sekarang terberai atau tidak ditempatnya lagi. Jarak tiap-tiap tangga lebih kurang 16 kaki dari tangga terbawah hingga teratas, sehingga kita terengah-engah saat melewati delapan diantaranya, dan tingginya lebih kurang 10 kaki, yang mengangkat teras candi. Dinding-dinding yang berjenjang ini diperkirakan berada di sisi tangga, begitu juga dengan dinding yang menempel padanya, tiga tangga segi empat dimana orang-orang Sepoy mengatakan padaku seharusnya terdapat tangki kecil di salah satu sisi dari tangga, sebagai tempat bersuci sebelum mereka masuk ke tempat suci dewa.

Pada tingkat ketiga dari dasar, di tiap sisi dari empat pintu gerbang menuju ruang depan. Teras memiliki tempat istirahat 3,5 kaki, tanpa dinding di sekitarnya, dan sejauh yang dapat aku lihat di reruntuhan, termasuk sudut-sudut bangunan yang menakjubkan ini.

Bentuk bangunan, seperti Loro Jonggrang, adalah salib dengan batu yang bersiku-siku, memberikan ruangan sebagai ruang tengah yang besar, lebarnya 12 kaki, kedalaman 10 kaki. Dinding ruang depan dihiasi dengan tiga relung; satu relung besar dan dua relung kecil yang lengkungan yang tajam dan dekorasi mewah dari seni pahat India.

 


(TGU)