Tak terasa, kita telah memasuki tahun baru 2026. Pergantian tahun kerap disambut dengan harapan baru, resolusi, serta keyakinan bahwa hari esok bisa lebih baik daripada hari kemarin. Setiap 1 Januari, dunia seolah bersepakat untuk memulai lembaran baru.
Namun, pernahkah terpikir mengapa 1 Januari ditetapkan sebagai penanda tahun baru? Penentuan tanggal ini ternyata bukan keputusan sederhana, melainkan hasil perjalanan sejarah panjang peradaban manusia.
Jika ditelusuri ke masa silam, perayaan tahun baru sudah dikenal sejak sekitar 2000 SM di wilayah Mesopotamia. Dilansir dari berbagai sumber, termasuk Britannica, masyarakat Babilonia merayakan tahun baru yang dikenal dengan sebutan Akitu. Perayaan ini dimulai saat bulan baru pertama setelah ekuinoks musim semi, sekitar akhir Maret.
Sementara itu, bangsa Assyria memiliki penanggalan berbeda. Mereka memulai tahun baru dengan bulan baru yang paling dekat dengan ekuinoks musim gugur, yakni sekitar pertengahan September. Perbedaan ini menunjukkan bahwa konsep awal tahun sangat erat kaitannya dengan siklus alam dan perubahan musim.
Di wilayah lain, penentuan awal tahun juga beragam. Orang Mesir dan Fenisia memulai tahun mereka pada saat ekuinoks musim gugur, sekitar 21 September. Bagi bangsa Persia kuno, awal tahun ditandai dengan ekuinoks musim semi pada 21 Maret, yang hingga kini masih dirayakan sebagai Nowruz.
Sementara itu, orang Yunani kuno menetapkan awal tahun pada titik balik matahari musim dingin, sekitar 21 Desember. Semua perhitungan ini menunjukkan bahwa sebelum kalender modern dikenal luas, manusia cenderung menjadikan peristiwa astronomi sebagai acuan utama.
Sistem penanggalan kemudian mengalami perubahan besar ketika Romawi mulai menyusun kalender resmi negara. Pada masa Republik Romawi, tahun awalnya dimulai pada 1 Maret.
Namun, sejak 153 SM, tanggal resmi awal tahun diubah menjadi 1 Januari. Ketentuan ini terus berlanjut hingga diberlakukannya kalender Julian pada tahun 46 SM di masa Julius Caesar. Sejak saat itu, 1 Januari semakin menguat sebagai penanda awal tahun dalam tradisi Romawi.
Memasuki awal Abad Pertengahan, penetapan tahun baru kembali mengalami pergeseran, terutama di Eropa Kristen. Sebagian besar wilayah Eropa menganggap 25 Maret, yang diperingati sebagai Hari Raya Kabar Gembira, sebagai awal tahun baru.
Di sisi lain, Inggris pada masa Anglo-Saxon justru merayakan tahun baru pada 25 Desember, bertepatan dengan Hari Natal. Keragaman ini mencerminkan kuatnya pengaruh agama dalam sistem penanggalan saat itu.
William Sang Penakluk sempat menetapkan bahwa tahun dimulai pada 1 Januari. Namun, kebijakan tersebut tidak bertahan lama. Inggris kemudian mengikuti praktik Kekristenan secara luas dan kembali mengadopsi 25 Maret sebagai awal tahun. Situasi ini berlangsung cukup lama hingga akhirnya muncul reformasi kalender yang lebih menyeluruh.
Perubahan besar terjadi ketika Kalender Gregorian diperkenalkan dan diadopsi oleh Gereja Katolik Roma pada tahun 1582. Kalender ini mengembalikan 1 Januari sebagai Hari Tahun Baru. Secara bertahap, negara-negara Eropa mulai mengikutinya.
Skotlandia mengadopsi awal tahun pada 1 Januari pada 1660, disusul Jerman dan Denmark sekitar tahun 1700. Inggris baru resmi mengubah sistemnya pada 1752, sementara Rusia menyusul jauh kemudian, yakni pada 1918.
Dari rangkaian sejarah tersebut, jelas bahwa 1 Januari sebagai tahun baru bukanlah ketentuan yang lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil kompromi panjang antara tradisi astronomi, kepercayaan keagamaan, dan kebutuhan administratif. [UN]



