Bom Surabaya: Pelibatan Bocah di Bawah Umur untuk Hindari Sadapan dan Deteksi...

Bom Surabaya: Pelibatan Bocah di Bawah Umur untuk Hindari Sadapan dan Deteksi Polisi

109
Penjagaan di Mapolrestabes Surabaya setelah serangan bom di pos penjagaan yang menewaskan seorang polisi [Foto: Reuters]

Koran Sulindo – Setelah rentetan serangan teror itu, peristiwa ledakan bom di gerbang Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya mengejutkan semua pihak. Bukan karena melukai dan menewaskan aparat kepolisian, juga karena serangan bom pada Senin (14/5) pagi itu melibatkan bocah berusia delapan tahun.

Tidak ada yang menduga peneror kini menggunakan anak di bawah umur dalam menjalankan aksinya. Seperti yang dilaporkan Reuters, pengamat teroris Stanislaus Riyanta mengatakan, ini kali pertama seorang anak digunakan teroris dalam aksi bom bunuh diri. Penggunaan keluarga, kata Stanislaus, agar aksi teror tidak mudah dikenali kepolisian.

“Penggunaan keluarga juga sebagai cara berkomunikasi tanpa menggunakan teknologi sehingga bisa menghindari sadapan,” kata Stanislaus seperti dikutip Reuters pada Senin (14/5).

Setelah peristiwa di Mako Brimob, ledakan bom di tiga gereja Surabaya dan ledakan di sebuah Rusunawa Sidoarjo, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan, pihaknya akan meningkatkan keamanan di seluruh Indonesia. Polisi disebut akan dibantu TNI dalam menjaga keamanan itu.

Sebuah keluarga militan Islam di Indonesia membawa seorang bocah delapan tahun ke dalam serangan bom bunuh diri terhadap polisi di Surabaya pada hari Senin, sehari setelah keluarga militan lainnya menewaskan 13 orang dalam serangan bunuh diri di tiga gereja di kota yang sama.

Dalam serangan bom di Mapolrestabes Surabaya, pelaku mengendarai dua sepeda motor dan merangsek masuk melalui pos penjagaan menuju gedung utama. Pelaku kemudian diberhentikan di pos penjagaan. Tak lama berselang, ledakan bom pun pecah. Dari kejadian itu, empat perwira dan enam warga sipil terluka.

Sementara melalui kamera pemindai (CCTV), seorang anak yang diduga menjadi bagian dari pelaku selamat dari ledakan tersebut. Menanggapi serangan terbaru di Mapolrestabes Surabaya, Presiden Joko Widodo menyatakan sebagai “tindakan pengecut.” Untuk mengatasi berbagai serangan terorisme itu ia pun menyinggung perihal revisi undang undang anti-terorisme yang diklaim masih terganjal di DPR.

Sejak 2001, kebangkitan kaum teroris mulai tampak dalam beberapa tahun terakhir, termasuk serangan bom di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta pada 2016. Kepolisian mencurigai aksi rentetan peristiwa teror beberapa hari belakangan ini didalangi Jemaah Ansharut Daulah (JAD) yang menjadi perwakilan ISIS di Indonesia. Kementerian Luar Negeri AS menuduh JAD sebagai organisasi teroris yang telah merekrut ratusan orang dan menjadi bagian dari ISIS.

Kepala Kepolisian RI Tito Karnavian menuturkan, dalam serangan Surabaya, pihaknya kecolongan dalam mendeteksi aksi mereka. Akan tetapi, setelah kejadian itu, polisi bergerak cepat mengidentifikasi jaringan mereka. Ia menyebutkan, pelaku serangan tiga gereja di Surabaya semuanya terdiri atas keluarga. Ayah dari keluarga tersebut merupakan pimpinan sel JAD Kota Surabaya.

Soal tuduhan kepada keluarga pelaku serangan bom tiga gereja di Surabaya yang menjadi bagian dari 500 keluarga simpatisan ISIS yang telah kembali dari Suriah, Tito membantahnya. Selama mengejar sel-sel JAD yang mulai “hidup”, polisi menembak mati seorang tersangka dan menangkap empat orang yang diduga menjadi bagian dari sel JAD.

Bangkitnya sel JAD, menurut Tito, kemungkinan sebagai respons atas seruan ISIS yang berada di Suriah ke seluruh dunia untuk secepatnya bergerak. Itu karena penangkapan pimpinan JAD Indonesia Aman Abdurrahman dan mungkin karena ISIS mulai terdesak di Irak dan Suriah.

Sejak serangan hari Minggu kemarin, total korban tewas mencapai 25 orang, termasuk 13 yang diduga teroris itu. [KRG]