Bias ini juga berkaitan dengan struktur kepemilikan media. Fox News dimiliki Fox Corporation yang dikendalikan keluarga Rupert Murdoch, seorang tokoh media yang dikenal memiliki hubungan politik dekat dengan pemerintah Israel.

The New York Times dimiliki keluarga Sulzberger yang selama puluhan tahun memegang kendali editorial koran tersebut. CNN berada di bawah Warner Bros Discovery, bagian dari jaringan media besar Amerika yang memiliki hubungan kuat dengan elite politik Washington. The Atlantic dimiliki miliarder Laurene Powell Jobs, dengan jaringan kuat dalam komunitas kebijakan luar negeri Amerika.

Tidak berarti semua jurnalis di media-media ini bekerja sebagai propagandis. Banyak reporter lapangan justru bekerja dengan integritas tinggi. Namun struktur editorial, jaringan politik, dan tekanan geopolitik sering menciptakan bias sistemik dalam framing berita.

Bias itu jarang muncul secara kasar. Ia bekerja lewat judul berita. Pilihan kata. Urutan informasi. Penghilangan konteks sejarah. Propaganda yang paling efektif memang selalu yang paling halus.

Edward Said pernah menyebut pola ini sebagai bagian dari tradisi panjang Orientalisme. Dalam konstruksi media Barat, dunia Timur hampir selalu digambarkan sebagai wilayah kekacauan, emosi, dan irasionalitas. Sementara Barat tampil sebagai pembawa rasionalitas dan ketertiban.

Narasi ini sudah diproduksi selama berabad-abad. Dari masa kolonial hingga era televisi kabel. Kini ia hidup kembali dalam bentuk yang lebih modern: headline, framing, dan algoritma media.

Dalam perang modern, kebenaran jarang mati oleh bom. Ia mati oleh kalimat. Dan seperti banyak tragedi dalam sejarah, pembunuhan itu dilakukan dengan sangat sopan. Tidak dengan teriakan. Tetapi dengan tata bahasa yang rapi. Dengan kalimat pasif. Dengan kata-kata yang dipilih sangat hati-hati.

Dampaknya, ketika dunia membaca berita perang, yang terdengar bukan suara bom. Melainkan suara halus dari sebuah kalimat: “An airstrike hit a school.” Sekolah itu seolah diserang oleh udara. Bukan oleh manusia.

Dan di situlah propaganda bekerja paling sempurna. Ketika bahasa berhasil membuat pembunuhan terlihat seperti cuaca. Seperti badai yang datang dari langit. Tanpa pelaku. Tanpa tanggung jawab. Tanpa rasa bersalah.

Mungkin inilah ironi terbesar dari zaman kita. Senjata propaganda paling kuat bukan lagi tank. Bukan pesawat tempur. Bukan misil balistik. Melainkan sesuatu yang jauh lebih kecil.

Sebuah kata. Beberapa kata.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis