Dalam perang modern, bom menghancurkan gedung. Tetapi kalimat pasif bisa menghancurkan kebenaran. (Cak AT)

Catatan Cak AT:

Di medan perang, bom biasanya meledak dengan suara keras. Gedung runtuh, kaca pecah, dan langit dipenuhi asap hitam. Tetapi dalam dunia jurnalistik modern, ada bom lain yang jauh lebih sunyi. Bom bahasa. Bom kata-kata. Ia tidak menghancurkan bangunan. Ia menghancurkan makna.

Perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran belakangan ini memperlihatkan satu fenomena lama yang kembali tampil dengan wajah sangat telanjang: bias sistemik media Barat dalam meliput konflik Timur Tengah.

Bagi pengamat media, ini bukan kejutan. Tetapi bahkan para peneliti lama pun terkejut melihat betapa terang-terangan teknik manipulasi bahasa dipakai dalam liputan perang kali ini.

Manipulasi dilakukan bukan sekadar dalam memilih sudut pandang. Bukan sekadar memilih narasumber. Tetapi mengutak-atik tata bahasa. Kalimat aktif diubah menjadi kalimat pasif. Pelaku dihapus. Kata-kata diperhalus. Fakta dipotong. Sehingga pembaca merasa sedang membaca laporan netral, padahal sebenarnya sedang disuguhi propaganda yang sangat elegan.

Mari mulai dari sebuah tragedi. Pada hari pertama perang, sebuah serangan udara menghantam sekolah dasar di Minab, Iran selatan. Sekitar 175 hingga 180 orang tewas, sebagian besar siswi sekolah.

Dalam hukum humaniter internasional, serangan terhadap fasilitas sipil seperti sekolah dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Namun anehnya, tragedi sebesar itu hampir tidak muncul dalam liputan utama media kabel Amerika.

CNN, Fox News, MSNBC, dan berbagai jaringan lainnya menyiarkan analisis panjang tentang strategi militer, pergerakan kapal induk, dan manuver geopolitik. Tetapi kematian puluhan anak sekolah nyaris menghilang dari layar.

The New York Times memang menulis laporan singkat tragedi itu. Namun hanya sebagai berita kecil di halaman belakang, tanpa investigasi serius, tanpa tekanan publik untuk mengetahui siapa pelaku serangan.

Apakah jet Amerika? Apakah jet Israel? Tidak ada dorongan kuat untuk mencari jawabannya. Padahal media Barat biasanya sangat agresif dalam investigasi — selama pelakunya bukan sekutu mereka sendiri.

Manipulasi itu bahkan lebih jelas terlihat dalam judul berita. BBC menulis begini: “At least 153 dead after reported strike on school, Iran says.” The New York Times menulis hampir sama: “Iran says dozens killed in school strike.

Sekilas liputan mereka tampak netral. Padahal sebenarnya sangat manipulatif. Perhatikan frasa kecil: “Iran says.”

Itulah, yang dalam jurnalistik, disebut teknik framing yang sudah klasik. Dengan menempatkan “Iran says”, pembaca langsung diarahkan untuk meragukan kebenaran informasi tersebut.

Seolah tragedi itu hanya klaim propaganda Iran. Padahal saat itu kematian ratusan korban sudah dikonfirmasi oleh berbagai lembaga internasional, termasuk badan PBB. Tetapi bahasa yang dipakai tetap membuat fakta terlihat seperti rumor.

Trik kedua lebih licik lagi. Pelaku dihapus. Tidak ada kalimat: “US bombs killed children.” Tidak ada kalimat: “Israeli airstrike destroyed a school.”

Yang ada hanya “school strike”. Sekolah itu seolah tiba-tiba diserang oleh sesuatu yang tidak diketahui. Bomnya ada. Korban ada. Pelakunya menghilang.

Dalam kajian linguistik propaganda, ini disebut agent deletion — penghilangan pelaku. Teknik klasik propaganda modern.

Bandingkan dengan berita ketika Iran menyerang Israel. Judulnya langsung berubah: “Iranian missile attack kills nine in Israeli city.

Perhatikan perbedaannya. Pelaku disebut jelas: Iran. Senjata disebut jelas: missile. Korban disebut jelas: warga Israel. Pakai kalimat aktif. Tegas. Dramatis.

Seolah tata bahasa tiba-tiba menjadi sangat jujur. Ajaibnya, kejujuran tata bahasa itu hanya muncul ketika pelakunya adalah musuh Barat.

Selain penggunaan kalimat pasif, media Barat juga sangat kreatif menciptakan eufemisme. Salah satu istilah favorit televisi kabel Amerika adalah: “take out”.

Ketika CIA atau Mossad membunuh seorang tokoh militer Iran, kata yang dipakai bukan “kill” atau “assassinate”. Tetapi “take out”. Secara harfiah artinya “mengeluarkan”. Seperti mengambil sampah keluar rumah. Seperti membeli makanan take-out.

Dampaknya, pembunuhan manusia terdengar seperti aktivitas logistik. Bahasa berubah menjadi obat bius moral.

Istilah lain adalah “decapitate”. Secara literal berarti memenggal kepala. Tetapi dalam bahasa media televisi Amerika, kata ini dipakai untuk menggambarkan strategi pembunuhan pimpinan militer atau politik.

Dengan pilihan kata tersebut, pendengar tidak membayangkan darah atau kekerasan. Yang terbayang justru rapat manajemen perusahaan. Seperti restrukturisasi organisasi.

Dalam manajemen dikenal istilah “Leadership decapitation strategy.” Itulah yang mereka pakai di berita perang. Seolah yang terjadi hanyalah pergantian pejabat. Padahal yang terjadi adalah pembunuhan manusia.

Ada pula istilah romantis yang sering muncul: “boots on the ground”. Kedengarannya seperti kegiatan hiking, naik gunung. Padahal yang dimaksud adalah invasi militer.

Tentaranya bersenjata lengkap. Ada kendaraan lapis baja. Drone tempur. Senapan mesin seperti M134 Minigun yang mampu menembakkan hingga 6000 peluru per menit.

Tetapi semua itu disederhanakan menjadi kalimat yang terdengar santai: “boots on the ground”. Anda sudah tahu artinya: sepatu berjalan. Bukan tentara menyerbu.

Istilah lain yang sering muncul adalah “Iranian proxies”. Kelompok bersenjata di Lebanon, Irak, atau Yaman hampir selalu disebut sebagai “proxy Iran”.

Istilah ini memberi kesan bahwa mereka hanyalah boneka Tehran. Padahal banyak kelompok tersebut lahir dari konflik lokal di negara masing-masing. Tetapi menyederhanakan semuanya sebagai “proxy Iran” membuat narasi geopolitik lebih sederhana.

Semua kekacauan di Timur Tengah dapat disalahkan pada satu negara saja. Iran. Ini teknik propaganda klasik: simplifikasi musuh.