Catatan Cak AT:
Selamat datang di panggung megah bernama Board of Peace, sebuah hajatan internasional yang dijanjikan mampu mengubah Gaza yang hancur lebur menjadi Riviera Mediterania versi katalog properti.
Di ruangan berlapis marmer dan lampu kristal yang berkilau seperti janji kampanye, para pemimpin dunia duduk rapi. Semuanya laki-laki, seolah urusan perang dan damai memang warisan turun-temurun kaum Adam.
Di tengah mereka duduk seorang lelaki tua dengan palu emas imajiner, seperti juru lelang di rumah barang antik, siap membuka sesi dengan berteriak: “Kemanusiaan… mulai dari sepuluh miliar dolar… siapa menawar lebih tinggi?”
Pertemuan itu hanya berlangsung 47 menit. Empat puluh tujuh menit: waktu yang bahkan belum cukup bagi warga Jakarta menembus satu lampu merah Sudirman saat jam pulang kantor.
Namun dalam durasi sesingkat itu, dunia seakan sepakat Gaza akan dibangun kembali. Pertanyaan yang menggelitik: dibangun dengan resep siapa, untuk kepentingan siapa, dan — yang paling sunyi — atas permintaan siapa?
Adegan pembuka berlangsung hangat bak resepsi pengantin baru. Donald Trump memuji Prabowo dengan gaya salesman properti yang baru menutup transaksi besar: Indonesia negara hebat, kepemimpinan Anda luar biasa.
Prabowo membalas dengan optimisme diplomatik: visi perdamaian sejati ini akan berhasil.
Saking cairnya suasana, orang hampir lupa mereka sedang membahas nasib jutaan manusia yang rumahnya rata dengan tanah. Percakapan itu terdengar seperti obrolan dua bapak komplek yang bertemu di pos ronda: santai, ramah, penuh pujian — bedanya, yang dibahas bukan ronda malam, melainkan reruntuhan sebuah wilayah.
Di balik senyum diplomatik itu terselip angka yang membuat alis dunia terangkat: Indonesia siap mengirim ribuan pasukan penjaga perdamaian. “Atau lebih jika diperlukan.”
Kalimat ini terdengar ringan, seolah menambah pasukan sama mudahnya menambah sambal di warung bakso. Padahal, setiap seragam yang dikirim berarti manusia nyata yang berdiri di antara konflik nyata.
Mari menoleh ke kursi-kursi di sekeliling meja. Banyak negara kecil hadir penuh semangat, sementara negara besar Eropa memilih status “pengamat”. Dalam bahasa pergaulan global, “pengamat” itu mirip warga yang berdiri di balik jendela saat tetangga ribut: ingin ikut campur tidak enak, pergi juga sayang.
Mereka menonton dengan tangan terlipat dan alis terangkat. Trump, dengan gaya khasnya, menyebut mereka sebenarnya ingin bergabung penuh, hanya “main cantik”. Terjemahan bebasnya: tidak setuju, tetapi juga tidak ingin ribut di grup WhatsApp internasional.
Lalu angka-angka mulai menari. Amerika Serikat menjanjikan 10 miliar dolar, negara-negara lain menambah sekitar 6,5 miliar. Fantastis, terdengar seperti angka jackpot lotre. Namun setelah huruf kecil dibaca, komitmen itu dibentang selama sepuluh tahun; yang benar-benar cair tahun ini hanya sebagian kecil.
Sementara estimasi kebutuhan rekonstruksi Gaza menurut lembaga internasional mencapai lebih dari 50 miliar dolar. Gambaran paling sederhana: seperti seseorang memesan rumah mewah di brosur, tetapi uang muka yang tersedia baru cukup untuk membeli pagar.
Ironinya, sementara angka-angka melayang di atas meja marmer berpendingin udara, realitas di lapangan tidak ikut pendingin. Kekerasan sporadis masih terjadi, serangan terus berlangsung, dan ketegangan tetap berdenyut. Kita sibuk membayangkan hotel-hotel masa depan, sementara masa kini masih berbau asap dan debu.
Struktur organisasi Board of Peace sendiri tak kalah teatrikal. Trump memposisikan diri sebagai ketua seumur hidup dengan kewenangan luas: mengatur agenda, memegang veto, bahkan menentukan penerusnya. Ini bukan sekadar lembaga multilateral; rasanya lebih dekat ke perusahaan keluarga bercabang global.
Seorang diplomat Eropa mengakui secara jujur bahwa banyak negara enggan bergabung dengan struktur yang aturannya kabur dan kepemimpinannya permanen. Maka jadilah lembaga ini seperti klub malam eksklusif: pemilik menentukan aturan, tamu dipilih, dan biaya masuk tidak murah.
Suara Palestina yang hadir hanya satu-dua, berbicara tentang kebutuhan mendesak: keamanan, pekerjaan, layanan dasar. Nada mereka datar, seperti dokter IGD yang melaporkan kondisi pasien sementara para arsitek sibuk mendesain taman rumah sakit.
Seorang aktivis kemanusiaan bahkan menyindir pahit: ini seperti merencanakan pesta pernikahan tanpa mempelai perempuan. Yang dibahas megah, yang terdampak justru absen.
Bahkan sepak bola ikut masuk ke panggung. FIFA menjanjikan puluhan juta dolar untuk proyek olahraga. Sepak bola memang bahasa universal, tapi membicarakan stadion di tengah reruntuhan terasa seperti menawarkan payung kepada orang yang rumahnya baru saja hanyut banjir. Niat baik ada, urutan prioritas terasa jungkir balik.
Para pengembang dan perencana mempresentasikan mimpi Riviera baru: hotel-hotel, pulau buatan, infrastruktur digital mutakhir. Mimpi tak pernah salah. Namun ketika mimpi disampaikan di hadapan mereka yang kehilangan segalanya, tanpa kehadiran mereka di perencanaan, mimpi itu berisiko berubah menjadi ironi yang dibungkus sutra.
Perdana Menteri Albania Edi Rama mungkin paling jujur ketika menyebut lembaga ini bisa menjadi “alarm” bagi sistem internasional yang lamban. Sebuah jam weker untuk membangunkan dunia. Tetapi jam weker yang membawa pasukan dan miliaran dolar terasa lebih mirip buldoser yang masuk kamar sambil berteriak: bangun, atau kami renovasi rumah Anda sekarang juga.
Angka-angka akhirnya menjadi semacam puisi modern: puluhan miliar kebutuhan, miliaran komitmen, ribuan pasukan, ratusan ribu rumah yang direncanakan, ratusan hotel impian.
Angka-angka ini lahir dari ruang ber-AC, bukan dari tenda pengungsian. Mereka berbicara tentang optimisme yang melompati kenyataan, tentang rencana megah yang belum tentu menyentuh akar luka.
Namun angka terpenting justru tidak disebut: jumlah anak yang kehilangan orang tua, jumlah keluarga yang tercerai, jumlah malam yang dilalui tanpa kepastian. Angka-angka itu tidak masuk proposal, tidak muncul di konferensi pers, dan tidak mengundang tepuk tangan.
Pengalaman ini mengingatkan kita bahwa perdamaian tidak lahir dari palu emas dan gentong uang. Perdamaian lahir ketika penderitaan diakui, ketika yang paling terdampak duduk di meja perundingan, ketika keberanian moral mendahului ambisi politik. Gaza bukan sekadar reruntuhan beton; ia cermin retak moralitas global.
Maka silakan bermimpi tentang Riviera di atas puing-puing. Silakan menghitung angka-angka raksasa dan menggambar masa depan berkilau.
Namun di sudut Gaza yang tak dijangkau kamera, seorang ibu masih mencari anaknya di bawah reruntuhan. Ia tidak membutuhkan hotel mewah, stadion baru, atau jaringan digital mutakhir. Ia hanya membutuhkan satu hal sederhana: kepastian bahwa besok pagi langit tidak lagi menjatuhkan bom; bahwa Palestina benar merdeka.
Dan mungkin, di situlah ironi terbesar peradaban modern: kita mampu merancang masa depan yang megah, tetapi masih belajar memahami kebutuhan paling sederhana manusia — hidup tanpa rasa takut, tanpa rasa lapar, di negara Palestina yang berdaulat penuh.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis




