Bahaya Berbuka Puasa dengan Gorengan dan Minuman Manis bagi Kesehatan

ILUSTRASI. (AI)

Bulan Ramadhan selalu identik dengan kebersamaan dan hidangan berbuka yang melimpah. Meja penuh aneka takjil, minuman manis, gorengan hangat, hingga sajian berwarna-warni memang terlihat menggoda. Namun di balik suasana menyenangkan itu, ada satu hal yang kerap terabaikan, yaitu kesehatan tubuh setelah seharian berpuasa.

Padahal, puasa bukan sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga. Menurut laman halodoc, secara biologis puasa memberi kesempatan tubuh melakukan proses pembersihan alami atau detoksifikasi. Selama kurang lebih 14 jam, sistem pencernaan beristirahat. Organ-organ vital bekerja dengan ritme yang lebih tenang. Inilah momen ketika tubuh memperbaiki diri dari dalam.

Bagaimana Puasa Membantu Mengeluarkan Racun?

Tubuh manusia bekerja dengan sistem yang terhubung. Sel-sel tubuh memperoleh nutrisi dari darah, sementara darah mendapatkannya dari usus. Usus menyerap seluruh zat yang dikonsumsi, baik yang bermanfaat maupun yang berpotensi merugikan. Jika terdapat racun dalam saluran pencernaan, racun tersebut bisa ikut terserap dan beredar melalui aliran darah menuju sel-sel tubuh.

Penumpukan racun inilah yang dikenal sebagai toksemia, yaitu kondisi ketika toksin menumpuk dalam darah. Racun tersebut bisa berasal dari dalam tubuh sendiri (endogenus) maupun dari luar (eksogenus).

Racun endogenus meliputi sisa metabolisme, radikal bebas, produksi hormon berlebihan akibat stres, gangguan fungsi hormon, hingga bakteri penyakit yang memang sudah ada di dalam tubuh. Sementara racun eksogenus berasal dari polusi udara, obat-obatan, hormon pada ternak, produk susu tertentu, makanan olahan, lemak trans, serta mikroba.

Sebenarnya tubuh telah memiliki mekanisme alami untuk mengeluarkan racun, seperti melalui keringat, urine, dan feses. Namun, mekanisme ini tidak selalu berjalan optimal. Pola makan yang buruk, stres, kurang istirahat, serta konsumsi makanan olahan berlebihan bisa mengganggu proses tersebut.

Puasa di bulan Ramadhan memberi kesempatan bagi usus untuk membersihkan diri secara alami. Pada saat yang sama, hati dan lambung mendapatkan waktu jeda untuk beristirahat.

Hati merupakan organ penyaring utama dalam tubuh. Segala sesuatu yang dikonsumsi, dihirup, bahkan yang terserap melalui kulit, akan diproses oleh hati. Ketika asupan makanan dihentikan sementara, hati tidak terus-menerus dibebani proses metabolisme, sehingga dapat lebih optimal menjalankan fungsi detoksifikasinya.

Sementara lambung, yang sehari-hari menjadi “penampung” berbagai jenis makanan termasuk yang tidak sehat akhirnya memiliki waktu untuk memulihkan diri.

Maksimalkan Detoks dengan Pola Makan Tepat

Puasa memang dapat membantu proses detoksifikasi, tetapi manfaat ini hanya akan optimal jika didukung pola makan yang tepat saat sahur dan berbuka.

Konsumsi buah dan sayuran segar sangat dianjurkan. Kandungan air dan serat yang tinggi membantu memperlancar pembuangan sisa racun melalui usus. Selain itu, buah dan sayur kaya vitamin, mineral, serta antioksidan yang dibutuhkan organ tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak.

Karbohidrat kompleks juga penting untuk dikonsumsi, seperti nasi merah, oatmeal, roti gandum, ubi, jagung, atau singkong. Jenis karbohidrat ini dipecah lebih lambat menjadi gula darah, sehingga energi dilepaskan secara bertahap dan metabolisme tetap stabil sepanjang hari.

Saat berbuka, sebaiknya tidak langsung menyantap makanan berat. Jus buah tanpa tambahan gula bisa menjadi pilihan awal yang tepat. Gula alami dari buah membantu menaikkan kadar gula darah secara bertahap tanpa memicu lonjakan insulin berlebihan.

Dengan pilihan menu yang seimbang, sel-sel tubuh tetap mendapatkan energi cukup selama berpuasa, tanpa mengganggu metabolisme.

Bahaya Berbuka dengan Minuman Manis dan Gorengan

Masalah muncul ketika momen berbuka justru diisi dengan minuman terlalu manis, gorengan berminyak, dan makanan berwarna-warni dengan pewarna buatan. Tubuh yang telah berpuasa seharian membutuhkan asupan energi secara bertahap, bukan lonjakan kalori, gula, dan lemak secara drastis.

Lonjakan gula darah menjadi risiko pertama. Minuman manis dan gula cair cepat diserap tubuh sehingga kadar gula darah meningkat tajam. Jika kondisi ini terjadi berulang setiap hari, fungsi insulin bisa terganggu dan memicu resistensi insulin, cikal bakal diabetes tipe 2. Setelah lonjakan tersebut, gula darah biasanya turun cepat, menyebabkan tubuh lemas, mengantuk, dan cepat lapar kembali.

Gorengan dan makanan berminyak juga menimbulkan gangguan pencernaan. Lemak adalah nutrisi yang paling lambat dicerna. Saat dikonsumsi dalam kondisi perut kosong, sistem pencernaan dipaksa bekerja lebih keras. Lemak tinggi juga dapat memicu naiknya asam lambung, menyebabkan sensasi panas di dada (heartburn) dan memperparah kondisi maag atau GERD. Kombinasi rendah serat dan tinggi lemak juga berpotensi menyebabkan sembelit serta perut kembung.

Dalam jangka panjang, kombinasi minuman manis dan gorengan meningkatkan risiko penyakit jantung dan obesitas. Minyak yang digunakan berulang kali mengandung lemak trans dan lemak jenuh yang meningkatkan kolesterol jahat (LDL). Kondisi ini berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Kalori tinggi dari gula dan lemak juga mempercepat penumpukan lemak perut.

Risiko lainnya tidak kalah serius. Konsumsi gorengan berlebihan berpotensi menghasilkan senyawa akrilamida, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker seperti kanker usus dan pankreas akibat peradangan kronis. Gula cair mempercepat kerusakan enamel gigi. Minyak yang dipakai berulang kali dapat menghasilkan akrolein, senyawa yang menyebabkan tenggorokan gatal dan batuk.

Bijak Memilih Menu Berbuka

Agar manfaat detoksifikasi selama puasa tidak sia-sia, awali berbuka dengan air putih dan buah-buahan seperti kurma yang mengandung gula alami. Hindari langsung mengonsumsi makanan berat, berminyak, atau terlalu manis. Beri jeda sekitar 30 menit sebelum makan besar agar sistem pencernaan beradaptasi kembali.

Puasa sejatinya adalah proses pemulihan tubuh yang berlangsung alami. Namun hasilnya sangat bergantung pada bagaimana seseorang memperlakukan tubuhnya saat berbuka. Jika momen berbuka diisi dengan pola makan yang bijak, puasa bukan hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga menjadi jalan menuju tubuh yang lebih bersih, sehat, dan seimbang. [UN]