Antara Jinping, Marxisme dan Tiongkok Kapitalis

Antara Jinping, Marxisme dan Tiongkok Kapitalis

51
Presiden Tiongkok Xi Jinping [Foto: Istimewa]

Koran Sulindo – Marxisme disebut sebagai teori yang menerangi jalan panjang manusia tentang hukum sejarah perkembangan masyarakat. Hukum revolusi untuk pembebasan umat manusia. Marxisme ibarat matahari terbit dengan sinarnya yang spektakuler itu.

Demikian Presiden Tiongkok Xi Jin Ping ketika berpidato dalam rangka memeringati 200 tahun Karl Marx di Aula Besar Rakyat, Beijing pada Selasa (8/5). Seperti yang dilaporkan Xinhua, Marx, menurut Jinping, seorang pemikir terbesar di zaman modern. Teori Marx, kata Jinping, akan menjadi alat Tiongkok untuk memenangi masa depan.

“Warisan yang paling berharga yang ditinggalkan Marx untuk kita adalah teori ilmiah yang disebut sebagai marxisme itu,” kata Jinping.

Ia menegaskan, teori itu sangat benar, terutama sejarah telah membuktikan dan untuk mereka yang memilih marxisme dan Partai Komunis Tiongkok yang telah melaksanakannya untuk terus mematuhi prinsip dasar marxisme dengan menyesuaikannya dengan zaman serta kenyataan yang ada di Tiongkok. Saking pentingnya, kader Partai Komunis Tiongkok diimbau untuk mempelajari pidato Jinping itu.

Namun, tentu saja pernyataan Jinping tentang Marx dan marxisme penting dipertanyakan. Pasalnya, kenyataan Tiongkok yang kini berkembang menjadi negara kapitalis bertentangan sama sekali dengan cita-cita Marx dan marxisme. Restorasi kapitalisme yang telah terjadi selama beberapa dekade terakhir di Tiongkok menjadi penanda bahwa itu tidak ada sama sekali hubungannya dengan cita-cita Marx tentang sosialisme.

Sistem ekonomi yang terjadi hari ini di Tiongkok justru buah dari keputusan Kongres Partai Komunis Tiongkok ke-19 pada 2017. Keputusannya justru menegaskan, hubungan produksi berdasarkan kapitalisme harus diperkuat. Dan itu yang mereka sebut sebagai “Sosialisme dengan Karakteristik Tiongkok” yang terdiri atas kepemilikan swasta dan publik. Pasar kemudian memainkan peran yang menentukan dalam mendistribusikan sumber-sumber daya.

Seperti yang disebutkan Pao Yu Ching, profesor emeritus Marygrove College, Amerika Serikat, tujuan produksi sosialisme pada era Mao Tse Tung sama sekali berbeda dengan tujuan produksi Tiongkok hari ini. Di bawah sosialisme, tujuannya menghasilkan produk yang bernilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan kata lain, hubungan produksinya berubah dari produksi komoditas menjadi non-komoditas.

Jadi, berbeda secara prinsip dalam hubungan produksi di bawah kapitalisme yang mengejar keuntungan dari pengisapan terhadap kaum buruh. Inilah yang disebut sebagai nilai lebih. Apalagi alat-alat produksi dikuasai oleh pemilik modal. Dan itu yang sekarang diterapkan Tiongkok.

Bahkan tahapan restorasi kapitalisme Tiongkok kini mewujud pada usaha menjadi salah satu kekuatan kapitalis monopoli internasional bersaing dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, India dan lain-lain. Kemajuan ekonomi Tiongkok bukan tanpa pengorbanan. Faktanya keesenjangan sosial di negeri itu kini melebar, buruh acap dieksploitasi sedemikian rupa dan mengupayakan peningkatan hubungan produksi kapitalis di semua lini.

Fakta itu menunjukkan Tiongkok memang berupaya membongkar total dan menghapus dasar-dasar sosialis dan mempercepat negeri itu bergerak menjdi kekuatan kapitalis monopoli internasional. Tiongkok tidak hanya berperan aktif dalam pembentukan kapitalis monopoli internasional, juga memperkuat serta memperluas pengaruh kelompok monopoli Tiongkok di berbagai belahan dunia.

Tentu saja sulit menilai persepsi Jinping dan Partai Komunis Tiongkok dalam memahami ajaran-ajaran Marx. Tapi, satu hal yang pasti: sejak Tiongkok meninggalkan dan menghapus dasar-dasar sosialisme menciptakan prakondisi yang berdampak negatif terhadap kaum buruh. [KRG]