Walhasil, kalau dibaca sekilas, semua ide ini terdengar gila. Mogok global? Disclaimer kayak iklan rokok? Konvoi wartawan ala Avengers? Teman sebangku Wolf Blitzer? Blackout satu jam?
Tapi ingatlah: kenyataan di Gaza lebih gila daripada semua satire ini. Ratusan jurnalis dibunuh, kantor media dihancurkan, arsip dihapus, dan dunia hanya bisa “mengecam keras.”
Dan bahkan ketika Anda membaca tulisan ini, daftar itu belum berhenti. Nama-nama seperti Hossam al-Masri, Mohammed Salama, Mariam Abu Daqa, dan Moaz Abu Taha baru saja ditambahkan, hanya karena mereka melakukan pekerjaan yang sama dengan Anderson Cooper, Wolf Blitzer, atau Christiane Amanpour —merekam kebenaran.
Itulah kenapa satire ini tidak sekadar lucu. Ia adalah strategi untuk membuka imajinasi politik. Kalau jalan normal sudah buntu, kenapa tidak mencoba jalur gila? Bukankah kegilaan juga cara bertahan hidup di dunia yang sudah kehilangan akal sehat?
Kita boleh tertawa pahit membaca ide-ide ini. Tapi jangan lupa: di balik tawa itu ada fakta dingin.
Setiap kali satu jurnalis dibungkam, dunia kehilangan sepasang mata dan telinga. Gaza kini hampir buta dan tuli di mata dunia, karena mereka yang membawa cahaya justru dipadamkan satu per satu.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya mengutuk sambil menyeruput kopi, lalu mulai melakukan sesuatu —bahkan jika itu terasa mustahil. Karena di zaman ketika kewarasan sudah menyerah, hanya kegilaan yang bisa menyelamatkan akal sehat.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis



