Ilustrasi. (Pexels)

Setiap 9 September, masyarakat Indonesia memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas). Peringatan tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum untuk kembali mengingat pentingnya aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari sekaligus melihat perjalanan panjang olahraga di Indonesia.

Pada 2026, Haornas memasuki peringatan ke-43. Peringatan Haornas pertama kali dicetuskan pada 9 September 1983 dan sejak saat itu menjadi salah satu momentum untuk membangkitkan semangat masyarakat dalam membangun olahraga nasional.

Olahraga sendiri memiliki sejarah panjang yang berjalan beriringan dengan perkembangan peradaban manusia. Dari berbagai cabang olahraga yang dikenal saat ini, atletik menjadi salah satu yang memiliki akar sejarah paling panjang.

Atletik bahkan kerap disebut sebagai “ibu dari semua cabang olahraga”. Sebutan tersebut bukan tanpa alasan. Berbagai nomor dalam atletik pada dasarnya berangkat dari kemampuan gerak manusia yang paling mendasar, yakni berjalan, berlari, melompat, dan melempar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, atletik merupakan cabang olahraga, terutama yang dilakukan di luar ruangan dan memerlukan kekuatan, ketangkasan, serta kecepatan. Atletik terdiri atas nomor jalan, lari, lompat, dan lempar.

Sementara itu, istilah atletik berasal dari bahasa Yunani, athlon, yang berarti pertandingan atau perjuangan.

Jika ditarik jauh ke masa lalu, gerakan yang menjadi dasar atletik sebenarnya sudah dilakukan manusia sebelum olahraga dikenal sebagai sebuah kompetisi.

Pada masa manusia masih hidup dengan berburu dan mengandalkan alam, kemampuan berlari, melompat, melempar, serta bergerak dengan cepat merupakan bagian dari upaya mempertahankan hidup. Kecepatan diperlukan ketika mengejar atau menghindari hewan liar, sementara kekuatan dan ketangkasan dibutuhkan ketika berburu maupun mempertahankan diri.

Kemampuan fisik tersebut kemudian berkembang menjadi latihan jasmani seiring munculnya masyarakat dan peradaban yang lebih terorganisasi.

Dalam sejarahnya, bangsa Yunani menjadi salah satu masyarakat yang memiliki perhatian besar terhadap latihan fisik. Atletik mulai populer di Yunani sekitar abad ke-6 sebelum Masehi. Iccus dan Herodicus disebut sebagai tokoh yang berperan dalam mempopulerkan kegiatan latihan jasmani pada masa tersebut.

Bentuk atletik pada masa Yunani tentu tidak sama dengan yang dikenal sekarang. Namun, unsur dasarnya tetap bertahan, yaitu berjalan, berlari, melompat, dan melempar.

Karena memiliki berbagai unsur gerakan tersebut, atletik kemudian dianggap sebagai dasar dari banyak aktivitas olahraga. Seorang atlet dari cabang olahraga lain, misalnya, tetap membutuhkan kemampuan berlari, melompat, kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi tubuh yang menjadi bagian dari unsur atletik.

Atletik berkembang memasuki era modern

Memasuki abad ke-19, olahraga atletik kembali mengalami perkembangan pesat. Perkumpulan-perkumpulan atletik mulai dibentuk dan perlombaan semakin banyak diselenggarakan, terutama di Eropa dan Amerika Serikat.

Di Inggris, salah satu perkumpulan atletik awal didirikan pada 1817 oleh Captain Mason dengan nama Necton Guild. Perkembangan kompetisi kemudian mendorong munculnya aturan-aturan yang lebih terukur.

Pada 1834, misalnya, mulai ditetapkan persyaratan waktu minimum untuk nomor lari tertentu. Perlombaan juga semakin berkembang hingga melibatkan atlet dari negara-negara berbeda.

Di Amerika Serikat, perkumpulan atletik mulai berkembang pada pertengahan abad ke-19. Olympic Club didirikan di San Francisco pada 1860, sedangkan kejuaraan atletik di Amerika Serikat mulai diselenggarakan pada 1868 oleh New York Athletic Club.

Semakin banyaknya perlombaan internasional kemudian memunculkan persoalan baru. Setiap negara dan perkumpulan memiliki aturan yang tidak selalu sama sehingga penentuan pemenang dapat menimbulkan perselisihan.

Kondisi tersebut mendorong lahirnya organisasi atletik internasional.

Pada 17 Juli 1912, atau tiga hari setelah berakhirnya perlombaan atletik dalam Olimpiade Modern V di Stockholm, tokoh-tokoh atletik dari 17 negara berkumpul untuk membahas pembentukan badan internasional.

Pertemuan tersebut kemudian melahirkan International Amateur Athletic Federation (IAAF). Organisasi itu bertugas menyusun aturan dan mengatur penyelenggaraan perlombaan atletik internasional.

Peraturan teknis untuk perlombaan internasional kemudian disahkan dalam kongres ketiga pada 1914 di Lyon, Prancis. Kehadiran organisasi internasional tersebut membuat penyelenggaraan kompetisi atletik semakin teratur.

Seiring waktu, organisasi atletik nasional juga bermunculan di berbagai negara. Atletik pun berkembang menjadi salah satu olahraga paling internasional dengan keterlibatan negara-negara dari berbagai belahan dunia.

Jejak atletik di Indonesia

Perjalanan atletik di Indonesia juga memiliki sejarah panjang. Olahraga ini dikenal di Indonesia pada masa kolonial Belanda, meskipun pada awalnya belum berkembang luas di masyarakat.

Latihan atletik ketika itu lebih banyak dilakukan di sekolah-sekolah dan lingkungan kemiliteran. Aktivitas tersebut umumnya menjadi bagian dari pendidikan jasmani dan kebutuhan latihan fisik.

Pada 1917, organisasi atletik pertama di Indonesia pada masa kolonial didirikan dengan nama Nederlands Indische Atletiek Unie (NIAU) atau Perserikatan Atletik Hindia Belanda.

Upaya memperkenalkan atletik kemudian dilakukan di sejumlah kota. Namun, perkembangannya masih terbatas pada daerah yang memiliki sekolah lanjutan serta tangsi militer. Beberapa di antaranya adalah Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Medan.

Pada masa itu, perlombaan atletik juga diselenggarakan setiap tahun di Jakarta. Salah satunya berlangsung bertepatan dengan Pasar Gambir, sebuah kegiatan yang pada masa itu dapat disebut sebagai cikal bakal pameran atau pesta rakyat seperti Jakarta Fair pada masa sekarang.

Sejumlah atlet Indonesia juga mulai menunjukkan prestasi. Mohammad Noerbambang, misalnya, dikenal sebagai pelari nomor 100 meter yang disebut pernah mencatat waktu 10,8 detik. Ada pula Harun Alrasyid yang dikenal sebagai atlet lompat tinggi dan lompat jauh.

Atletik pada masa pendudukan Jepang

Perkembangan atletik tidak berhenti ketika pemerintahan kolonial Belanda berakhir. Pada masa pendudukan Jepang, perhatian terhadap olahraga juga tetap diberikan.

Salah satu bentuknya adalah latihan jasmani yang dilakukan para pelajar melalui siaran radio yang dikenal sebagai Radio Taiso. Berbagai latihan olahraga dilakukan, termasuk senam dan atletik.

Pertandingan olahraga juga kerap diselenggarakan menjelang berakhirnya tahun ajaran. Atletik menjadi salah satu nomor utama dalam pertandingan antarkelas, antarsekolah maupun antarkota.

Pada 1943, misalnya, diselenggarakan perlombaan atletik segitiga antarpelajar sekolah menengah dari Bandung, Yogyakarta, dan Solo.

Peserta dari Bandung berada di bawah GASEMBA atau Gabungan Sekolah Menengah Bandung. Yogyakarta diwakili GASEMMA atau Gabungan Sekolah Menengah Mataram, sedangkan Solo diwakili GASEMBO atau Gabungan Sekolah Menengah Solo.

Pada periode yang sama, berbagai perkumpulan atletik juga bermunculan di kota-kota besar. Di antaranya IKADA di Jakarta, GABA di Bandung, IKASO di Solo, dan IPAS di Surabaya.

Setelah Indonesia merdeka, perkembangan atletik terus berlanjut. Pada 1949, Ikatan Sport Indonesia (ISI) menyelenggarakan pekan olahraga di lapangan IKADA yang diikuti sejumlah atlet dari berbagai wilayah di Jawa.

Beberapa atlet yang menonjol pada masa pendudukan Jepang antara lain Soetantio yang dikenal sebagai pelari 100 meter, Soetrisno dalam nomor pancalomba, serta Bram Matulessi sebagai atlet lempar lembing.

Lebih dari sekadar sejarah, atletik menunjukkan bagaimana gerakan sederhana manusia dapat berkembang menjadi olahraga yang memiliki sistem kompetisi global.

Lari, misalnya, menjadi bagian dari berbagai cabang olahraga. Melompat juga menjadi kemampuan dasar yang digunakan dalam banyak permainan. Sementara itu, kemampuan melempar berkaitan dengan koordinasi, kekuatan, dan ketepatan tubuh.

Atletik juga memperlihatkan bahwa olahraga tidak selalu harus dimulai dari gerakan yang rumit. Aktivitas fisik paling dasar justru dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan kemampuan tubuh.

Karena itu, momentum Haornas setiap 9 September dapat dimaknai lebih jauh. Olahraga bukan hanya tentang pertandingan, medali, atau prestasi di arena. Olahraga juga berkaitan dengan upaya menjaga kebugaran, membangun disiplin, mengembangkan kemampuan fisik, dan membentuk karakter. [UN]

Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan