Catatan Cak AT:
Hari ini, Selasa, 16 Juni 2026, umat Islam memasuki tahun baru Hijriyah 1448. Tidak ada langit yang pecah oleh kembang api. Tidak ada hitung mundur yang ditayangkan stasiun televisi dengan dentuman musik yang membuat jendela rumah bergetar. Tidak ada pesta semalam suntuk yang membuat orang lupa pulang.
Kalau pun ada keramaian, biasanya sederhana: anak-anak santri berjalan beriringan menyusuri jalan kampung, membawa obor dengan wajah berseri-seri. Api kecil bergoyang ditiup angin malam, sementara para ibu menonton dari teras rumah sambil sesekali mengingatkan agar jangan terlalu dekat dengan kabel listrik.
Pawai obor itu sering dianggap sekadar tradisi. Padahal, mungkin tanpa disadari, obor adalah metafora paling tepat untuk memahami tahun baru Hijriyah.
Sebab, kalender Islam lahir bukan dari pesta kemenangan, melainkan dari perjalanan panjang mencari cahaya di tengah kegelapan. Ia tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad, bukan pula dari turunnya wahyu pertama, melainkan dari sebuah keputusan paling berani dalam sejarah Islam: hijrah.
Menariknya, hijrah bukanlah kisah seorang tokoh agama yang tiba-tiba memutuskan pindah kota karena bosan tinggal di tempat lama. Hijrah adalah perpaduan antara iman, kecerdasan membaca zaman, keberanian mengambil risiko, serta kemampuan membangun jejaring sosial. Ia adalah kisah tentang bagaimana wahyu bertemu strategi.
Selama tiga belas tahun di Makkah, Nabi Muhammad berdakwah dalam situasi yang tidak mudah. Pengikutnya sedikit. Tekanan sosial meningkat. Pemboikotan ekonomi terjadi. Penghinaan datang silih berganti.
Orang-orang yang hari ini membaca sejarah dalam bentuk ringkasan satu halaman sering lupa bahwa di balik narasi heroik itu ada kelelahan manusiawi yang nyata. Bayangkan seorang pemimpin yang melihat sahabat-sahabatnya disiksa, dicemooh, bahkan sebagian harus meninggalkan kampung halaman lebih dahulu ke Habasyah.
Dengan segala kesulitan itu, dalam ukuran manusia biasa, cukup banyak alasan untuk menyerah. Namun, justru pada titik itulah sejarah berbelok.
Secara akidah, umat Islam meyakini bahwa pendorong utama hijrah adalah izin dan petunjuk Allah. Nabi tidak bergerak semata karena kalkulasi politik. Ada dimensi wahyu yang membimbing langkahnya.
Tetapi, wahyu tidak bekerja dalam ruang kosong. Ia hadir dalam realitas sosial yang konkret. Tuhan membuka jalan, sementara manusia diminta menggunakan akal, membaca peluang, dan menyiapkan bekal.
Di sinilah muncul pertanyaan menarik: siapa yang membangkitkan semangat Nabi untuk berhijrah? Adakah aktor intelektual alias “pemikir” di balik keputusan besar itu?
Kalau yang dibayangkan adalah sosok filsuf istana seperti Aristoteles di belakang Alexander Agung, jawabannya tidak ada. Tidak ada Chanakya yang duduk di belakang Nabi sambil menggambar peta strategi di atas pasir. Tidak ada konsultan politik dengan presentasi PowerPoint berjudul “Roadmap Madinah 622”.




