Potret Baden Powell dalam kegiatan jambore. (Foto: AFP)

Tanggal 12 April menjadi momentum penting dalam sejarah kepramukaan di Indonesia. Hari tersebut diperingati sebagai Hari Bapak Pramuka Indonesia, merujuk pada sosok yang tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga motor penggerak lahirnya Gerakan Pramuka di Tanah Air, yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Penetapan ini berangkat dari peran besarnya dalam membangun fondasi pendidikan karakter bagi generasi muda melalui gerakan kepanduan.

Untuk memahami makna di balik peringatan ini secara lebih utuh, tidak ada salahnya menelusuri jejak panjang sejarah kepramukaan dari awal kemunculannya di dunia hingga tumbuh dan mengakar di Indonesia. Mengutip berbagai sumber, berikut sejarahnya.

Kepramukaan sendiri merupakan gerakan yang telah mengakar kuat, baik di Indonesia maupun di dunia. Ia lahir dari proses panjang peleburan berbagai organisasi kepanduan yang sebelumnya berdiri sendiri. Jika ditelusuri lebih jauh, gerakan ini berasal dari Inggris, diprakarsai oleh Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, yang dikenal sebagai Bapak Pramuka Dunia.

Pada 25 Juli 1907, Baden-Powell menggelar perkemahan di Pulau Brownsea, sebuah pulau di pelabuhan Poole, Dorset, Inggris. Kegiatan tersebut menjadi tonggak awal lahirnya gerakan kepanduan dunia. Ketertarikannya terhadap alam sejak kecil, serta pengalamannya sebagai perwira militer, membentuk konsep pendidikan yang menekankan pada kemandirian, ketahanan, dan keterampilan hidup di alam terbuka.

Gagasan tersebut kemudian dituangkan dalam buku Scouting for Boys yang terbit setahun setelah perkemahan. Buku ini menyebar luas dan menjadi pedoman dasar gerakan kepanduan di berbagai negara. Pada 1910, Baden-Powell memutuskan pensiun dari militer dan mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan Pramuka. Ia juga memperluas gerakan ini dengan membentuk Girls Guides bersama saudarinya Agnes pada 1912, kelompok siaga CUB pada 1916, serta Rover Scout pada 1918 untuk pemuda yang lebih dewasa.

Puncak pengakuan global terhadap gerakan ini terjadi pada 1920 melalui penyelenggaraan Jambore Dunia pertama di Olympia Hall, London. Dalam kesempatan tersebut, Baden-Powell diangkat sebagai Chief Scout of The World. Sejak saat itu, Jambore Dunia menjadi ajang rutin yang mempertemukan Pramuka dari berbagai negara.

Beberapa penyelenggaraan Jambore Dunia yang mencerminkan perjalanan panjang gerakan ini antara lain Jambore I di London, Inggris (1920), Jambore II di Kopenhagen, Denmark (1924), Jambore III di Birkenhead, Inggris (1929), Jambore IV di Budapest, Hongaria (1933), Jambore V di Vogelenzang, Belanda (1937), Jambore VI di Moisson, Prancis (1947), Jambore VII di Austria (1951), Jambore VIII di Sutton Coldfield, Inggris (1955), Jambore IX di Filipina (1959), Jambore X di Marathon, Yunani (1963), hingga Jambore XXV di di Saemangeum, Korea Selatan (2023). Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa Pramuka telah berkembang menjadi gerakan global yang melintasi batas negara dan budaya.

Seiring berkembangnya gerakan ini, dibentuklah World Organization of the Scout Movement (WOSM) sebagai organisasi yang menaungi kepanduan dunia. Sekretariatnya kini berada di Jenewa, Swiss, dengan jaringan kantor regional yang tersebar di berbagai kawasan dunia.

Di Indonesia, sejarah kepanduan bermula sejak masa kolonial melalui organisasi Belanda bernama NPO (Netherlandesche Padvinders Organisatie) pada 1912 yang kemudian berubah menjadi NIPV atau Netherland Indische Padvinders Vereeniging (Persatuan Pandu Hindia Belanda) . Kesadaran nasional mendorong lahirnya organisasi lokal seperti Javaansche Padvinder Organisatie (JPO) yang didirikan oleh Mangkunegara VII pada 1916. Meski sempat mendapat tekanan dari pemerintah kolonial, semangat kepanduan terus tumbuh hingga terbentuknya BPPKI pada 1938 sebagai wadah persatuan organisasi kepanduan.

Momentum penting terjadi pada 14 Agustus 1961, ketika Presiden Soekarno menetapkan Gerakan Pramuka melalui Keputusan Presiden Nomor 448 Tahun 1961. Sejak saat itu, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Lahir Gerakan Pramuka Indonesia.

Dalam perkembangannya, gerakan kepanduan hadir dengan beragam sebutan di berbagai negara. Di India dikenal sebagai The Bharat Scouts and Guides, di Malaysia sebagai Persekutuan Pengakap Malaysia, di Prancis sebagai Scoutisme Français, di Jepang sebagai Scout Association of Japan, dan di Jerman sebagai Ring deutscher Pfadfinderverbände.

Selain itu, di Belanda disebut Scouting Nederland, di Brasil dikenal sebagai União dos Escoteiros do Brasil, di Filipina sebagai Boy Scouts of the Philippines, di Korea Selatan sebagai Korea Scout Association, serta di Mesir sebagai Egyptian Federation for Scouts and Girl Guides. Perbedaan nama ini mencerminkan keragaman budaya, namun tetap berada dalam satu semangat global yang sama.

Peringatan 12 April pun tidak sekadar menjadi penanda historis, melainkan momentum untuk kembali meneguhkan semangat yang diwariskan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dari perkemahan sederhana di masa lalu hingga pertemuan besar lintas negara hari ini, Pramuka terus tumbuh sebagai gerakan yang menyatukan, mendidik, dan menginspirasi. [UN]