Durasi puasa terpanjang dan terpendek. Foto: Shutterstock)

Bulan Ramadan merupakan bulan yang mulia dan penuh keberkahan bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Selama sebulan penuh, umat Muslim menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan dan pengendalian diri, menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, durasi puasa Ramadan ternyata tidak sama di setiap negara.

Perbedaan waktu puasa ini dipengaruhi oleh letak geografis dan panjang siang-malam di masing-masing wilayah. Secara umum, puasa dilakukan sejak matahari terbit hingga matahari terbenam. Karena rotasi bumi dan posisi suatu negara terhadap garis khatulistiwa maupun kutub, panjang siang hari bisa berbeda-beda. Akibatnya, umat Muslim di berbagai belahan dunia menjalani puasa dengan durasi yang bervariasi, mulai sekitar 11 jam hingga lebih dari 16 jam.

Pada Ramadan 2026, perbedaan ini kembali menjadi perhatian. Ada negara yang menjalani puasa dengan waktu sangat panjang, sementara sebagian lainnya relatif lebih singkat.

Negara dengan Durasi Puasa Terpanjang di Dunia

Wilayah di belahan bumi utara, terutama yang berada dekat Kutub Utara, menjadi lokasi dengan durasi puasa terpanjang. Negara-negara seperti Greenland, Islandia, Norwegia, Swedia, dan Finlandia diperkirakan menjalani puasa lebih dari 16 jam selama Ramadan 2026.

Di beberapa wilayah lintang tinggi, seperti Swedia bagian utara, Greenland, hingga Kanada bagian utara, durasi puasa bahkan bisa mendekati 20 jam. Hal ini terjadi karena pada periode tertentu, siang hari berlangsung sangat lama, sementara malam menjadi sangat singkat.

Fenomena ini dikenal sebagai efek musim panas di wilayah dekat kutub, ketika matahari tampak berada di atas cakrawala dalam waktu yang panjang. Bagi umat Muslim yang tinggal di wilayah tersebut, menjalani puasa tentu menjadi tantangan tersendiri karena waktu berbuka yang sangat larut.

Dalam kondisi ekstrem seperti ini, sebagian ulama memberikan keringanan. Umat Muslim diperbolehkan mengikuti jadwal puasa dari kota terdekat yang memiliki durasi siang lebih moderat, atau mengikuti waktu di Makkah agar ibadah tetap dapat dijalankan secara wajar dan tidak membahayakan kesehatan.

Negara dengan Durasi Puasa Terpendek

Sebaliknya, wilayah di belahan bumi selatan atau negara-negara yang berada dekat garis khatulistiwa cenderung memiliki durasi puasa lebih singkat. Negara seperti Brasil, Argentina, Uruguay, Chile, Afrika Selatan, dan Selandia Baru diperkirakan memiliki waktu puasa sekitar 11 hingga 13 jam pada Ramadan 2026.

Durasi yang lebih singkat ini terjadi karena saat Ramadan berlangsung, sebagian wilayah belahan bumi selatan sedang berada dalam fase musim gugur atau menjelang musim dingin, di mana panjang siang hari lebih pendek dibandingkan wilayah utara.

Sementara itu, negara-negara di sekitar khatulistiwa seperti Indonesia dan Malaysia relatif stabil setiap tahunnya. Durasi puasa di wilayah ini berkisar antara 12 hingga 14 jam, karena panjang siang dan malam tidak mengalami perubahan ekstrem sepanjang tahun.

Perbedaan durasi puasa Ramadan di berbagai negara menjadi gambaran nyata bagaimana faktor geografis memengaruhi praktik ibadah umat Muslim. Meski waktu yang dijalani berbeda, esensi puasa tetap sama yaitu menahan diri, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat solidaritas sosial.

Baik di negara dengan puasa terpanjang seperti Greenland dan Norwegia, maupun di negara dengan puasa terpendek seperti Brasil dan Afrika Selatan, Ramadan tetap menjadi momentum yang dinantikan. Perbedaan jam bukanlah penghalang, melainkan bagian dari keberagaman kondisi alam yang dijalani umat Muslim di seluruh dunia. [UN]