Emir Moeis bertemu masyarakat. (Dok. Pribadi)

Jakarta – Ketua Umum Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM), Emir Moeis, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto tidak akan menunjukkan hasil instan. Menurutnya, dampak nyata program tersebut baru akan terlihat dalam rentang lima hingga sepuluh tahun ke depan.

“Seperti apa anak-anak Indonesia yang mendapatkan makanan bergizi gratis itu? Paling tidak, pertumbuhannya akan lebih baik karena gizinya cukup,” ujar mantan Ketua Komisi XI dan Ketua Badan Anggaran DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Emir menegaskan, anak-anak yang hari ini memperoleh asupan nutrisi dari program MBG berpotensi melampaui generasi sebelumnya yang tidak mendapatkan kecukupan gizi. Ia menyinggung bahwa Generasi Z—kelahiran 1997–2012—sudah menunjukkan pertumbuhan fisik yang cukup baik, dengan tinggi badan rata-rata mendekati 170 cm. Namun, menurutnya, peningkatan kualitas gizi yang lebih merata akan mendorong hasil yang lebih signifikan, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara intelektual.

Sebagai ilustrasi, Emir mencontohkan kondisi Jerman pasca Perang Dunia I. Saat itu, banyak anak mengalami hambatan pertumbuhan akibat kelaparan. Namun dalam kurun waktu sekitar 7–10 tahun setelah dilakukan perbaikan kondisi gizi pada masa pemerintahan saat itu, terjadi perubahan signifikan pada kondisi fisik generasi mudanya.

“Hanya tujuh sampai sepuluh tahun. Kita berharap hal seperti itu bisa terjadi di Indonesia, tentu dalam konteks pembangunan yang positif,” ungkapnya.

Selain berdampak pada kualitas sumber daya manusia, Emir juga menilai program MBG berpotensi menggerakkan perekonomian nasional. Menurutnya, kebutuhan bahan pangan untuk dapur-dapur MBG dapat menyerap hasil panen petani dan produk peternak dalam negeri.

“Kalau dikelola dengan baik, ini bisa menghidupkan sektor pertanian, peternakan, hingga distribusi. Uang yang berputar tetap di dalam negeri, sehingga meningkatkan konsumsi rumah tangga dan mendorong pertumbuhan GDP,” jelasnya.

Terkait kritik yang menyebut program MBG rawan menjadi ladang keuntungan pihak tertentu, Emir menilai hal tersebut tidak bisa digeneralisasi. Ia menegaskan bahwa pelaksana program tentu membutuhkan tenaga kerja dan biaya operasional, yang pada akhirnya juga akan berputar kembali dalam perekonomian nasional.

Ia mengakui setiap program baru pasti memiliki kekurangan. Namun menurutnya, yang terpenting adalah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.

“Bahwa ada kekurangan di sana-sini itu pasti ada. Tinggal bagaimana cepat diperbaiki agar program yang sudah baik menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Emir juga berpesan agar pemerintah tidak terburu-buru menjalankan banyak program sekaligus. Ia menyarankan agar MBG dijalankan secara bertahap, dengan menyasar kelompok masyarakat yang paling membutuhkan berdasarkan data dan statistik yang jelas.

Menurutnya, tidak semua sekolah memiliki tingkat kebutuhan yang sama. Ada sekolah yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi, namun ada pula yang kondisi siswanya relatif tercukupi.

“Jadi pengeluaran tidak harus langsung sampai Rp300 triliun. Mungkin bisa dimulai Rp100 triliun dulu, lalu meningkat bertahap sesuai evaluasi dan kebutuhan agar program ini benar-benar efektif,” tegasnya.

Lebih jauh, Emir berpendapat jika program serupa sudah dijalankan sejak era Orde Baru, hasilnya mungkin sudah terlihat pada generasi saat ini. Ia mengutip gagasan Soekarno tentang nation building and character building. Menurut Emir, pembangunan karakter bangsa akan semakin kuat bila disertai pemenuhan gizi yang baik—sebuah proses yang ia sebut sebagai character and brain building.

Meski secara politik berada di luar barisan pemerintahan Prabowo, Emir menyatakan dukungannya terhadap program MBG.

“Ini hal yang baik untuk bangsa dan harus saya dukung penuh,” pungkasnya. [KS]