Setiap 5 Oktober, Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tanggal tersebut tidak lepas dari sejarah panjang pembentukan kekuatan bersenjata Republik Indonesia yang dimulai hanya beberapa pekan setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Pada 5 Oktober 1945, pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pembentukan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi militer Indonesia yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia.
Tahun ini, TNI memperingati hari jadinya yang ke-81 dengan tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.” Upacara peringatan digelar di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026, dengan Presiden Prabowo Subianto sebagai inspektur upacara.
Namun, sebelum TNI menjadi institusi pertahanan negara seperti sekarang, organisasi ini melewati sejumlah perubahan di tengah situasi politik dan keamanan yang belum stabil.
Dari BKR, TKR hingga TNI
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pemerintah menghadapi persoalan besar, yaitu bagaimana menjaga keamanan negara yang baru berdiri tanpa segera memancing konflik terbuka dengan kekuatan asing.
Pada 22 Agustus 1945, pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). BKR menjadi wadah awal bagi berbagai unsur masyarakat yang memiliki pengalaman maupun kemampuan dalam bidang keamanan dan kemiliteran.
Perkembangan situasi kemudian mendorong pemerintah membentuk tentara nasional. Pada 5 Oktober 1945, BKR berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pemerintah memilih istilah tersebut dalam situasi ketika pasukan Jepang masih berada di Indonesia dan Sekutu mulai datang.
Perjalanan organisasi itu tidak berhenti di sana. Pada Januari 1946, TKR diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, sebelum kemudian menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Selanjutnya, pada 3 Juni 1947, TRI dan berbagai laskar perjuangan dipersatukan ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Dengan demikian, kelahiran TNI bukanlah sebuah peristiwa yang berlangsung dalam satu hari. Ia merupakan proses panjang yang berlangsung sejak masa awal kemerdekaan, ketika pemerintah harus membangun struktur pertahanan sekaligus mempertahankan eksistensi Republik Indonesia.
Selain sejarah yang panjang, adapula tokoh-tokoh yang berperan penting. Siapa saja tokoh itu? Berikut daftarnya!
Soekarno
Sebagai Presiden Republik Indonesia, Soekarno memegang peran penting dalam perjalanan pembentukan tentara nasional.
Pada 3 Juni 1947, pemerintah mengesahkan pembentukan TNI sebagai kekuatan bersenjata yang menyatukan TRI dan badan-badan perjuangan rakyat. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemerintah membangun satu kekuatan militer nasional di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Penyatuan itu juga menjawab persoalan yang muncul pada masa revolusi, ketika selain tentara reguler terdapat berbagai laskar perjuangan yang terbentuk berdasarkan latar belakang organisasi dan daerah masing-masing.
Mohammad Hatta dan Oerip Soemohardjo
Di balik pembentukan struktur TKR terdapat peran Mohammad Hatta dan Oerip Soemohardjo.
Setelah TKR dibentuk, Wakil Presiden Mohammad Hatta memanggil Oerip Soemohardjo ke Jakarta untuk membantu menyusun organisasi tentara. Oerip merupakan perwira yang memiliki pengalaman pendidikan militer di Breda, Belanda.
Oerip kemudian menjadi Kepala Staf Umum TKR. Ia bertugas menyusun organisasi dan sistem komando tentara yang baru lahir tersebut. Sementara itu, Supriyadi ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi TKR, meskipun kemudian tidak hadir dalam sejumlah agenda pemerintahan sehingga diperlukan pengaturan kembali kepemimpinan militer.
Pada 12 November 1945, konferensi TKR di Yogyakarta memilih Soedirman sebagai pemimpin tertinggi. Pemerintah kemudian mengangkatnya secara resmi sebagai Panglima Besar TKR pada 18 Desember 1945.
Soedirman
Nama Soedirman kemudian menjadi salah satu simbol penting dalam sejarah militer Indonesia.
Sebelum menjadi Panglima Besar, Soedirman telah terlibat dalam pembentukan kekuatan BKR di Banyumas. Setelah TKR terbentuk, ia memimpin pasukan di wilayah tersebut dan kemudian terpilih dalam konferensi TKR pada 12 November 1945.
Kepemimpinannya semakin dikenal setelah keberhasilan pasukan Republik dalam Palagan Ambarawa. Dari masa inilah sosok Soedirman semakin kuat sebagai figur yang merepresentasikan hubungan antara tentara dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Ketika TNI akhirnya terbentuk pada 1947, Soedirman menjadi Panglima Besar dari institusi militer yang lahir di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Amir Sjarifuddin
Perjalanan menuju TNI juga tidak terlepas dari proses penataan organisasi di tingkat pemerintahan.
Amir Sjarifuddin, yang menjabat Menteri Pertahanan pada periode penting revolusi, terlibat dalam proses restrukturisasi tentara. Pada Januari 1946, pemerintah mengubah nama TKR menjadi Tentara Keselamatan Rakyat melalui Penetapan Pemerintah No. 2/SD Tahun 1946.
Tidak lama kemudian, pada 26 Januari 1946, pemerintah mengeluarkan maklumat yang mengubah Tentara Keselamatan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Perubahan tersebut dimaksudkan untuk menyempurnakan organisasi tentara sesuai kebutuhan negara yang sedang membangun sistem pertahanannya.
Moehamad Suljoadikusumo
Dalam struktur awal Kementerian Keamanan Rakyat, Moehamad Suljoadikusumo juga memiliki posisi penting. Ia tercatat sebagai menteri ad interim pada masa pembentukan TKR, sementara Oerip Soemohardjo menjalankan fungsi sebagai Kepala Staf Umum.
Posisi tersebut menempatkannya pada fase awal ketika pemerintah mulai membangun hubungan antara keputusan politik, kementerian dan organisasi militer yang baru dibentuk.
Peran administratif seperti ini menjadi bagian yang tidak kalah penting dalam proses pembentukan tentara nasional. Sebab, sebuah organisasi militer tidak hanya membutuhkan pasukan dan persenjataan, tetapi juga struktur komando, administrasi, logistik dan koordinasi dengan pemerintah.
Mas Pardi
Fondasi TNI juga dibangun dari berbagai sektor. Di bidang kelautan, salah satu tokoh pentingnya adalah Mas Pardi.
Pada 10 September 1945, BKR Laut Pusat dibentuk di Jakarta dengan Mas Pardi sebagai pemimpinnya. Organisasi tersebut menghimpun para pemuda bahariawan, termasuk mereka yang berasal dari lingkungan sekolah pelayaran dan pelabuhan.
BKR Laut kemudian berkembang menjadi TKR Laut dan selanjutnya menjadi bagian dari perjalanan pembentukan Angkatan Laut Republik Indonesia.
Mas Pardi tidak hanya berperan dalam menghimpun kekuatan pelaut. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan pelayaran. Karena itu, namanya kemudian dikenang sebagai salah satu perintis kekuatan laut sekaligus tokoh penting dalam perkembangan ilmu pelayaran di Indonesia.
Soerjadi Soerjadarma
Sementara di udara, R. Soerjadi Soerjadarma menjadi salah satu tokoh utama dalam membangun kekuatan penerbangan militer Indonesia.
Setelah TKR terbentuk, unsur penerbangan berada dalam struktur TKR Jawatan Penerbangan. Perkembangannya kemudian mencapai tahap penting pada 9 April 1946, ketika pemerintah menetapkan pembentukan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara melalui Penetapan Pemerintah No. 6/SD Tahun 1946.
Soerjadi Soerjadarma ditetapkan sebagai kepala staf pertama. Ia bersama para perintis penerbangan lainnya membangun organisasi, memperbaiki pangkalan udara, mengembangkan pendidikan penerbang dan menghimpun personel yang memiliki pengalaman penerbangan.
Di tengah keterbatasan pesawat dan fasilitas, pembangunan kekuatan udara terus dilakukan. Sekolah penerbang di Maguwo menjadi salah satu bagian penting dalam mencetak tenaga penerbang bagi republik.
Tanggal 9 April 1946 kemudian diperingati sebagai hari lahir TNI Angkatan Udara.
Jika ditarik ke belakang, perjalanan TNI memperlihatkan bagaimana sebuah negara yang baru merdeka harus membangun sistem pertahanannya hampir bersamaan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
BKR menjadi wadah awal. TKR kemudian dibentuk sebagai tentara nasional. Organisasi tersebut berubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat dan kemudian TRI. Pada 3 Juni 1947, TRI bersama laskar-laskar perjuangan disatukan menjadi TNI.
Proses tersebut melibatkan banyak unsur, mulai dari keputusan politik pemerintah, penyusunan organisasi militer, hingga keterlibatan pemuda dan masyarakat yang bergabung dalam berbagai badan perjuangan.
Karena itu, sejarah 5 Oktober bukan hanya tentang sebuah tanggal dalam kalender peringatan. Di baliknya terdapat rangkaian keputusan dan perjuangan yang berlangsung sejak hari-hari pertama Republik Indonesia berdiri.
Dari BKR hingga TNI, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan kekuatan pertahanan Indonesia merupakan proses bertahap. Para tokoh politik, perwira, pelaut, penerbang, pemuda dan rakyat ikut meletakkan fondasi bagi lahirnya tentara nasional yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan Republik Indonesia.
Nah, itulah perjalanan lahirnya TNI dan para tokoh yang turut meletakkan fondasinya. Dari masa awal kemerdekaan hingga menjadi institusi pertahanan negara, sejarah TNI tidak terlepas dari perjuangan dan pengabdian untuk Indonesia. [UN]



