Isabel Peron saat masih menjabat sebagai presiden Argentina, melambaikan tangan kepada kerumunan pada 22 September dari balkoni Istana Kepresidenan Pink House, Plaza de Mayo, Buenos Aires, Argentina. (AFP)

Dalam sejarah politik dunia, tak banyak nama perempuan yang mampu menembus dinding tebal kekuasaan yang selama berabad-abad didominasi oleh laki-laki. Apalagi jika berbicara tentang sosok yang menduduki jabatan tertinggi sebuah negara di tengah krisis nasional dan dinamika ideologi yang ekstrem. Namun, pada dekade 1970-an, dari tanah Amerika Latin yang bergolak, muncullah seorang figur tak terduga yaitu Isabel Perón.

Lahir dari latar belakang sederhana dan pernah hidup sebagai penari di klub malam, Isabel Perón tidak memiliki rekam jejak politik yang mentereng. Tapi pertemuannya dengan Juan Domingo Perón, mantan presiden kharismatik Argentina membawanya ke dalam pusaran kekuasaan dan sejarah.

Ketika Juan Perón wafat, Isabel tak hanya mewarisi kursi kepresidenan, tetapi juga beban besar dari sebuah bangsa yang tengah bergejolak.

Siapakah sebenarnya Isabel Perón? Bagaimana ia bisa menjadi presiden perempuan pertama di dunia yang menjabat secara resmi? Dan mengapa masa pemerintahannya begitu kontroversial hingga namanya kerap dikaitkan dengan awal mula era kekerasan sistematis di Argentina? Dirangkum dari berbagai sumber, berikut perjalanan hidup Isabel Peron.

Masa Kecil

Isabel Perón lahir pada 4 Februari 1931 di La Rioja, Argentina, dari keluarga kelas menengah ke bawah. Ayahnya, Carmelo Martínez, meninggal dunia saat Isabel masih anak-anak, meninggalkan beban ekonomi yang berat bagi keluarganya.

Kondisi ini memaksanya berhenti sekolah setelah kelas lima sekolah dasar. Meski pendidikan formalnya terputus, Isabel tetap menumbuhkan minat pada dunia seni. Ia sempat belajar piano, tari, dan bahasa Prancis, yang kemudian menjadi bekal penting dalam kehidupan dewasanya.

Untuk menopang hidup, Isabel muda bekerja sebagai penari di sejumlah klub malam dan teater di Buenos Aires. Dalam karier panggungnya itu, ia mulai menggunakan nama “Isabel” sebagai nama panggung, menggantikan nama aslinya. Kehidupan malam dan dunia hiburan menjadi panggung awal bagi perempuan yang kelak akan menjadi simbol kekuasaan tertinggi di negaranya.

Pertemuan dengan Juan Perón

Perjalanan hidup Isabel berubah drastis pada awal 1950-an, ketika ia bertemu dengan Juan Domingo Perón, mantan Presiden Argentina yang saat itu tengah menjalani masa pengasingan di Panama setelah digulingkan melalui kudeta pada tahun 1955. Perón, yang sudah kehilangan dua istri sebelumnya (terutama Evita Perón, yang sangat dicintai rakyat Argentina), terpesona oleh pesona Isabel.

Isabel kemudian menemani Juan Perón ke Spanyol, tempat di mana ia menjalani pengasingannya di bawah pemerintahan Francisco Franco. Kehadiran Isabel di sisi Perón bukan hanya sebagai pendamping pribadi, tetapi juga menjadi sosok yang dipercaya dan dilibatkan dalam urusan politik.

Pada 15 November 1961, keduanya menikah secara resmi di Madrid. Dengan pernikahan ini, Isabel menjadi istri ketiga Perón dan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan politik yang sangat kuat.

Awal Karier Politik

Isabel bukanlah politisi yang lahir dari partai atau sekolah politik. Namun, melalui peranannya sebagai istri Perón, ia perlahan terlibat dalam dinamika kekuasaan. Saat Perón kembali menghidupkan jaringan politiknya di Amerika Selatan, Isabel menjadi perantara utama antara dirinya di Spanyol dan para pendukung di Argentina serta negara-negara lain.

Perannya semakin penting dalam membangun kembali kekuatan Gerakan Peronis yang sempat terpecah setelah pengasingan sang pemimpin.

Pada tahun 1973, Juan Perón kembali ke Argentina dan berhasil memenangi pemilihan umum. Dalam pemerintahan barunya, Perón menunjuk Isabel sebagai Wakil Presiden, meskipun banyak kalangan yang meragukan kemampuan politik dan kepemimpinannya. Penunjukan ini menimbulkan kontroversi, tetapi Perón bersikukuh—baik sebagai keputusan politik maupun pribadi.

Setelah Juan Perón meninggal dunia pada 1 Juli 1974, Isabel secara otomatis naik menggantikan posisi suaminya sebagai Presiden Argentina. Dengan pengangkatan ini, Isabel menjadi perempuan pertama di dunia yang menjabat sebagai kepala negara secara resmi dan satu-satunya presiden perempuan di belahan bumi Barat saat itu. Ia juga menjadi kepala negara termuda di Amerika Latin pada usia 43 tahun.

Namun, kekuasaan yang diperolehnya datang bersamaan dengan tantangan yang luar biasa besar. Argentina pada saat itu tengah berada dalam krisis ekonomi parah, dengan inflasi tinggi, keruntuhan sektor industri, dan pemogokan massal oleh serikat buruh.

Kepercayaan publik merosot, sementara stabilitas politik semakin rapuh karena meningkatnya konflik antara kelompok kiri revolusioner dan kelompok kanan reaksioner yang mendukung kekuasaan militer dan konservatif.

Isabel dikelilingi oleh sejumlah penasihat yang tidak populer, salah satunya adalah José López Rega, tokoh spiritual dan menteri kesejahteraan sosial yang berpengaruh besar di lingkaran dalam istana. López Rega dikenal memiliki kedekatan dengan ajaran okultisme dan spiritualisme, tetapi lebih dari itu, ia juga mendirikan organisasi paramiliter Triple A (Aliansi Anti-Komunis Argentina).

Triple A dan Kekerasan Politik

Triple A bertanggung jawab atas ratusan pembunuhan politik dan penghilangan aktivis yang dituduh berpaham kiri atau “subversif.” Di bawah kepemimpinan Isabel, pemerintah juga menerbitkan sejumlah dekret yang memberi wewenang kepada militer untuk melakukan aksi terhadap kelompok yang dianggap sebagai ancaman negara.

Langkah-langkah ini menjadi awal dari masa kelam dalam sejarah Argentina yang kemudian dikenal sebagai “Dirty War” (Perang Kotor)—masa ketika negara melakukan pelanggaran HAM secara sistematis terhadap warganya. Meskipun sebagian besar kekejaman Dirty War terjadi setelah Isabel digulingkan, kebijakan dan perintah eksekutif yang ia tandatangani menjadi landasan legal awal dari rangkaian kekerasan tersebut.

Laporan resmi “Nunca Más” yang diterbitkan tahun 1984 mencatat bahwa selama masa pemerintahan Isabel (1974–1976), terjadi sekitar 600 kasus penghilangan paksa dan 500 pembunuhan politik—angka yang menunjukkan betapa tingginya intensitas kekerasan pada masa itu.

Kudeta dan Pengasingan

Ketidakmampuan Isabel dalam mengatasi krisis ekonomi dan kekacauan politik akhirnya memicu ketegangan antara sipil dan militer. Pada 24 Maret 1976, militer Argentina melakukan kudeta tanpa pertumpahan darah dan menurunkan Isabel dari jabatannya sebagai Presiden. Ia langsung ditangkap dan menjalani tahanan rumah selama lima tahun.

Pada tahun 1981, setelah masa tahanannya berakhir, Isabel diperbolehkan meninggalkan Argentina. Ia kemudian menetap di Spanyol, tempat yang pernah menjadi saksi awal karier politiknya bersama Juan Perón. Sejak saat itu, Isabel menjalani kehidupan dengan profil rendah, menjauh dari dunia politik dan publik.

Meski telah lama tinggal di pengasingan, bayang-bayang masa lalu tetap membayangi Isabel. Pada 2007, ia sempat ditahan oleh otoritas Spanyol setelah Argentina mengeluarkan permintaan ekstradisi atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia selama pemerintahannya. Namun, pengadilan Spanyol menolak permintaan tersebut dengan alasan kurangnya bukti hukum yang cukup kuat.

Isabel kini hidup dalam ketenangan dan keterasingan, jauh dari gemerlap politik yang dulu membesarkannya. Tidak banyak informasi yang dibagikan kepada publik mengenai aktivitasnya di usia senja.

Warisan Isabel Perón adalah salah satu yang paling rumit dan kontroversial dalam sejarah Argentina. Di satu sisi, ia menandai tonggak penting bagi representasi perempuan dalam politik global—menjadi presiden perempuan pertama di dunia yang memimpin sebuah negara secara resmi. Namun di sisi lain, pemerintahannya juga identik dengan kekacauan, kekerasan politik, dan pelanggaran hak asasi manusia. [UN]