Setiap 4 Februari, dunia berhenti sejenak untuk memberi ruang pada satu isu kesehatan yang dampaknya lintas batas, lintas usia, dan lintas kelas sosial, penyakit itu bernama kanker. Tanggal ini diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day), sebuah momentum global yang jauh melampaui seremoni tahunan. Ia hadir sebagai pengingat akan urgensi pencegahan, pentingnya deteksi dini, serta hak setiap manusia untuk memperoleh akses pengobatan kanker yang layak dan efektif.
Peringatan ini digagas oleh Union for International Cancer Control (UICC), sebuah organisasi kanker internasional yang berdiri sejak 1933 dan dikenal sebagai yang tertua serta terbesar di dunia dalam isu penanganan kanker. Melalui Hari Kanker Sedunia, UICC mendorong peningkatan kesadaran global sekaligus menumbuhkan solidaritas internasional dalam melawan penyakit yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia.
Secara historis, Hari Kanker Sedunia pertama kali dicetuskan pada tahun 2000 dalam Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Melawan Kanker yang diselenggarakan di Paris, Prancis. Dari forum inilah lahir Piagam Paris, yang disepakati dan ditandatangani pada 4 Februari 2000 oleh berbagai organisasi kesehatan dan pemimpin dunia.
Piagam ini menjadi fondasi moral dan strategis bagi gerakan global melawan kanker, dengan menekankan pentingnya kerja sama lintas negara dalam penelitian kanker yang berkelanjutan, edukasi pencegahan bagi masyarakat luas, serta peningkatan kualitas layanan bagi pasien kanker.
Dua dekade lebih setelah Piagam Paris disepakati, UICC terus memperluas jejaring dan pengaruhnya. Saat ini, organisasi tersebut memiliki 1.120 anggota yang tersebar di 172 negara, semuanya berkomitmen pada tujuan bersama yaitu menurunkan beban kanker secara global dan memastikan tidak ada individu yang tertinggal dalam upaya penanganannya.
Memasuki periode 2025 hingga 2027, Hari Kanker Sedunia mengusung tema besar “United by Unique” atau “Dipersatukan oleh Keunikan”. Tema ini membawa pesan yang lebih humanis dan reflektif, menegaskan bahwa setiap pengalaman menghadapi kanker bersifat personal dan tidak bisa diseragamkan.
Melalui kampanye #UnitedByUnique, dunia diajak untuk memandang kanker tidak semata sebagai diagnosis medis, melainkan sebagai perjalanan hidup yang sarat dengan perjuangan, rasa sakit, duka, harapan, pemulihan, dan kasih sayang.
Dalam keterangan resmi World Cancer Day disebutkan bahwa kanker adalah pengalaman unik setiap individu, dengan kisah yang tidak pernah benar-benar sama antara satu pasien dan lainnya. Oleh karena itu, tema ini mendorong terciptanya sistem perawatan kesehatan yang lebih berfokus pada manusia, bukan sekadar penyakitnya. Pasien tidak lagi dipandang sebagai objek pengobatan, melainkan subjek dengan kebutuhan personal, emosional, dan sosial yang harus dihargai.
Di tengah kompleksitas penanganan kanker, pencegahan tetap menjadi langkah awal yang paling mendasar. Pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi bentuk kepedulian sederhana namun berdampak besar. Hari Kanker Sedunia pun hadir sebagai pengingat bahwa melawan kanker bukan hanya tugas tenaga medis atau lembaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia. [UN]