Tradisi Dugderan dengan membawa Warak Ngendok. (Foto: blogkulo.com)

Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, berbagai daerah di Indonesia menghadirkan tradisi khas yang sarat makna spiritual dan sosial. Tradisi Megengan di Jawa, Balimau di Sumatera Barat, serta Dugderan di Semarang menjadi bukti kuat bagaimana ajaran Islam berakulturasi dengan budaya lokal. Ketiganya dilaksanakan menjelang akhir bulan Sya’ban sebagai bentuk persiapan lahir dan batin, sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat. Bagaimana ketiga tradisi itu dilakukan? menurut beberapa sumber, berikut rinciannya.

Megengan

Di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, terutama Ponorogo, Surabaya, dan Gresik, masyarakat mengenal tradisi Megengan. Kata “megengan” berasal dari bahasa Jawa, megeng, yang berarti menahan atau mengendalikan diri. Makna ini selaras dengan esensi puasa sebagai latihan pengendalian hawa nafsu.

Di Ponorogo, khususnya desa-desa seperti Ngadirojo dan Kertosari, Megengan dilaksanakan secara turun-temurun sebagai ritual warisan leluhur yang memadukan budaya Jawa dan nilai Islam. Tradisi ini tidak hanya menjadi momentum menyambut Ramadhan, tetapi juga bentuk penghormatan kepada para pendahulu serta permohonan keselamatan.

Rangkaian ritualnya terdiri atas tiga tahap utama. Pertama, ziarah ke makam leluhur sebagai wujud doa dan penghormatan. Kedua, pemasangan sesaji dalam beberapa praktik disertai pembakaran kemenyan yang dipanjatkan dengan doa. Ketiga, selamatan Megengan atau kondangan yang dilakukan pada malam hari.

Makanan yang disajikan memiliki simbolisme mendalam. Nasi mule dipersembahkan sebagai simbol “pulangnya” leluhur. Ayam panggang rasulan, kue apem, srondeng kelapa, kering tempe atau tahu, sayur lodeh, jenang merah atau sengkala, serta nasi golong atau buceng kuat disusun di rumah tengah desa. Selamatan dipimpin oleh sesepuh atau tukang hajat, lalu disantap bersama secara melingkar.

Apem putih melambangkan pengampunan dan kesucian. Srondeng diperuntukkan bagi arwah leluhur, sementara hidangan yang melimpah menjadi simbol kemurahan hati dan semangat berbagi. Peci yang dikenakan tetua adat menegaskan harmoni antara adat dan ajaran Islam. Kini, Megengan juga diadaptasi di masjid-masjid kota besar dengan pembagian apem dan doa bersama, namun di desa-desa Ponorogo nuansa tradisionalnya tetap kental.

Balimau

Di Sumatera Barat, masyarakat Minangkabau menyambut Ramadhan melalui tradisi Balimau. Ritual mandi suci ini dilaksanakan pada hari terakhir bulan Sya’ban setelah salat Ashar. Balimau selaras dengan prinsip adat Minangkabau, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, yang menegaskan bahwa adat dan syariat berjalan seiring.

Secara fisik, Balimau menggunakan campuran air dengan jeruk nipis atau limau purut, rempah, dan bunga. Ramuan ini dipercaya membersihkan kulit, menghilangkan bau badan, serta memberikan kesegaran alami tanpa bahan kimia. Namun makna Balimau jauh melampaui kebersihan tubuh. Ia menjadi simbol penyucian jiwa dari dosa serta niat memulai Ramadhan dengan hati bersih.

Prosesi diawali dengan berkumpulnya penghulu, ninik mamak, cadiak pandai, serta masyarakat di tanah lapang pinggir sungai atau pemandian. Setiap suku membawa satu hingga dua limau purut berhias sebagai identitas. Arak-arakan dimulai dari rumah datuak atau masjid besar, diiringi talempong, rabana, silek songsong oleh pandeka silek, dan hulubalang. Gadis Minang mengambil air dari gentong untuk membasuh wajah dan kepala sebagai simbol penyegaran diri.

Di beberapa daerah seperti Pesisir Selatan dan Inderapura yang dikenal dengan sebutan Ptang Balimau prosesi berlangsung lebih meriah, bahkan melibatkan pusaka kerajaan. Tradisi makan bajamba kadang turut digelar di pelataran masjid agung, seperti di Inderapura yang telah berlangsung sejak 1517. Semua duduk bersila dalam semangat “duduk sama randah, tagak samo tinggi”, menegaskan kesetaraan dan persaudaraan.

Setelah mandi bersama di sungai atau pantai, masyarakat menutup ritual dengan doa dan pesta rakyat sederhana. Balimau bukan sekadar seremoni, melainkan sarana mempererat silaturahmi, memperkuat harmoni nagari, serta mencegah tradisi berubah menjadi sekadar tontonan wisata tanpa ruh spiritual.

Dugderan dan Warak Ngendog

Di Semarang, tradisi Dugderan telah berlangsung sejak 1881 pada masa Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat. Tradisi ini juga tidak lepas dari peran ulama besar Semarang, Kyai Saleh Darat, yang bersama bupati menghadirkan perayaan bernilai estetis dan religius untuk masyarakat.

Nama “Dugderan” berasal dari bunyi “dug” bedug dipukul 17 kali dan “der” dentuman meriam tujuh kali disertai petasan sebagai tanda datangnya Ramadhan. Perayaan ini digelar satu hingga dua minggu sebelum puasa di berbagai kawasan seperti Masjid Kauman, dan Pasar Johar, disertai pasar malam, kirab budaya, serta pengumuman resmi awal puasa oleh bupati dan imam.

Ikon utama Dugderan adalah Warak Ngendog, makhluk mitologis yang menjadi simbol akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa. Kepala naga merepresentasikan budaya Tionghoa, melambangkan kekuatan dan kemakmuran. Tubuh menyerupai kambing mencerminkan budaya Arab-Islam, menggambarkan kesucian dan pengorbanan. Unsur Jawa menyatu dalam struktur keseluruhan bentuknya. Warna merah melambangkan keberanian, kuning kemegahan, dan hijau harapan semuanya memperkuat pesan keberagaman dan semangat kebersamaan.

Kata “ngendog” atau bertelur menyiratkan pengendalian hawa nafsu serta pergantian sifat buruk menjadi perilaku terpuji. Telur yang dibawa Warak melambangkan pahala dan kenikmatan akhirat bagi umat Muslim yang taat selama Ramadhan. Ia juga menjadi pengingat agar masyarakat menjaga kerukunan dan tidak bertengkar.

Secara semiotik, Warak Ngendog berfungsi sebagai media dakwah. Ia mengajak masyarakat untuk taat beragama, menjauhi maksiat, serta merawat identitas multikultural dalam semangat gotong royong. Di tengah sejarah krisis pangan masa lalu, simbol ini juga membawa harapan akan rezeki dan kesejahteraan yang dibagi secara adil.

Megengan, Balimau, dan Dugderan menunjukkan bahwa Ramadhan di Indonesia bukan hanya ritual ibadah personal, tetapi juga momentum yang memperkuat solidaritas sosial. Dari ziarah leluhur di Ponorogo, mandi suci di sungai Minangkabau, hingga kirab Warak Ngendog di Semarang, semuanya berakar pada satu semangat yang sama yaitu membersihkan diri, mempererat persaudaraan, dan menyambut bulan suci dengan hati yang lapang.

Tradisi-tradisi ini menjadi warisan berharga yang merawat harmoni antara adat dan agama, sekaligus memperkaya wajah Islam Nusantara yang ramah, inklusif, dan penuh kebersamaan. [UN]