22 Januari 1901: Wafatnya Ratu Victoria dan Berakhirnya Era Victoria

Kerumunan orang memadati jalanan untuk menyaksikan iring-iringan jenazah Ratu Victoria pada Februari 1901. (Foto oleh Hulton Archive/Getty Images)

Tanggal 22 Januari 1901 menjadi penanda runtuhnya sebuah era panjang dalam sejarah Britania Raya. Pada hari itu, Ratu Victoria wafat di usia 81 tahun, mengakhiri masa pemerintahannya yang hampir mencapai 64 tahun. Kepergiannya sekaligus menutup Era Victoria, sebuah periode yang membentuk wajah Inggris modern, dari kekuatan imperium hingga perubahan sosial yang mendalam.

Menjelang akhir hayatnya, kondisi Ratu Victoria jauh dari gambaran seorang penguasa perkasa. Memasuki pergantian abad ke-20, kesehatannya terus merosot. Nafsu makannya yang dahulu dikenal rakus menghilang, berat badannya menyusut hampir setengahnya, dan tubuhnya kian rapuh hingga harus terkurung di kursi roda. Penglihatannya nyaris hilang, ingatannya kerap kabur, dan kebingungan datang silih berganti.

Meski demikian, hampir tak seorang pun di sekitarnya benar-benar siap menerima kenyataan bahwa wanita kecil yang telah duduk di atas takhta selama lebih dari enam dekade itu akan segera pergi. Anak-anaknya menyangkal, pemerintah tak siap, dan publik sama sekali tidak diberi gambaran tentang betapa genting kondisinya.

Pandangan Ratu Victoria sendiri terhadap masa depan diliputi kesuraman. Dalam sebuah ungkapan yang dikutip dari History Extra, ia berkata, “Tahun baru telah dimulai, saya merasa sangat lemah dan tidak sehat, sehingga saya memulainya dengan sedih.” Kalimat itu menjadi semacam firasat akan akhir yang kian mendekat.

Dua puluh dua hari setelah tahun baru dimulai, pada Selasa sore, 22 Januari 1901, suasana di Osborne House, kediaman Ratu di Isle of Wight, berubah drastis. Tak lama setelah pukul 18.30, Inspektur Fraser memerintahkan polisi rumah tangga mengepung kawasan tersebut. Semua kabel telepon dan telegraf digantung, setiap pelayan dan kurir dilarang keluar. Beberapa menit kemudian, sebuah pengumuman kecil ditempelkan di papan pengumuman dekat gerbang, tempat kerumunan besar telah menunggu dengan gelisah.

“Osborne House, 22 Januari, pukul 18.45.
Yang Mulia Ratu menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 18.30, dikelilingi oleh anak-anak dan cucu-cucunya.”

Dengan pengumuman singkat itu, berita wafatnya Ratu Victoria menyebar ke seluruh dunia. Kabar tersebut mengejutkan bangsa Inggris. Kekacauan dan kebingungan pun segera menyusul, sebab hampir tak ada seorang pun yang masih hidup yang benar-benar mengingat bagaimana tata cara menguburkan seorang raja atau ratu. Apalagi, Victoria meninggalkan permintaan yang tidak biasa: sebuah pemakaman kenegaraan militer penuh.

Jalan menuju kematian sang ratu diwarnai ketegangan dan penyangkalan. Kondisi kesehatannya memburuk dengan cepat dan mengejutkan keluarga kerajaan. Anak-anaknya bertengkar, para dokter berbeda pendapat, sementara publik sengaja disesatkan dengan informasi yang minim dan bertentangan.

Sir James Reid, dokter pribadi Ratu selama lebih dari 20 tahun, sebenarnya telah menyadari bahwa akhir hayat Victoria sudah dekat. Namun, ia kesulitan meyakinkan keluarga kerajaan, bahkan ketika sang ratu kerap terombang-ambing antara delirium dan kesadaran penuh.

Putri Helena dan Putri Beatrice, dua putri yang paling setia mendampingi ibunya, menolak menerima kenyataan bahwa ajal benar-benar mengintai. Mereka berusaha mempertahankan rutinitas seolah semuanya masih normal. Pangeran Wales enggan membatalkan perjalanan akhir pekannya ke pedesaan. Adipati Connaught justru berada dalam perjalanan ke Berlin untuk merayakan 200 tahun monarki Prusia. Anggota keluarga kerajaan lainnya bahkan masih sempat menikmati pertunjukan Little Nell di West End London.

Dalam keputusasaan, Sir James Reid mengambil langkah berani dengan diam-diam mengirim telegram kepada cucu ratu, Kaisar Wilhelm II dari Jerman. Begitu menerima kabar itu, sang kaisar segera membatalkan perayaan, meninggalkan Berlin bersama Adipati Connaught, dan berlayar menuju Inggris. Tindakan ini memicu kekacauan dalam keluarga kerajaan yang sedang berselisih dan memaksa mereka mengumumkan penyakit Ratu kepada publik. Pengumuman mendadak tersebut benar-benar mengejutkan bangsa. Media dipenuhi judul-judul yang saling bertentangan, mulai dari “Ratu Tidak Sadar, Kondisinya Memburuk” hingga “Ratu Pulih: Sudah Makan dan Tidur. Resmi”.

Ratu Victoria sendiri tampak enggan menerima kematiannya. Dalam salah satu percakapan terakhirnya, ia bertanya kepada Sir James, “Apakah saya sudah lebih baik? Saya ingin hidup sedikit lebih lama, karena masih ada beberapa hal yang perlu saya selesaikan.” Dengan lembut, sang dokter meyakinkannya bahwa kondisinya membaik, seolah keyakinan itu dapat menahan ajal. Di sisi lain, Pangeran Wales dan saudara-saudarinya yang dijuluki “para rok” berupaya mencegah Kaisar Wilhelm mencapai Osborne.

Situasi berubah drastis sejak 17 Januari, ketika Ratu Victoria mengalami serangkaian stroke. Seluruh keluarga kerajaan segera dipanggil ke Isle of Wight. Pemerintahan pun praktis lumpuh karena sang ratu tak lagi mampu menjalankan tugas konstitusionalnya. Wacana tentang pemerintahan sementara mulai beredar. Osborne House yang sudah sesak oleh tamu dibanjiri telegram dan panggilan telepon penuh kecemasan, sementara para jurnalis berkumpul dengan antusias di luar gerbang.

Di kamar tidurnya yang kecil, keluarga berkumpul ketika kondisi sang ratu kian melemah. Uskup Winchester dan Rektor Gereja St. Mildred melantunkan doa dan himne. Kaisar Wilhelm duduk tak bergerak di sisi kiri ranjang selama lebih dari dua jam, menopang tubuh neneknya dengan satu-satunya lengan yang masih berfungsi.

Sir James Reid duduk di sisi kanan, menggenggam tangannya. Ratu, yang masih sadar namun tak lagi dapat melihat, berulang kali mengeluh, “Sir James, saya sangat sakit,” dan setiap kali pula dijawab dengan kalimat penghiburan yang sama.

Saat ruangan dipenuhi isak tangis bercampur doa, satu per satu putra, putri, dan cucu dipanggil untuk mencium tangan sang ratu dan mengucapkan selamat tinggal. Setelah semuanya berakhir, polisi segera mengepung Osborne House untuk mencegah kebocoran berita sebelum Raja baru, Edward VII, menyelesaikan formalitasnya.

Berita wafatnya ratu menyebar dengan kecepatan luar biasa. Kereta kuda berpacu kencang, sepeda meluncur menuruni bukit, dan para pria berlarian sambil berteriak, “Ratu meninggal.” Dalam waktu satu jam, London Evening News menerbitkan edisi khusus berbingkai hitam. Pertunjukan teater terhenti, penonton berhamburan ke jalan, dan lonceng Great Tom di Katedral St. Paul berdentang ke seluruh penjuru London.

Di seluruh negeri, orang-orang berkumpul dalam kelompok kecil menyanyikan God Save the Queen. Menjelang pukul delapan malam, jendela-jendela toko ditutup kain hitam sebagai tanda berkabung. Di toko serba ada Whiteleys, antrean panjang terbentuk oleh warga yang membeli pakaian berkabung.

Sementara itu, kepanikan melanda istana dan pemerintah. Semua preseden dianggap usang setelah 64 tahun tanpa pergantian takhta. Reginald Brett, Viscount Esher, menulis dengan getir tentang ketidaktahuan para pejabat terhadap prosedur monarki, seolah-olah Inggris belum pernah menguburkan raja sejak zaman Alfred.

Kekacauan bertambah ketika wasiat pemakaman Ratu Victoria dibuka. Ia menolak tradisi lama pemakaman kerajaan yang bersifat privat dan gelap. Sebaliknya, ia meminta pemakaman kenegaraan militer penuh, tanpa pembalseman, tanpa persemayaman, tanpa busana hitam. Ia menginginkan warna putih dan ungu, kuda-kuda putih, kereta meriam, serta pemakaman di luar Westminster Abbey dan Kapel St. George—yang pertama sejak masa George I.

Sebelas hari kemudian, pada 2 Februari 1901, pemakaman Ratu Victoria menjadi peristiwa besar Eropa. Para bangsawan dan kepala negara dari seluruh benua berkumpul, menjadikannya salah satu pertemuan ningrat terbesar di masanya. Upacara dilaksanakan sesuai wasiat yang telah disusun sejak 1897. Victoria ingin dimakamkan sebagai “putri seorang tentara”.

Ia dibaringkan dalam gaun putih dan kerudung pernikahannya. Di sisi jenazah diletakkan kenang-kenangan dari keluarga, sahabat, dan pembantu terdekat. Pakaian mendiang suaminya, Pangeran Albert, turut dimasukkan ke dalam peti, bersama potongan rambut dan foto John Brown, pembantu dekatnya. Ia juga berwasiat agar Abdul Karim, munshi muslim asal India yang mengajarinya bahasa Urdu dan Hindi serta budaya India, berada di antara pelayat utama.

Prosesi pemakaman berlangsung tak lazim. Peti jenazah diangkut dengan kapal MY Alberta dari Cowes ke Gosport, diiringi kapal-kapal perang dan tembakan meriam kehormatan. Setelah disemayamkan semalam di atas kapal, jenazah dibawa ke London dengan kereta api, lalu ke Windsor menggunakan kereta kayu yang ditarik delapan kuda putih. Di Windsor, kuda-kuda sempat panik hingga kekang rusak, dan seorang anggota angkatan laut mengikat kereta dengan tambang agar prosesi tetap berjalan.

Ribuan orang menyaksikan dalam keheningan saat peti jenazah tiba di Kapel St. George, Windsor Castle. Setelah dua hari persemayaman, Ratu Victoria akhirnya dimakamkan di samping Pangeran Albert di Frogmore Mausoleum, Windsor Great Park, di hadapan Raja Edward VII, keluarga kerajaan, dan para pemimpin Eropa.

Dengan kepergian Ratu Victoria, bukan hanya seorang ratu yang wafat, melainkan sebuah zaman panjang yang telah membentuk sejarah Inggris dan dunia pun resmi berakhir. [UN]