Allah Yang Maha Esa memperkenalkan diri-Nya pertama-tama bukan sebagai Tuhan Penghukum, melainkan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hampir seluruh aktivitas keagamaan Muslim bahkan dibuka dengan “Bismillahirrahmanirrahim”.

Artinya, tauhid sejati seharusnya melahirkan orientasi hidup yang memantulkan sifat rahmah itu ke bumi. Di sinilah letak hubungan Tauhid Rahmatiyah dengan etos kerja dan pembangunan peradaban.

Jika Allah yang disembah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, maka orang bertauhid tidak boleh hidup sebagai beban sosial, sumber kerusakan, penyebar kebencian, atau penonton kemiskinan.

Ia harus menjadi saluran rahmat Tuhan dalam kehidupan: bekerja, memproduksi, menolong, membangun ilmu, mengembangkan ekonomi, menciptakan teknologi, dan menghadirkan kemaslahatan.

Dengan begitu, pengesaan Allah tidak berhenti di sajadah dan mimbar, tetapi menjelma menjadi energi sosial yang menggerakkan dunia. Di tangan Hamim, tauhid seperti itu bukan sekadar doktrin langit, melainkan mesin peradaban.

Tauhid Rahmatiyah adalah usaha besar mengembalikan tauhid kepada tujuan pewahyuan Islam sendiri: rahmatan lil ‘alamin.

Bahwa ukuran keberhasilan tauhid bukan hanya seberapa tepat rumusan akidah seseorang, tetapi apakah tauhid itu melahirkan rahmat sosial.

Apakah manusia hidup lebih sejahtera. Apakah ilmu berkembang. Apakah ekonomi tumbuh. Apakah masyarakat damai. Apakah agama menjadi cahaya, bukan ancaman.

Di tangan Hamim, tauhid turun dari langit metafisika menuju jalan raya kehidupan.

Tauhid tidak cukup hanya dibela. Tauhid harus bekerja. Dan di sinilah seluruh proyek intelektual Hamim bertemu.

Itu mencakup Tafsir. Fikih. Ekonomi. Modernitas. Teknologi. Kalender Hijriah Global Tunggal. Semua menuju satu titik: menghadirkan rahmat Allah dalam kehidupan nyata.

Karena itu ia tidak terlalu tertarik terjebak dalam polemik teologi klasik yang sering membuat umat Islam seperti grup alumni yang ribut soal warna seragam reuni sementara gedung sekolahnya sendiri hampir roboh.

Ia justru bicara soal produksi. Soal industri. Soal AI. Soal ekonomi umat. Soal umat Islam yang terlalu lama menjadi konsumen modernitas.

Ia pernah mengingatkan dengan nada getir: umat Islam hidup di zaman modern, tetapi belum menjadi umat modern.

Kalimat itu seperti tamparan intelektual. Kita memakai teknologi orang lain. Naik kendaraan buatan orang lain. Menggunakan platform digital orang lain. Bahkan marah-marah soal Barat pun memakai aplikasi buatan Silicon Valley.

Karena itu Hamim berbicara tentang “jihad produksi”. Produksi ilmu. Produksi teknologi. Produksi informasi. Produksi ekonomi. Bukan sekadar produksi ceramah.

Dan gagasan itu tidak berhenti di pidato. Ia menjadi arah kebijakan besar Majelis Tarjih di bawah kepemimpinannya.

Dua proyek monumentalnya adalah Tafsir At-Tanwir dan serial Fikih Akbar.

Tafsir At-Tanwir bukan proyek kecil. Ini proyek raksasa Muhammadiyah untuk menghadirkan tafsir resmi 30 juz yang disusun berjamaah oleh puluhan pemikir lintas disiplin. Target penyelesaiannya pada 2027, bertepatan dengan satu abad Majelis Tarjih menurut kalender Masehi.

Hamim menjadi salah satu arsitek utama proyek ini. Ia merancang tafsir itu dengan empat etos besar: etos ibadah, etos ilmu pengetahuan, etos ekonomi, dan etos sosial.

Ia ingin Tafsir At-Tanwir bukan sekadar kitab penjelasan ayat, tetapi motor kebangkitan peradaban Islam modern.

Dan kalau proyek itu selesai utuh, Muhammadiyah sesungguhnya sedang melahirkan sesuatu yang sangat besar: sebuah karya tafsir kolektif modern yang bisa menjadi tonggak sejarah pemikiran Islam Indonesia.