Periode 1995–2000 ia menjadi Sekretaris Divisi Jurnal dan Publikasi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Periode 2000–2005 menjadi Ketua Divisi Publikasi dan Dokumentasi. Periode 2005–2010 dan 2010–2015 menjadi Wakil Ketua bidang Tafsir.
Dan pada Muktamar Muhammadiyah 2022 ia dipercaya menjadi Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah untuk periode 2022–2027.
Tiga puluh tahun lebih ia berada di jantung laboratorium ijtihad Muhammadiyah. Kalau Muhammadiyah punya “dapur nuklir pemikiran”, maka Majelis Tarjih adalah salah satu reaktornya. Dan Hamim termasuk ilmuwan senior di dalamnya.
Tetapi legacy terbesar Hamim bukan jabatan. Legacy terbesarnya adalah usaha besar menggeser orientasi keberagamaan Islam: dari sekadar “benar diperdebatkan” menjadi “bermanfaat diwujudkan.”
Dan semua itu bertemu dalam satu konsep monumental: Tauhid Rahmatiyah.
Selama ini umat Islam mengenal pembagian tauhid seperti Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat. Dunia Islam penuh ceramah tentang itu. Mimbar panas oleh itu. Buku berjilid-jilid ditulis tentang itu.
Tetapi Hamim seperti merasa ada sesuatu yang hilang. Mana rahmatnya? Maka ia pun memperkenalkan orientasi baru: Tauhid Rahmatiyah.
Ini bukan sekadar istilah seminar agar terdengar intelektual seperti judul webinar yang pesertanya lebih banyak panitia daripada audiens. Bukan.
Tauhid Rahmatiyah yang digagas Hamim sesungguhnya berangkat dari akar bahasa yang sangat tua sekaligus sangat Qurani: “ra-hi-ma” — “yarhamu” — “rahmah”. Dari akar kata itulah lahir nama Allah: Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Maka bagi Hamim, pengesaan Allah bukan sekadar pengakuan bahwa Tuhan itu satu, tetapi juga pengakuan bahwa pusat dari ketuhanan itu sendiri adalah rahmat.



