Cerita itu terdengar sederhana, tetapi dari sanalah tampak bahwa Hamim tumbuh bukan dari kemewahan teoritis, melainkan dari realitas rakyat biasa.

Ia menempuh pendidikan di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lulus S1 Tafsir Hadis tahun 1987. Menyelesaikan S2 Akidah dan Filsafat tahun 1996. Dan meraih doktor Islamic Studies tahun 2002.

Sepanjang hidup akademiknya ia mengajar di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia bukan sekadar dosen yang mengejar angka kredit sambil menumpuk map seminar seperti kolektor kuitansi ilmiah. Ia benar-benar hidup dalam dunia pemikiran Islam.

Menariknya, Hamim bukan lahir dari keluarga Muhammadiyah ideologis. Ia justru masuk Muhammadiyah melalui pencarian intelektual dan kegelisahan sosial.

Ketika muda ia melihat organisasi-organisasi mahasiswa sibuk bertengkar seperti peserta audisi sinetron perebutan warisan. Tetapi IMM tampak lebih teduh.

Dan lebih penting lagi: Muhammadiyah baginya terlihat nyata. Ada rumah sakit. Ada BKIA. Ada sekolah. Ada amal usaha.

Agama ternyata bisa bekerja, pikirnya. Dari situlah ia seperti menemukan satu keyakinan yang kelak menjadi inti seluruh hidupnya:

“Islam harus berkontribusi mewujudkan kebaikan yang nyata.” Kalimat itu tampak sederhana. Tetapi sebenarnya itulah fondasi seluruh arsitektur pemikiran Hamim Ilyas.

Kariernya di Majelis Tarjih dimulai dari PWM DIY tahun 1990. Lalu pada Munas Tarjih Aceh 1995 ia masuk tim asistensi dan sejak itulah mulai bergabung di level pusat.