MENURUT PENELITI dari IPB, Puji Rianti, ada perbedaan genetik sangat besar di antara orangutan tapanuli, orangutan kalimantan, dan orangutan Sumatera. Perbedaan genetik ketiganya lebih gamblang ketimbang perbedaan antara gorila dataran tinggi dan dataran rendah serta simpanse dengan bonobo di Afrika. Orangutan tapanuli diduga merupakan keturunan langsung dari nenek moyang orangutan yang bermigrasi dari dataran Asia pada masa Pleistosen, lebih dari 3,4 juta tahun silam.

Kata Rianti, seperti termuat dalam siaran pers Kementerian Komunikasi dan Informatika,  “Perbedaan lain dari segi morfologi. Ukuran tengkorak dan tulang rahangnya lebih kecil dibandingkan dengan kedua spesies lainnya. Rambut di seluruh tubuh orangutan tapanuli juga lebih tebal dan keriting.”

Orangutan tapanuli juga memiliki karakter panggilan jarak jauh (cara jantan sebarkan informasi) yang berbeda. Juga jenis pakannya unik, berupa buah-buahan yang hanya ada di Ekosistem Batang Toru.

Hewan ini pun sangat lambat dalam berkembang biak, dengan jarak melahirkan 8 tahun  sampai 9 tahun. Rata-rata, orangutan tapanuli memiliki anak pertama pada usia 15 tahun dan mampu hidup sampai usia 50 tahun sampai 60 tahun.

Direncanakan, Kementerian LHK akan mengusulkan pemasukan orangutan tapanuli ini ke dalam daftar spesies “sangat terancam punah”, berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dari pendataan yang dilakukan pada tahun 2016, jumlah populasi orangutan tapanuli diperkirakan hanya tersisa 800-an individu, yang tersebar di tiga lokasi terfragmentasi dalam Ekosistem Batang Toru. Populasinya terpecah ke dalam dua kawasan utama (blok barat dan timur), terpisah oleh lembah patahan Sumatera, dan juga ada populasi kecil di Cagar Alam Sibual-buali di sebelah tenggara blok barat. Sekarang ini, kawasan Ekosistem Batang Toru merupakan habitat terakhir bagi orangutan tapanuli dengan jumlah individu terpadat.

“Terdapat tekanan antropogenik yang kuat terhadap keberadaan populasi orangutan tapanuli karena konversi hutan dan perkembangan lainnya,” ungkap Puji Rianti. Perlu ada tindakan mendesak untuk meninjau ulang usulan-usulan pengembangan daerah di wilayah ini, lanjutnya, sehingga ekosistem alami tetap terjaga demi keberlangsungan hidup orangutan tapanuli di masa depan.

Sebelumnya, National Geographic Indonesia pernah mebuat laporan bahwa tim mereka pernah mencoba membuntuti orangutan spesies baru itu pada tahun 2008. Lalu, pada tahun 2014, tim National Geographic juga menjelajahi Batang Toru dan berhasil mendapatkan visual orangutan jantan sedang duduk di tajuk pohon, yang kemudian hasilnya di tayangkan dalam edisi Desember 2016.

Menemukan orangutan dalam luas yang lebat bukanlah perkara yang mudah. Karena, orangutan dikenal sebagai individu yang pemalu. Bahkan, menurut ilmuwan hutan dan konservasi, Erik Meijaard, sebagaimana dikutip dari situs AustraliaPlus, menemukan orangutan ini di pedalaman adalah hal yang tidak mungkin berhasil. Erik menceritakan, dirinya akhirnya mengandalkan informasi dan catatan penjelajah Belanda pada awal tahun 1900-an untuk melakukan pencarian “rumah” mereka di hutan.

Erik melakukan perjalanan ke Sumatera setelah melakukan pencarian dan pemetaan orangutan di Kalimantan. Di Sumatera, ia menemukan catatan penjelajahan orang belanda itu, yang menyebutkan secara berulang adanya populasi orangutan di daerah Tapanuli, jauh di selatan habitat orangutan sumatera. Erik pun mencari ke Tapanuli.

Namun, Erik tak menemukan satu pun orangutan di sana, meski menemukan sarangnya. Sarang itulah yang menjadi awal perjalanan Erik untuk menemukan dan mempelajari orangutan tapanuli. Baru setelah 20 tahun kemudian, ekspedisi di hutan terpencil Batang Toru membuahkan hasil.

Menteri LHK Siti Nurbaya sudah melaporkan penemuan spesies kera besar terbaru itu kepada Presiden Joko Widodo. Dikatakan Siti, orangutan tapanuli baru ditemukan kembali pada akhir tahun 1990-an. Sebelum masa itu, peneliti menganggap populasi orangutan sumatera di alam bebas hanya tersebar di wilayah utara dari Danau Toba. [RAF]