PADA pagi tanggal 15 Oktober 1917 sebuah kendaraan milik militer Prancis bertolak dari Penjara Saint-Lazare di Paris, didalamnya ada biarawati dan pengacara, serta seorang perempuan yang mengenakan jubah panjang dan topi lebar.

Perempuan tersebut adalah Mata Hari. Kendaraan yang bertolak dari penjara Saint-Lazare pada 15 Oktober 1917 itu membawanya kepada regu tembak. Kejahatannya antara lain adalah menjadi agen mata-mata Jerman serta mengorek-ngorek informasi rahasia dari para perwira Sekutu yang menidurinya dan meneruskan informasi itu kepada atasannya. Namun bukti-bukti yang diperlihatkan saat pengadilan, bertambah dengan beberapa dokumen lainnya, yang menunjukkan bahwa ia adalah agen ganda.

Petunjuk yang Menjadi Titik Terang

100 tahun lebih setelah kematian Mata Hari, muncul petunjuk yang dapat menjelaskan keterlibatannya dalam Perang Dunia I. Titik terang itu datang dari berbagai dokumen yang dirilis Kementerian Pertahanan Prancis, termasuk transkrip interogasi Mata Hari oleh dinas anti spionase Prancis pada 1917.

Ada pula surat-surat telegram yang dikirimkan atase militer Jerman di Madrid ke Berlin yang berujung pada penangkapan Mata Hari di sebuah hotel di Champs-Elysees, Paris. Belakangan surat-surat tersebut menjadi bukti kunci dalam persidangannya.

Beberapa dokumen itu kini dipamerkan di Museum Fries, Leeuwarden, Belanda. kampung halaman Mata Hari.

Mata Hari

Lahir dengan nama Margarethe Zelle pada 1876, Mata Hari mengalami kehidupan luar biasa sekaligus tragis. Setelah menikah dengan perwira Belanda keturunan Skotlandia, Kapten Rudolf Macleod, Zelle hijrah ke Malang, Jawa Timur, pada 1897 yang saat itu masih menjadi daerah kekuasaan Hindia Belanda.

Pernikahan itu berakhir dengan perceraian. Selanjutnya ia bertolak ke Paris dan menamai dirinya dengan sebutan Mata Hari sebagai nama panggung untuk pertunjukan tari erotis.

“Jika saja ia tidak menjadi mata-mata, Mata Hari akan dikenang sampai sekarang atas apa yang dia lakukan di kota-kota besar Eropa pada awal abad lalu,” kata Hans Groeneweg, kurator Museum Fries. “Ia menciptakan striptis sebagai bentuk tarian. Kami memamerkan bukti-bukti pertunjukannya dan ada tumpukan kliping surat kabar beserta foto-foto. Saat itu dia merupakan selebritis sosialita,” tambah Groeneweg.

Namun yang menyedihkan adalah, cerita mengenai Mata Hari didominasi oleh kiprahnya dalam dunia spionase sebagai mata-mata. Selama bertahun-tahun banyak sejarawan membelanya. Bahkan beberapa di antara mereka menilai ia dikorbankan karena Prancis memerlukan mata-mata untuk menjelaskan tentang kegagalan dalam perang kepada khalayak.

Bagi kaum feminis, Mata Hari menjadi kambing hitam yang sempurna karena ‘moralnya yang buruk’ yang akan membuat dirinya mudah dicap sebagai musuh Prancis.

Benarkah Mata Hari Hanya Korban?

Mata Hari kembali ke Prancis melalui Spanyol pada 1916 setelah singgah sebentar di London untuk diinterogasi dinas intelijen Inggris, MI6.

Di Madrid, ia menjalin kontak dengan Arnold von Kalle, atase militer Jerman. Belakangan Mata Hari mengaku aksinya ini ditempuh untuk memenuhi janjinya kepada intelijen Prancis, bahwa ia akan menggunakan jaringan perwira Jerman yang ia kenal sebelum perang demi membantu Sekutu.

Namun, telegram yang dikirim Kalle ke atasannya di Berlin yang membongkar identitas agen H21 alias Mata Hari. Dalam surat telegram itu, Kalle membeberkan alamat rumah, rekening bank, hingga nama pembantu setianya. Siapapun yang membacanya tak akan ragu bahwa agen H21 adalah Mata Hari. Terjemahan resmi surat telegram yang didapat ,oleh dinas intelijen Prancis itu kini dapat disaksikan publik di Museum Fries, Leeuwarden, Belanda. Namun justru hal inilah yang membuat kalangan sejarawan sangsi pada tudingan terhadap Mata Hari.

Intelijen Prancis, menurut beberapa sejarawan, sudah lama mampu memecahkan kode di dalam telegram tersebut. Jerman pun tahu intelijen Prancis sudah bisa memecahkannya. Toh, Kalle tetap mengirimkannya ke Berlin. Dengan kata lain, Kalle ingin intelijen Prancis membacanya.

Jadi, asumsi ini berpendapat bahwa Jermanlah yang menuntun Prancis untuk menangkap dan mengeksekusi agennya sendiri. Asumsi lain menilai Prancis yang menciptakan dokumen itu untuk mengkambinghitamkan Mata Hari dan memuaskan publik. Pasalnya, mengapa hanya ada terjemahan resmi? Di mana telegram aslinya?

Kedua teori itu sama-sama berpandangan bahwa Mata Hari hanyalah korban, sedangkan keinginan Jerman atau Prancis adalah agar ia dilenyapkan.

Saat-saat Terakhir

Selama bertahun-tahun, rincian interogasi Mata Hari oleh jaksa Pierre Bouchardon tidak bisa diakses para sejarawan. Namun, berkat dokumen yang dirilis Kementerian Pertahanan Prancis, asumsi mengenai Mata Hari bisa dipatahkan.

Berdasarkan transkrip interogasi pada Juni 1917, Margarethe Zelle memutuskan untuk mengakui perbuatannya. Ia mengaku kepada jaksa bahwa ia telah direkrut Jerman sebagai mata-mata pada 1915 di Den Haag, Belanda. Keputusannya itu dilatarbelakangi keputusasaan untuk bisa kembali ke Paris pada awal perang.

Karl Kroemer, konsulat Jerman di Amsterdam, menyanggupi mengirimnya ke Paris, asalkan dia bisa menyediakan informasi secara berkala. Sejak saat itulah Agen H21 diciptakan.

Mata Hari berkeras bahwa dirinya hanya ingin mengambil uang yang ditawarkan kepadanya kemudian lari. Ia mengklaim bahwa kesetiaannya ada pada Sekutu, sebagaimana dia tunjukkan saat berjanji membantu intelijen Prancis.
Pengakuan tersebut malah membawanya ke Chateau de Vincennes di pinggiran timur Kota Paris. Mata Hari dituntun ke sebuah tiang di tanah lapang dengan satu tangan terikat. Lalu 12 serdadu mengarahkan senjata api ke tubuhnya.

Beberapa laporan menyebut bahwa dia menolak matanya ditutup. Bahkan kabarnya ia sempat melambaikan tangan ke pengacaranya. Sesaat setelah suara letupan senapan terdengar Mata Hari pun jatuh dengan lutut menyentuh tanah lebih dahulu. Kemudian seorang perwira mendekati sambil menenteng pistol dan menembak sekali di bagian kepalanya.

Sesudah eksekusi, tidak ada seorang pun yang mengambil jasad Mata Hari. Karena itu kemudian jenazah dibawa ke fakultas kedokteran di Paris untuk digunakan sebagai bahan mata kuliah. Kepalanya kemudian diawetkan di Museum Anatomi. Namun, ketika dilakukan inventaris 20 tahun lalu, ternyata organ tubuh itu sudah tidak ada.

Siapa kah Margaretha Zelle?

Margaretha Zelle dilahirkan di Leeuwarden, Friesland, Belanda, anak tertua dari pasangan Adam Zelle (2 Oktober 1840 – 13 Maret 1910), pemilik toko topi, dan Antje van der Meulen (21 April 1842 – 9 Mei 1891). Ia memiliki 3 saudara laki-laki. Ayahnya berhasil melakukan investasi yang sukses dalam bidang perminyakan dan dapat memberikan Margaretha masa kanak-kanak yang mewah, termasuk sekolah eksklusif sampai usia 13.

Ada kabar burung bahwa Mata Hari mempunyai sebagian darah Jawa, yaitu orang Indonesia keturunan, namun para sarjana telah menyimpulkan bahwa ia tidak memiliki keturunan Asia atau Timur Tengah dan kedua orang tuanya adalah orang Belanda.

Segera setelah ayah Margaretha bangkrut pada tahun 1889, orangtuanya bercerai, dan kemudian ibunya meninggal pada tahun 1891. Ayahnya menikah kembali di Amsterdam pada 9 Februari 1893 dengan Susana Catharina ten Hoove (11 Maret 1844 – 1 Desember 1913). Akhirnya, Margaretha memutuskan untuk pindah dan hidup bersama walinya, Mr. Visser, di Sneek, Leiden. Di sana, ia belajar untuk menjadi guru taman kanak-kanak, tetapi ketika kepala sekolah mulai menggodanya dengan menyentuhnya, ia dikeluarkan dari taman kanak-kanak oleh ayah baptisnya yang tersinggung.

Ia pernah ditinggal mati anak laki-lakinya akibat keracunan, dan bercerai tahun 1906 dari suaminya, seorang angkatan laut Belanda yang usianya terpaut 20 tahun lebih tua darinya. Sebelumnya ia dan suaminya pernah tinggal di Jawa dan Sumatra antara 1897-1902.

Sebelum terjun di dunia spionase, wanita yang memiliki kode rahasia H21 ini mengawali karirnya sebagai penari erotis di Paris. Berbekal keahlian erotic temple dances yang dipelajari di India dan daya pikatnya yang tinggi, dia menjadi terkenal di mana-mana. Tak heran bila kemudian tawaran menari banyak berdatangan dari kota kota besar di Eropa bahkan Mesir. Kondisi inilah yang kemudian menyeretnya dalam dunia spionase. Saat menjadi stripper di Berlin, Agen rahasia Jerman merekrutnya.

Mata Hari kemudian sering berkelana baik antar kota maupun antar negeri. karena terkenal sering bepergian, maka dia tidak punya kesulitan untuk menyusup, termasuk dalam masa Perang Dunia I. Di banyak tempat dia melakukan affair dengan banyak orang penting, juga ditawari sebagai mata-mata Prancis dengan honor 1 juta Frank pada saat itu.

MI5 mulai curiga dengan aktivitas yang dilakukan oleh Mata Hari. Agen Rahasia Inggris itu lalu mengintrogasinya. Namun mereka tidak bisa memaksa Mata Hari untuk membuka mulut, walaupun interogasi dilakukan berulang kali, tetapi hasilnya tetap nihil. Sampai akhirnya Agen Rahasia Prancis berhasil menangkap dan menginterogasinya saat dia akan menyeberangi Prancis untuk mengunjungi salah satu kekasihnya. Agen Rahasia Prancis menangkap Mata Hari karena diyakini ia adalah “The Greatest Woman Spy” yang harus bertanggung jawab atas kematian beribu-ribu tentara akibat informasi yang diberikannya.

Mata Hari, perempuan yang menyingkap tabir misteri negeri Timur pada masyarakat Paris, akhirnya melangkah di dua sisi: Jerman dan Prancis. Hingga pada waktunya aksi tersebut terungkap. Pada 24 Juli 1917, ia berdiri di hadapan pengadilan tertutup militer.

Hanya dalam waktu singkat, perempuan dengan pesona luar biasa ini dinyatakan bersalah melakukan kegiatan mata-mata terhadap Prancis dan dijatuhi hukuman mati. Ia dieksekusi pada 15 Oktober 1917 di hadapan regu tembak.

Tewas dalam usia 41 tahun. Meski demikian, kasusnya tidak redup. Banyak kontroversi yang menyatakan bahwa sebenarnya ia tidak bersalah. [KY]