Yang Tampak Sederhana Kemungkinan Hoax, Jangan Terkecoh

Yang Tampak Sederhana Kemungkinan Hoax, Jangan Terkecoh

65
BERBAGI

Koran Sulindo – Omong kosong atau kebohongan yang dibuat seolah berita berdasarkan fakta mewabah di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Omong kosong tersebar lebih cepat dari yang bisa Anda tangkal,” kata David Mikkelson, salah satu pendiri situs anti-hoax, Snopes, sebagaimana dikutip BBC Indonesia

Besarannya jumlah pengunjung Snopes bisa menjadi indikasi betapa produksi hoax yang berlimpah sudah meresahkan banyak orang. Pengunjung Snopes pada Oktober tahun lalu meningkat hampir dua kali lipat, yakni mencapai 13,6 juta pengunjung per bulan. Disinyalir, para pengunjung itu umumnya berusaha mencari informasi atau berupaya memahami peristiwa yang terjadi menjelang pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Situs BBC Indonesia pun memberikan enam strategi agar pengguna internet tidak terkelabui oleh hoax. Berikut strateginya.

Jangan Gampang Terpana oleh Hal-Hal Sederhana

Banyak studi menunjukkan, ternyata sangat mudah menyembunyikan suatu kebohongan dalam sampul kredibilitas, dengan menjadikan kebohongan itu terdengar sangat jelas sehingga akan meyakinkan sebagai sesuatu yang pasti benar. Intinya: ‘kelancaran kognitif’, yakni memformulasikan ide yang mudah diproses.

Caranya bisa sekadar mencetak suatu berita dengan jenis huruf yang gampang dibaca. Bukankah, kita juga cenderung percaya kepada seseorang jika mereka terasa akrab (umpamanya kerap muncul di televisi) walau mereka jelas-jelas kurang ahli untuk hal yang mereka katakan. Agar tak terkecoh, pertanyakanlah sumber informasinya dan lihat apa yang sebenarnya mereka sampaikan di balik presentasi yang ciamik.

Mengenali Gambar Rekayasa

Gambar pun bisa meningkatkan kelancaran kognitif suatu berita. Namun, dengan peranti lunak seperti Photoshop, gambar kini dapat dengan mudah direkayasa; dan mungkin Anda tidak menyadari betapa muslihat ini dapat memanipulasi ingatan Anda tentang sejarah.

Laman berita Slate pernah membuat eksperimen: menunjukkan gambar beberapa peristiwa politik. Yang sebagiannya palsu. Ketika para pembaca ditanya setelah melihat gambar itu, hampir separo dari mereka menyatakan mengingat peristiwa palsu tersebut benar-benar terjadi. Ini merupakan salah satu metoda sugesti halus yang bisa memberikan kredibilitas atas suatu kebohongan. Agar tidak terbohongi, berupayalah mencari beragam sumber informasi dan jangan hanya mengandalkan bukti yang ada di depan mata.

Rendah Hati

Tak sedikti orang yang masuk perangkap hoax karena terlampau percaya diri, yakin, tahu lebih banyak dari orang biasa. Masalah menjadi buruk dengan adanya telepon seluler cerdas, yang dapat mengakses pengetahuan tak terbatas. Jadinya, orang seperti itu kurang kritis terhadap informasi yang mendukung asumsinya dan menolak apa pun yang tak sejalan dengan asumsinya.

Lihat Juga yang Ada di Luar “Gelembung” Anda

Jurnalis saintis Zaria Gorvett pernah menceritakan tentang “polarisasi kelompok”: orang secara alamiah berkumpul dengan orang yang berpandangan sama dengan mereka, baik dalam lingkungan fisik maupun virtual. Karena itu, cobalah berbicara dengan orang dengan pandangan berbeda dari Anda dan bacalah sumber berita yang biasanya tidak Anda baca. Mungkin Anda akan terkejut karena menemukan informasi yang mempertanyakan fakta yang Anda terima begitu saja. Jadilah orang yang selalu ingin tahu

Menurut psikolog Tom Stafford, kita bisa mendapatkan manfaat dengan menjadi lebih ingin tahu. Kendati pendidikan tidak banyak berperan dalam mencegah cara berpikir yang terpolarisasi, orang dengan rasa keingintahuan besar tampaknya mempertimbangkan bukti saintifik secara lebih berimbang.

Bisa juga Anda memanfaatkan strategi yang ditemukan di sebuah laporan riset psikologi klasik. Untuk riset yang dilakukan Charles Lord dan sejawatnya, mereka meminta partisipan untuk membaca artikel tentang hukuman mati. Instruksinya: “Tanyakan kepada diri Anda di setiap tahap, apakah Anda akan memberi penilaian sama jika studi yang persis sama memberikan kesimpulan yang mendukung sisi lain dari masalah ini.”

Jika partisipan disodori riset yang menunjukkan hukuman mati menurunkan angka pembunuhan, mereka diminta menganalisis metodologi studi tersebut dan membayangkan hasil yang sebaliknya. Teknik ini ternyata mengurangi bias konfirmasi—kecenderungan mengabaikan bukti yang tidak sesuai dengan keyakinan awal—para partisipan, sembari membuat mereka lebih kritis terhadap bukti yang mendukung asumsi mereka. Hasilnya: mereka dapat membuat pendapat yang lebih seimbang. [PUR]