Sekali Lagi: Bung Karno dan Islam

Sekali Lagi: Bung Karno dan Islam

152
BERBAGI

Koran Sulindo – Dari mana Bung Karno pertama kali mempelajari ajaran agama Islam? Dalam buku otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Putra sang Fajar mengatakan, “Kakekku menanamkan pada diriku kebudayaan Jawa dan mistik. Dari Bapak datang teosofi dan Islamisme. Dari Ibu, Hinduisme dan Buddhisme.”

Pengetahuannya tentang Islam bertambah ketika tinggal di rumah Hadji Omar said Tjokroaminoto, sewaktu sekolah di HBS Surabaya. “Aku juga seorang yang takut kepada Tuhan dan cinta kepada Tuhan, sifat yang melekat padaku sejak lahir. Aku tak pernah mendapat didikan agama yang teratur karena Bapak tidak mendalaminya. Aku menemukan sendiri agama Islam pada usia 15 tahun, ketika aku mengikuti keluarga Pak Tjokro, masuk satu organisasi agama dan sosial bernama Muhammadiyah. Gedung pertemuannya terletak di seberang rumah kami di Gang Peneleh. Sekali sebulan, dari pukul delapan sampai tengah malam, seratus orang berdesak-desakan mendengarkan pelajaran agama dan ini disusul dengan tanya-jawab,” tutur Bung Karno dalam  buku yang sama.

Ketika berkuliah di Bandung, tahun 1920-an, ia juga mengaku semakin dekat dengan Tuhan karena beratnya beban hidupnya, terutama karena masalah keluarga dan ditangkapnya Tjokroaminoto oleh Belanda pada tahun 1921 . “Aku banyak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam. Bahkan selagi aku melangkah ragu pada awal jalan yang menuju kepada ketuhanan, aku tidak melihat Yang Maha Kuasa sebagai Tuhan seseorang. Menurut jalan pikiranku, kemerdekaan bagi kemanusiaan meliputi juga kemerdekaan beragama,” katanya.

Tahun 1930, Bung Karno ditangkap pemerintah kolonial Belanda karena dituduh ingin melakukan makar. Pengadilan memutuskan hukuman penjaran selama empat tahun. Bung Karno lalu dijebloskan ke Penjara Banceuy, lalu dipindahkan ke Penjara Sukamiskin dengan masa hukuman 4 tahun.

Di dalam penjara, ia banyak membaca buku keagamaan dan merenung. “Aku menemukan Islam dengan sungguh-sungguh dan benar. Di dalam penjaralah aku menjadi penganut Islam yang sebenarnya,” tuturnya.

Empat tahun kemudian, tahun 1934, Bung Karno dibuang ke Ende, Flores. “Di Ende yang terpencil dan membosankan itu aku memiliki banyak waktu untuk berpikir. Di depan rumahku tumbuh sebatang pohon kluwih. Berjam-jam lamanya aku duduk bersandar pada pohon itu, memanjatkan harapan dan keinginan. Di bawah dahan-dahannya aku berdoa dan berpikir, mengenai suatu hari… suatu hari…. Itu adalah perasaan yang sama yang menguasai MacArthur di kemudian hari. Dengan setiap sel saraf berdenyut dalam seluruh tubuhku, aku merasakan bahwa bagaimanapun juga—di mana saja—kapan saja—aku akan kembali. Hanya semangat patriotisme yang menyala-nyala itu yang masih berkobar di dalam dadaku, yang membuat aku terus hidup,” kata Bung Karno, sebagai diungkapkan dalam otobiografinya.

Pada masa inilah, Bung Karno berkorespondensi dengan pendiri Persatuan Islam, A. Hassan. Pembicaraan keduanya banyak berkisar soal agama Islam. Selain itu, Bung Karno juga lebih banyak merenung. “Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila,” ungkap Bung Karno.bkquran

Dari Ende, Bung Karno dibuang ke Bengkulu pada tahun 1938. Di sini, kembali ia mendapat ilmu agama Islam, karena berinteraksi dengan penggiat Muhammadiyah. Bahkan, Bung Karno juga menjadi guru di sekolah Muhammadiyah.

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud M.D., Bung Karno adalah tokoh yang sangat agamis. Bung Karno bukanlah tokoh yang sangat sekuler dan tidak peduli kepada agama. Demikian disampaikan Mahfud pada buku Bung Karno Menerjemahkan Al-Quran yang ditulis oleh Wakil Bupati Trenggalek-Jawa Timur, Mochamad Nur Arifin.

Diungkapkan Arifin dalam bukunya, dari berbagai adegan sejarah hidupnya jelas terlihat betapa islamisnya Bung Karno. Ada banyak peristiwa dan tindakan Bung Karno yang menunjukkan ia sosok yang sangat menekankan aspek religiositas. Dalam diri Bung Karno, antara nasionalisme dan religiositas menyatu tanpa sekat. Ia sosok yang melampaui (beyond) dikotomi keduanya. Bung Karno figur yang nasionalis sekaligus religius.

Dijelaskan pula, pemikiran Bung Karno tentang keislaman dan keindonesiaan merupakan hasil pembacaan-nya terhadap ayat-ayat Alquran, antara lain “tafsir” Bung Karno atas surat al-Hujurat. Dalam pandangan Bung Karno, ijtihad adalah apinya Islam. Api Islam bisa terus terjaga selama spirit energi ijtihad tetap dijaga. Bila pintu ijtihad ditutup hilanglah progresivitas dan kedinamisan Islam.

Umat Islam, menurut Bung Karno, bisa mengejar kemajuan saintifik dan teknologi jika tafsir atas ayat-ayat Al-Quran dihidupkan dengan spirit ijtihad. Apalagi, Alquran mencakup semua disiplin ilmu. Karena itu, sangat disayangkan jika ilmu-ilmu yang ada di dalamnya tak bisa ditemukan oleh para penafsir Alquran. Agar menemukan peta jalannya, menurut Bung Karno, para penafsir harus menggunakan spirit ijtihad.