Saatnya Indonesia Jihad Kedaulatan Pangan

Saatnya Indonesia Jihad Kedaulatan Pangan

20
BERBAGI
Ilustrasi/bayer.co.id

Koran Sulindo – Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) bertekad untuk berkontribusi guna mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia. Kedaulatan pangan adalah hak negara dan bangsa secara mandiri dalam  menentukan kebijakan pangan, sehingga  dapat menjamin hak atas pangan bagi rakyat dan memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal.

Hal ini ditegaskan Dekan Fapet UGM Prof. Dr. Ali Agus saat berbuka puasa dengan para wartawan di Kampus Fapet UGM, Rabu (7/6). “Sudah saatnya Indonesia mulai melakukan upaya yang sungguh-sungguh atau jihad penegakan kedaulatan pangan,” ujar Ali Agus.

Menurut Ali Agus,  argumentasinya jelas mengingat Indonesia punya lahan yang sangat subur, ditambah lagi jumlah penduduk yang sangat banyak sebagai salah satu kekuatan Indonesia menghadapi daya saing global saat ini.

Ditambahkan Ketua Senat Fapet UGM Prof. Dr. Zaenal Bachruddin,  upaya mewujudkan kedaulatan pangan secara nasional diperlukan sinergisitas beberapa komponen bangsa, antara lain akademisi, masyarakat termasuk pengusaha dan pemerintah. “Sinergisitas dan mau berbagi antar mereka merupakan suatu keniscayaan,” tuturnya.

Dikatakan, hal penting dalam mendukung keberhasilan pengembangan peternakan nasional adalah kesepakatan para pelaku untuk menggunakan data yang akurat dan disepakati. Misalnya data populasi ternak dengan melihat keragamannya, data peternak, data ketersediaan lahan, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, dalam mewujudkan kedaulatan pangan juga harus dilakukan dengan penciptaan dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di sektor peternakan. Sebagai contoh, saat ini hampir 60 – 70% peternakan kecil secara nasional hanya memiliki luas lahan peternakan sekitar rata-rata 0,25 – 0,5 hektare (ha) dan jumlah kepemilikian sapi 2-4 ekor unit ternak untuk setiap peternak.

Seharusnya, menurut Zaenal, skala peternakan kecil perlu diberikan akses untuk memanfaatkan lahan peternakan minimal 1 ha dan sebanyak 10 ekor unit ternak sapi untuk setiap peternak. Dengan demikian, terjadi peningkatan kesejahteraan peternak secara signifikan di seluruh Indonesia.

“Apalagi kemudian, para peternak kecil itu diberikan pendampingan intensif dan edukatif, sehingga diharapkan bahkan suatu keharusan bahwa peternak dapat terhimpun pada sebuah bentuk kelembagaan yang sehat sehingga daya saing meningkat, pada akhirnya para peternak dapat juga menghasilkan produk-produk unggulan dan sehat,” papar Zaenal.

Fapet juga membuka “Bengkel Ternak”. Bengkel ini bertujuan membantu masyarakat khususnya peternak yang mengalami masalah pada nutrisi hewan.

“Bengkel ternak ini dibuat dengan tujuan akhir mengasilkan protein hewani berkualitas untuk masyarakat,” ujar Ali Agus.

Hingga kini Bengkel Ternak yang baru dibuka 6 bulan lalu sudah menangani lebih dari 50 anakan sapi dari berbagai wilayah.

“Hewan-hewan tersebut kami beri suplemen, mineral, konsentrat dan pakan nabati hingga akhirnya hewan tersebut memiliki kualitas jauh baik daripada ketika datang,” kata Ali Agus. [YUK]