Radikalisme Agama Disebut Sulit Berkembang di Indonesia

Radikalisme Agama Disebut Sulit Berkembang di Indonesia

32
BERBAGI
Azyumardi Azra, mantan Rektor UIN Jakarta [Foto: UIN Jakarta]

Koran Sulindo – Radikalisme agama disebut sulit berkembang di Indonesia. Pasalnya, organisasi Islam besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan Al Irsyad mampu menjaga harmonisasi kehidupan di Indonesia.

Karena itu, kata guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Azyumardi Azra, peristiwa di Tunisia dan Mesir sulit terjadi di Indonesia. Selain karena jumlah populasi, Islam disebut menjadi faktor utama demokrasi bisa diterima atau tidak di Indonesia.

“Berbeda dengan di Tunisia, semburan radikalisme dengan cepat meledak,” kata Azyumardi yang dikutip dari laman resmi UNI Jakarta ketika memberi sambutan dalam “Konferensi Internasional Southeast Asian Islam, Religious Radicalism, Democracy and Global Trends” yang digelar dari 8 hingga 10 Agustus 2017.

Azyumardi menuturkan, demokrasi tanpa penerimaan umat Islam, maka akan sulit tumbuh. Atau dengan kata lain, tanpa dukungan umat Islam, transisi dan konsolidasi demokrasi menjadi sulit terlaksana.

Ia akan tetapi menyoroti iklim demokrasi Indonesia yang lebih baik dari Tunisia dan Mesir, namun pertumbuhan ekonominya berjalan cukup lambat. Keadaan ini disebut berbanding terbalik dengan Tiongkok dan Singapura. Di kedua negara ini iklim demokrasi tidak lebih baik dari Indonesia, tapi pertumbuhan ekonominya jauh lebih baik dibanding Indonesia.

Sementara itu, Imtiyaz Yusuf dari Uhidol University, Thailand mengatakan, perguruan tinggi yang berbasis mengkaji Islam sebaiknya lebih terbuka dengan mengkaji agama-agama lain terutama untuk mahasiswa pasca-sarjana. Ini menjadi penting untuk meningkatkan pemahaman sarjana, peneliti dan pengajar Islam tentang bahasa, kebudayaan dan agama-agama yang di dunia, terutama di Asia.

“Itu dibutuhkan untuk membangun hubungan antar-masyarakat agama yang dialogis,” katanya.

Acara ini akan diikuti 80 peneliti dari 13 negara. Acara ini akan digear dari 8 hingga 10 Agustus besok. Akan ada 23 panel terpisah. Setiap panelis akan membahas ancaman dan bahaya radikalisme agama di Asia Tenggara.

Menanggapi acara ini, Direktur PPIM UIN Jakarta Saiful Umam menuturkan, isu radikalisme agama harus direspons dengan lebih serius. Keberadaan ini menjadi bukti bahwa para peneliti dan akademisi dari luar negeri punya perhatian terhadap Indonesia. Mereka ingin memberikan kontribusi untuk masa depan yang labih baik. [KRG]