Pilkada Jakarta dan Pasang Naik Nasionalis

Pilkada Jakarta dan Pasang Naik Nasionalis

Kemenangan Ahok-Djarot di Pilkada Jakarta menunjukkan pasang naik kubu nasionalis dan kebhinnekaan di tengah deraan politisasi agama. Namun pertarungan terus berlanjut dan masih akan panjang.

50
BERBAGI
Ilustrasi: Ahok-Djarot dalam Pesta Rakyat di Kemayoran Jakarta/@pickritik

Koran Sulindo -Sisi–sisi dermaga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, akhir Januari lalu dipenuhi warga. Mereka, kebanyakan ibu-ibu, berbaris berhadapan seolah sedang menunggu pengantin datang.

Yang ditunggu akhirnya baru tiba lebih berpuluh menit dari jadwal awal. Siang bolong yang terik itu pengantin yang pernah berpidato di pulau itu 4 bulan sebelumnya itu, dan kelak membuatnya didakwa menista agama, datang dengan wajah cerah dan penuh senyum. Basuki Tjahaya Purnama langsung dikalungi rangkaian bunga anggrek dan alunan musik  marawis segera berbunyi hingga nanti berhenti, ketika Ahok kembali ke kapal dan melanjutkan kampanyenya dalam rangkaian Pilkada DKI Jakarta 2017 hari itu.

Dalam video yang diunggah Nong Darol Mahmadah di Facebook, terlihat Ahok disambut marawis sepanjang durasi film 11 menit itu. Tak henti-henti kerumunan tua muda laki wanita itu meneriakkan nama Ahok. “Ahok! Ahok! Nomor 2! Nomor 2!’ sambil melambaikan salam 2 jari beringsut mengelililingi pulau kecil melewati jalanan padat manusia itu.

Sepanjang video Ahok tak terlihat berbicara. Mungkin tertelan suara warga. Ia hanya tersenyum dan terus tersenyum di balik kacamata hitamnya.

Hasil penghitungan riil (real count) Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 17 Februari malam, 2 hari setelah pencoblosan, pasangan nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat memperoleh suara tertinggi: 2.357.587 suara (42,91 persen). Karena tak mencapai 50 persen lebih suara, sesuai tuntutan UU, maka Pilkada akan berelanjut ke putaran kedua. Ahok-Djarot akan bertarung lagi melawan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang meraih 2.200.636 suara (40,05 persen).

Toleransi dan Kebhinnekaan Menang

Di hadapan ratusan pendukung dan relawan yang berkumpul di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, malam setelah hari pencoblosan, Ahok meminta semua tetap semangat mendukung.

“Pertama-tama, kita pantas bersyukur atas hasil yang sudah kita capai. Perjuangan belum selesai,” kata Ahok.

Pidato pendek itu menjadi simbol orang yang selama sekitar 5 bulan sebelumnya bertarung melawan fitnah dan agama yang dipolitisasi akhirnya memenangkan pertarungan, unggul suara di urutan nomor satu pada Pilkada mungkin yang paling brutal dalam sejarah Indonesia sejak reformasi 1998 itu.

Sekaligus simbol pada titik terakhir, kaum nasionalis masih harus dihitung sebagai kekuatan utama perpolitikan Indonesia, karena telah memenangkan pertarungan berdarah-darah dalam setengah tahun terakhir itu.

Pada 2012, Ahok memang sudah bertarung di medan yang sama, tapi saat itu hanya sebagai orang kedua, mendampingi Joko Widodo. Ketika Jokowi pada 2014 memenangkan kursi presiden, Ahok otomatis naik menjadi orang nomor satu di ibukota. Sejak itu mulailah kampanye hitam menyerang gubernur yang beragama kristen dan keturunan Cina itu, terutama dengan penggunaan agama Islam sebagai senjata.

Menurut majalah Economist (edisi 18 Februari 2017) gairah mendukung Ahok yang terus mengalami pasang naik ini, selain menunjukkan tetap berkibarnya kaum nasionalis, juga memberi kode bahwa kelompok-kelompok penekan Islam masih akan menjadi lawan utama dalam beberapa tahun ke depan, terutama memuncak pada Pemilihan Presiden pada 2019 nanti.

Pertarungan Berlanjut

Masa-masa pascapilkada hari-hari ini muncul kecemasan akan makin banyak aksi kekerasan dan konflik horisontal mengatasnamakan agama. Paling tidak Polri dan TNI selalu mewartakan kekhawatiran itu dan menyiapkan  hampir 30 ribu pasukan siaga selama dan setelah pilkada berlangsung.

Demonstrasi dengan bumbu-bumbu Islam kemarin telah menarik kerumunan besar dari daerah-daerah di luar Jakarta, dan diduga akan terus dirawat demi putaran kedua nanti.

Jajak pendapat Indikator Politik Indonesia, menyatakan kontroversi penistaan agama yang dimulai tahun lalu secara signifikan merusak elektabilitas Ahok. Survei terbaru menemukan bahwa 57 persen responden berpendapat Ahok menghujat agama. Sementara hanya 27 persen responden yang tidak setuju dengan tuduhan bahwa Ahok telah menista agama, sementara 15-16 persen sisanya menyatakan tidak tahu.

Jajak pendapat Charta Politika menunjukkan bahwa 39 persen responden mengatakan mereka akan memilih Ahok dan pasangannya Djarot Saiful Hidayat, sementara  Anies yang didukung oleh mantan presiden Prabowo Subianto mendapat dukungan 31,9 persen.

Jajak pendapat menunjukkan dalam putaran kedua, Ahok bakal menghadapi hadangan hebat. Kemungkinan suara yang tak memilih Ahok pada putaran pertama, akan beralih memberikan suaranya kepada Anies. Mantan menteri pendidikan yang didukung oleh partai oposisi utama itu, diam-diam mengeruk keuntungan merebut hati pemilih Muslim yang tidak senang dengan Ahok yang dituding menista agama Islam.

Tim Anies, seperti dikutip Reuters, mengakui Anies mendekati para pemilih Muslim, di wilayah gusuran yang marah akibat penggusuran paksa oleh Ahok. Anies memainkan isu agama dengan harapan memenangkan suara, meskipun para analis memperingatkan bahwa taktik yang diambil  Anies ini berisiko mengipasi intoleransi yang lebih besar.

“Dengan Ahok yang bisa dibilang menggalang suara pluralis, tim kampanye Anies dan pendukung politiknya jelas berfokus pada suara Muslim pada saat identitas ini telah menjadi semakin terpolarisasi dan dipolitisasi, “kata Ian Wilson, dosen di Universitas Murdoch, Australia.

Nampaknya pertarungan masih akan keras dan mungkin lebih brutal daripada putaran pertama lalu. Kaum nasionalis, toleran, dan menjunjung kebhinnekaan walau sudah menang setengah langkah, belum boleh lengah. [Didit Sidarta]