Peristiwa Garut, Pembantaian Petani di Hari Jumat

Peristiwa Garut, Pembantaian Petani di Hari Jumat

Seolah belum puas dengan pembantaian itu, mereka meninggal dipenggal kepalanya, sedangkan yang terluka diangkut ke Garut untuk diobati di rumah sakit agar segera bisa dihukum.

Suasana keramaian di Garut, sekitar tahun 1930an. (Judul foto Racedag te Garoet, Tahun ca. 1930, Sumber KITLV)

Korang Sulindo – Kegelisahan rakyat inilah yang belakangan menjadi pangkal ‘Peristiwa Cimareme’ menyusul penolakan Haji Hasan untuk taat pada aturan.

Ketika Wedana Leles dan Lurah Cikendal bertamu ke rumahnya, ia dengan tegas menolak uang muka pembayaran 40 pikul gabah yang mestinya dijual kepada pemerintah.

Penolakan tersebut terang saja memicu kemarahan Wedana Leles. Ia bahkan bertindak kasar dan mengancam bakal mendatangkan hamba wet dan marsose untuk menyita sawah Haji Hasan.

Meski geram dengan tingkah tengil pejabat itu, Haji Hasan menahan diri. Tanggal 24 April 1919 ia mengirim surat kepada asisten residen agar menimbang kembali ketetapannya menjual 40 pikul gabah.

Dalam surat itu, Haji Hasan juga mempertanyakan apakah ancaman penyitaan sawah oleh Wedana Leles merupakan kebijakan resmi pemerintah.

Belakangan diketahui, usul itu baru dibawa Bupati Garut kepada Asisten Residen dalam rapat tangal 10 Mei. Tanpa ditimbang, usul itu ditolak mentah-mentah dan Wedana Leles diperintahkan untuk menyampaikan putusan itu. Namun, karena takut Wedana Leles menyimpan putusan itu dikantongnya tanpa memberitahu Haji Hasan.

Hari berlalu tanpa kabar, Haji Hasan berinisiatif mengutus menantunya, H Kadir untuk menghadap Lurah Cikendal dan Wedana Leles. Kedua orang ini justru marah-marah ketika ditemui. Haji Hasan lantas mengirim menantunya yang lain yakni H. Maksuri menghadap Asisten Residen di Garut menanyakan permohonannya itu. Sayang, ia pulang dengan tangan hampa karena Asisten Residen sedang pergi.

Tanggal 25 Juni 1919, Wedana Leles menulis surat kepada Bupati Garut yang pada pokoknya menyebut Haji Hasan ngotot tak menjual gabahnya pada pemerintah. Ia juga menyebut Haji Hasan sedang membangun kekuatan untuk melawan pemerintah.

Surat serupa kembali dikirim Wedana Leles kepada kepada Asisten Residen tanggal 2 Juli. Dalam surat itu ia bahkan menyarankan Haji Hasan ditindak dengan kekerasan karena berbuat kurang ajar. Sehari berikutnya, Asisten Residen meneken surat penangkapan Haji Hasan dan meminta bantuan polisi bersenjata dari Tasikmalaya.

Memperjelas masalah, Haji Hasan kembali berkirim surat kepada Asisten Residen pada tanggal 4 Juli 1919. Isi suratnya kurang lebih sama dengan surat pertama, termasuk pernyataan hormat dan ketakutannya pada pejabat pemerintah.

Tentu saja Haji Hasan tak benar-benar takut, ia diam-diam justru mempersiapkan diri menghadapi pemerintah. Orang-orang kepercayaannya dikumpulkan dan dibekali jimat kebal serta senjata tajam. Mereka juga menerima jatah enam meter kain blacu yang harus dikenakan sebagai baju menyerupai jubah. Kain itu dimaksudkan jika seseorang tewas, ia sudah langsung dikafani.

Dikawal 20 polisi bersenjata, pada hari yang sama Asisten Residen datang ke Cimareme diiringi Bupati dan kontrolir. Kedatangan mereka, memicu orang berduyun-duyun datang ke rumah Haji Hasan untuk melihat apa yang akan terjadi.

Berhadapan dengan para pejabat kolonial, Haji Hasan menanyakan beberapa hal termasuk penjualan gabah dan ancaman penyitaan tanah oleh Wedana Leles. Kepada Haji Hasan, Asisten Residen membantah ancaman itu sebagai sikap resmi pemerintah dan sekaligus memecat Wedana Leles. Selebihnya, ia tetap menolak permohonan Haji Hasan soal pembelian beras.

Di sisi lain, kedatangan Asisten Residen ke Cimareme pada hari Jumat membuatnya merasa terkepung oleh banyak orang karena kebetulan mereka baru selesai shalat Jumat. Belum lagi, di antara mereka beberapa bersenjata. Sebelum akhirnya tergopoh-gopoh meninggalkan Cimareme, Asisten Residen memberi tenggat tiga hari kepada Haji Hasan untuk berpikir.

Pembantaian

Tiga hari adalah waktu cukup untuk membuat suasana yang sudah tegang itu makin mendidih. Pemimpin lokal Sarekat Islam memerintahkan anggota ‘Afdeling B’ dari Ciamis dan Tasikmalaya berkumpul di Cimareme untuk menyiapkan perang sabil. Kegelisahan serupa segera menyebar ke -daerah sekitar seperti Leles, Tarogong, Wanareja dan Nangkapait.

Khawatir dengan perkembangan yang terjadi, Asisten Residen meminta tambahan 40 tentara dari Cimahi yang dikirim ke Garut tanggal 6 Juli 1919. Pasukan juga diperkuat dengan 30 polisi bersenjata dari Tasikmalaya. Tepat di hari dijanjikan rombongan itu sudah tiba di Cimareme.

Sampai di tujuan, Patih memerintahkan Haji Hasan keluar rumah. Ketika permintaan itu dituruti, ia diiringi sekitar 13 orang pengikutnya. Selain itu, di halaman berjaga sedikitnya 40 orang lelaki berpakaian blacu dengan senjata tajam tersandang.

Kepada Haji Hasan, Patih dengan nada rendah meminta agar Haji Hasan ikut ke Garut untuk membahas masalah dengan baik-baik. Dengan suara tak kalah rendah, Haji Hasan menjawab “Saya dan juga semuanya yang ada disini tidak akan tunduk pada perintah itu. Bukankan tuan Wedana pernah mengatakan bahwa kami akan dikepung serdadu seluas dua pal!”.

Ketika Kepala Penghulu bertanya apa yang sebenarnya dikehendaki, serentak orang-orang di halaman mengatakan mereka menggelar perang sabil.

Di tengah pembicaraan itu, rombongan Residen Priangan tiba. Ia diiringi Asisten Residen Garut, Bupati Garut dan Mayor Van der Bie dengan 40 orang pasukannya. Mereka langsung memasuki halaman rumah. Pada saat yang sama, di rumah Haji Hasan telah berkumpul 1.000 hingga 1.500 penduduk desa yang penasaran.

Mencegah marabahaya, para serdadu dan polisi itu mengatur diri menjadi dua bagian. Separo menghadap rumah Haji Hasan, separo lainnya menghadap ke arah kerumunan.

Mengambil alih perundingan dari patih, Bupati meminta Haji Hasan ikut ke Garut membicarakan pembelian padi dengan tenang. Sadar ajakan itu hanya akal bulus, Haji Hasan tak memperdulikannya. Ia masuk ke dalam rumah diikuti keluarga dan pengikutnya.

Dari dalam rumah mereka segera menutup pintu dan jendela lalu mengumandangkan zikir. Berkali-kali seruan Bupati tak direspon orang-orang di dalam rumah. Sejam menunggu, hanya sekali Haji Hasan keluar rumah. Itupun hanya untuk melontarkan makian kepada Belanda. Gaung zikir justru makin kuat dilantunkan.

Gagal mendapat respon dan tak tahu lagi harus menggunakan cara apa menangkap Haji Hasan, Residen akhirnya menyetujui penangkapan dengan kekerasan termasuk penggunaan senjata.

Ketika salvo tembakan peringatan pertama yang diarahkan ke atas rumah meledak, suara zikir dari dalam rumah bukannya diam, justru makin keras. Juga tembakan peringatan kedua. Baru pada salvo ketiga dengan moncong senapan yang diarahkan ke dalam rumah, suara zikir berhenti. Sunyi.

Pintu, dinding, jendela, pagar, segera hancur dan porak poranda diterjang ratusan pelor Kesunyian baru pecah ketika lamat-lamat suara tangis kesakitan wanita dan anak-anak terdengar.

Bak telah memenangkan perang akbar, Residen Priangan langsung memerintahkan pasukannya mendobrak pintu dan mendapati Haji Hasan dan keluarganya termasuk di antara mereka yang meninggal.

Seolah belum puas dengan pembantaian itu, mereka meninggal dipenggal kepalanya sebagai peringatan. Mereka yang terluka segera diangkut ke Garut untuk diobati di rumah sakit agar bisa segera dihukum.[Teguh Nugroho]

Baca juga: Haji Hasan: Akhir Hidup di Ujung Bedil Marsose