Peringati Kudatuli, PDIP Gelar Wayangan

Peringati Kudatuli, PDIP Gelar Wayangan

42
BERBAGI
Ilustrasi/CHA

Koran Sulindo – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menggelar Wayang Kulit memperingati Kerusuhan 27 Juli 1996 atau disebut Kudatuli. Wayangan berlakon Abimanyu Ramjam itu menampilkan Ki Dalang Kondang Warseno Slank dan digelar dipelataran Kantor DPP PDI Perjuangan di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (28/7) malam.

Kisah Abimanyu Ramjam menceritakan sosok muda yang juga panglima perang Pandawa dengan gagah berani berujung melawan keangkaramurkaan Kurawa dalam Perang Baratayudha.

Sebelum pergelaran Politikus senior yang juga Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo secara simbolis menyerahkan wayang Abimanyu kepada dalang. Turut hadir Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDI Perjuangan Nusyirwan Soedjono.

“Lakon ini sangat cocok dalam konteks Tragedi 27 Juli. Sebagai Senopati Pandawa, Abimanyu dengan gagah berani berjuang dan tak menghiraukan keselamatan nyawanya ,” ujar Tjahjo Kumolo.

Tjahjo menjelaskan, sosok Abimanyu bisa menjadi inspirasi perjuangan bagi generasi muda. Konsistensi Abimanyu tak diragukan dalam membela kebenaran dan keberaniannya untuk membawa harum negaranya. Walau perjuangan Abimanyu dipenuhi intrik dan tipu muslihat oleh Kurawa yakni Sengkuni dan Dorna.

“Dan apa yang diperankan Abimanyu sebagai panglima telah mampu membangkitkan suasana pembelaan, sehingga ada kebangkitan dari Arjuna dan juga totalitas Batara Kresna dalam upayanya membela kebenaran,” terangnya.

Selain inspiratif dari sisi keberanian dan konsistensi pemuda dalam perjuangan, lakon ini juga menggambarkan bagaimana dedikasi yang harus diberikan dalam membela kebenaran dan membela tanah air.

“Artinya, pemuda sebagai generasi penerus perlu mendedikasikan diri dan loyalitas dalam berproses apapun. Baik dalam tata kelola pemerintahan, kepartaian itu untuk eksis diperlukan anak muda seperti Abimanyu,” ujarnya.

Ia melanjutkan, dalam konteks Tragedi 27 Juli, ada kesamaan dari sisi semangat dan keberanian anak muda saat itu dalam menyuarakan kebenaran.

Akhir lakon Abimanyu Ranjam, imbuh Tjahjo, adalah lahirnya raja besar bernama Parikesit di Kerajaan Hastinapura. Raja tersohor itu dikenal kepemimpinannya yang adil sehingga rakyatnya sejahtera. [CHA]